14 Tahun Tsunami Aceh

Tragedi Minggu Kelabu; Manusia tak Berdaya, Mayat-mayat Bergelimpangan, Semuanya Pasrah

Suasana panik, hiruk-pikuk, kegalauan, dan kegamangan masyarakat saat itu tak ada yang memandu, tak ada yang menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Penulis: Ansari Hasyim | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/BEDU SAINI
Suasana Simpang Lima Banda Aceh saat diterjang tsunami Minggu 26 Desember 2004. 

MINGGU, 26 Desember 2004, sama seperti biasanya masyarakat Aceh melakukan aktivitas. Tak pernah terbayang akan terjadi prahara, bencana, tidak ada firasat buruk, dan tidak pula ada tanda-tanda akan mengalami hal yang luar biasa.

Para nelayan melaut seperti biasanya, pedagang membuka dagangannya, pengemudi
roda transportasi, aktivitas pasar disibukkan oleh transaksi jual beli, lari pagi dan jalan santai berlangsung pula sebagaimana tradisi. Para pegawai bersama keluarga dan anak-anak memadati pantai pantai rekreasi.

Bahkan para muda mudi sudah berada di pantai sejak malam minggu dengan aktivitas yang bernuansa hiburan. Ini merupakan kebiasaan masyarakat kota yang mendiami pesisir Aceh. Anak-anak yang libur sekolah karena hari Minggu juga melakukan
berbagai kegiatan hiburan dan olahraga, ada yang bermain di rumah, dan ada tidur-tiduran sambil menonton siaran televisi.

Para istri dan ibu-ibu rumah tangga melakukan rutinitasnya; ada yang sedang bersantai sambil menonton televisi. Masyarakat lain sibuk pula dengan berbagai kegiatan dan kesibukan masing-masing seperti hari-hari sebelumnya. Ketika jarum jam menunjuk angka 07.58 WIB, ketenangan dan rutinitas tadi mulai terusik. Rumah, toko, gedung, pepohonan, dan "lat batat kayee batee" bergoyang keras. Goyangan itu cukup dahsyat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Aceh. Saat itu, badan manusia limbung, terjerembab ke tanah, dan ada yang harus tengkurap akibat bumi yang bergoyang melebihi goyangan yang pernah terjadi.

Sejurus kemudianbanyak bangunan roboh, bahkan ada yang ditelan bumi. Di beberapa tempat bumi bahkan terbelah, ada yang memancarkan air. Pagi itu, masyarakat terpaku pada gempa tektonik yang menggoyang daratan Aceh dengan kekuatan 9,4 pada
Skala Richter.

Sebagian warga tampak menyelamatkan barang-barang dan harta benda lainnya dari goyangan gempa. Suara meringis dan tangis terdengar di beberapa tempat. Begitu pula kalimat-kalimat "Lailahaillallah" terdengar dari ucapan orang-orang. Ketika itu, ada korban yang terjepit dan ada pula yang tertimbun reruntuhan. Tidak cuma itu, yang selamat pun masih harus bersusah payah
berupaya membantu orang-orang yang terluka, yang terkena musibah.

Para pedagang di banyak pasar berusaha menyelamatkan harta benda yang mulai tertimbun reruntuhan material, bangunan, atau gedung. Jalan-jalan dan lapangan dipenuhi warga yang berupaya menyelamatkan diri dari amukan gempa. Tangis wanita dan anak-anak membuat suasana menjadi kian galau.

Suasana panik, hiruk-pikuk, kegalauan, dan kegamangan masyarakat saat itu tak ada yang memandu, tak ada yang menjelaskan apa yang
sedang dan akan terjadi. Masyarakat pesisir atau mereka yang sedang berekreasi di tepi pantai memiliki pengalaman lain, bahkan terkesan unik.
Beberapa detik setelah gempa terjadi, mendadak air laut surut bagai tersedot ke tengah samudera. Banyak ikan menggelepar.

Warga pesisir dan orang-orang yang berekreasi di hari Minggu itu lalu beramai-ramai menangkapi ikan yang kini kehilangan air. Keriangan tampak pada wajah orang
orang ini. Di sisi lain, ada orang per orang yang menyikapi surutnya air laut itu sebagai suatu peristiwa alam yang di luar kebiasaan, logika mereka menyatakan akan terjadi sesuatu.

Orang-orang tersebut segera bermigrasi meninggalkan pantai tanpa terpikirkan sedikit pun akan terjadi gelombang yang maha dahsyat menghantam daratan. Beberapa saat kemudian, dari kejauhan gelombang tsunami terlihat tengah berlari menggulung mendekati pantai dengan kecepatan tinggi.

Tak ada waktu lagi untuk menjauh, apalagi berlari. Sekejab itu pula terdengar jeritan histeris terdengan kalimat Lailahaillallah, terdengar Allahuakbar. Suara-suara itu membisu untuk selamanya. Mereka ditelan gelombang besar, terombang-ambing, timbul tenggelam, menuju daratan atau terseret arus dengan kecepatan tinggi.
Gelombang tsunami yang perkasa itu terus saja menjalar ke daratan.

Suaranya bergemuruh menabrak apapun yang ada di depan atau menghalangi lajunya. Bangunan yang roboh akibat gempa sebelumnya, dengan mudah dihanyutkan menuju daerah-daerah pesisir dan dataran rendah. Mobil-mobil mengapung dibawa arus, aspal terkelupas, jembatan dan tanggul patah, jaringan listrik
dan sarana komunikasi terputus, rumah-rumah penduduk hancur, dan bangunan-bangunan lain yang berada dipesisir pantai
porak-poranda. Kecepatan air begitu dahsyat sehingga banyak warga yang tak sempat
menyelamatkan diri.

Kecepatan berlari seseorang jauh kalah cepat dibanding lajunya gelombang. Dalam sekejap, tubuh-tubuh manusia dilumat dan digulung sekaligus bersama reruntuhan bangunan. Orang-orang yang berada di dalam rumah, tak sempat lagi
menyelamatkan diri. Apa lagi yang masih terlelap pada pagi Minggu itu.

Hanya sedikit dari mereka yang beruntung dan bisa selamat, itu pun penuh dengan keajaiban-keajaiban dan di luar logika manusia. Mereka yang luput dari maut bermigrasi mencari dan menempati tempat-tempat yang diperkirakan aman dari jangkauan gelombang. Dengan suara gemuruh, bagaikan
seekor naga raksasa lapar, gelombang itu melumat dan merobohkan bangunan
pepohonan, rumah-rumah penduduk, lalu menyeretnya ke darat sejauh 7 km, kemudian
menarik ke laut dengan kekuatan dan kecepatan yang sama hingga 7 kali.

Dalam waktu 7 menit, tidak kurang tiga ratusan ribu orang yang mendiami daerah pantai Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Pidie, dan Aceh Utara, terapung menjadi mayat. Sungguh
di luar dugaan bahwa gelombang itu muncul
dan menghantam daratan Aceh, walaupun mereka pernah mendengar dan meyakini
adanya "ie beuna" saat dunia kiamat. Maka ketika air itu mendarat, mereka berpikir dunia sudah kiamat. Karena itu tidak sedikit orang yang pasrah dengan hanya berucap kalimat Lailahaillallah dan Allahuakbar. Masyarakat internasional pun terkesima karena istilah tsunami yang mereka pelajari dari berbagai literatur tidak sedahsyat yang terjadi di Aceh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved