14 Tahun Tsunami Aceh

Tragedi Minggu Kelabu; Manusia tak Berdaya, Mayat-mayat Bergelimpangan, Semuanya Pasrah

Suasana panik, hiruk-pikuk, kegalauan, dan kegamangan masyarakat saat itu tak ada yang memandu, tak ada yang menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Penulis: Ansari Hasyim | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/BEDU SAINI
Suasana Simpang Lima Banda Aceh saat diterjang tsunami Minggu 26 Desember 2004. 

Para ahli mendeskripsikan tsunami sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Gangguan impulsif ini bisa disebabkan oleh gempa tektonik, erupsi vulkanik atau land-slide
(longsoran). Kata ‘tsunami' sendiri diadopsi dari bahasa Jepang, sebuah negara yang kerap dilanda gelombang ini. Kata tsu' bermakna pelabuhan dan 'nami adalah gelombang. Istilah tsunami belum dikenal oleh masyarakat Aceh, tetapi gejala yang sama pernah dikenal oleh masyarakat kepulauan Simeulu (Samudra
Hindia) dengan istilah seumong.

Masyarakat Simeulu mewarisi tradisi nenek moyang mereka, lari ke tempat yang lebih tinggi tatkala gempa menggoyang bumi, walaupun gelombang tak kunjung menghantam
pemukiman yang mereka diami.
Semoga pada peringatan 14 tahun bencana tsunami Aceh semua kita dapat mengambil pelajaran, agar selalu waspada dan siaga pada bencana.

Hal yang lebih penting adalah senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena dunia ini sudah tua, bencana pun bisa saja terjadi kapan dan dimana pun kita berada. Wallahu A'lam Bishawab.(*)

(Tulisan ini dikutip dari buku "Tsunami dan Kisah Mereka", diterbitkan Badan Arsip Provinsi Aceh tahun 2005)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved