Dari Kaki Singgalang dan Merapi Taufiq Ismail Membangun Rumah Puisi

Taufiq mengaku sudah lama mengimpikan adanya Rumah Puisi. Tapi baru berhasil diwujudkan pada 2008.

Dari Kaki Singgalang dan Merapi Taufiq Ismail Membangun Rumah Puisi
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Di depan rumah orang tua Taufiq Ismail di Pande Sikek. 

Dalam rangka perayaan 10 Tahun Rumah Puisi tahu ini, dihadirkan Deavis Sanggar Matahari bersama Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia, memberikan pelatihan musikalisasi puisi. Diikuti 80 peserta, terdiri dari guru-guru SMA se Sumatera Barat. Tujuannya memberi pemahaman tentang musikalisasi puisi, yang telah masuk dalam kurikulum sekolah menengah. Para guru seni di sekolah, banyak yang belum paham bagaimana musikalisasi puisi itu diciptakan.

"Kami datang memberi pelatihan, guna memberi tambahan wawasan tentang musikalisasi puisi," kata Devie Komala Syahni dari Sanggar Matahari. Ia hadir bersama ke empat saudara kandungnya, Dediesputra, Deni Syahnila Putra, Herie Syahnila Putra, dan Irma Komala Syahni. Kegiatan pelatihan musikalisasi puisi sebelumnya sudah dilakukan di Jakarta, Bogor, Aceh, Sumut, Bekasi dan banyak lagi.

Di tempat itu, Rumah Puisi tak sendiri. Ia ditemani Rumah Budaya Fadli Pon, milik keponakan Taufiq Ismail, Fadli Zon, yang juga sarjana sastra dan politisi ternama. Rumah Budaya menyediakan fasilitas penginapan, museum dan perpustakaan koleksi Fadli Zon.

Rumah Budaya Fadli Zon juga tak pernah sepi. Terutama akhir pekan dan musim liburan. Pengunjung bisa menikmati koleksi pustaka dan benda-benda budaya lainnya.

"Ketika Rumah Puisi selesai dibangun, keponakan saya, Fadli Zon datang bertanya. Om apa yang bisa saya bantu? Saya katakan orang yang datang ke Rumah Puisi perlu menginap. Begitulah lalu Fadli membangun penginapan dan minta izin namanya jadi Rumah Budaya. Ya tidak apa-apa," ujar Taufiq mengenai riwayat Rumah Budaya Fadli Zon.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga tidak tinggal diam. Ikut membantu membiayai tenaga dan staf perpustakaan Rumah Puisi. "Itu berkat keulatan perempuan mengenakan penutup kepala merah itu," lanjut Taufiq sambil menunjuk Ati Ismail, perempuan yang mendampinginya selama ini. Ati Ismail tampak sedang sibuk mempersilakan tamu-tamunya sarapan pagi. Selain saya dan keluarga Deavis Sanggar Matahari, juga ada penyair Jamal D. Rahman dan tokoh teater Bandung Iman Soleh yang datang bersama istri, serta pengacara yang penyair Abrori Djabbar.

Kata Taufiq Ismail, suatu ketika istrinya itu melaporkan keberadaan Rumah Puisi kepada Pemerintah Sumbar. Lalu pemerintah tergerak membantu. "Kalau kami yang biayai sendiri tentu tak ada dana," katanya.

Rumah Puisi Taufiq Ismail terbagi kepada beberapa ruangan. Ada ruangan berisi buku tersusun rapi lengkap dengan penomorannya. Juga ada ruang pertemuan, ruang makan, kamar tidur dan dapur. "Itu kamar saya," kata Taufiq Ismail menunjuk salah satu kamar, saat saya tanya dimana ia menginap selama di Padang Panjang.

Taufiq Ismail tiap bulan datang ke Rumah Puisi menerima tamu, membuat pertemuan dan beberapa kegiatan lainnya. Dari Padang, bisa dicapai dalan waktu 2 jam untuk sampai ke Rumah Puisi.

Kebetulan hari itu Jumat. Penyair yang sangat mudah terharu ini, mengajak kami shalat Jumat di Masjid Haji Miskin, di Kampung Pande Sikek sekitar 2-3 Km dari Rumah Puisi. Kami mengendarai mobil sedan merah, dikemudikan Mas Eki, suami dari Ibu Huri Yani, pegawai Balai Pustaka dan pembina Sanggar Sastra Balai Pustaka.

Halaman
1234
Penulis: Fikar W Eda
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved