Tafakur
Pencela
Kita tentunya tidak ingin termasuk golongan orang-orang celaka. Tetapi kenyataannya tak terbantahkan
Oleh: Jarjani Usman
“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela” (QS. Al Humazah: 1).
Kita tentunya tidak ingin termasuk golongan orang-orang celaka. Tetapi kenyataannya tak terbantahkan, lebih-lebih di zaman sekarang, banyak orang sengaja melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan mencelakakan diri. Di antara orang-orang tercela tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Alquran, adalah mengumpat dan mencela orang lain saban hari dan bahkan menyebarkannya ke banyak orang.
Anehnya, perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan diri dalam golongan orang-orang celaka itu terasa nikmat bila dilakukan. Terasa lebih nikmat lagi bila orang lain juga menyaksikannya. Padahal harus diingat bahwa bila sudah merasa nikmat dalam kezaliman, itu termasuk orang-orang yang tidak diinginkan baik oleh Allah.
Padahal dari perbuatan mengumpat dan mencela di media sosial itu lahir banyak dosa yang berlapis-lapis. Bukan hanya dosa mengumpat, tetapi juga dosa akibat menyebarkannya. Menyebarkannya berarti menampak-nampakkan perbuatan berdosa. Juga akan muncul dosa dari perbuatan orang lain yang meniru dan menyebarkan umpatan dan celaan tersebut.
Mudah-mudah kita sadar terhadap perbuatan sendiri yang rasanya ingin menyebabkan orang lain celaka, tetapi sesungguhnya diri sendirilah yang benar-benar celaka. Allah bahkan menyebutnya “celaka” untuk setiap pengumpat dan pencela. Siapapun berharapagar tidak dipanggil dengan kata-kata seperti itu, tentunya dengan bersegera mengubah perilaku sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tafakur_20160919_092006.jpg)