Ustaz Adi Hidayat Janjikan Hadiah Umrah untuk Ayah Rina Muharami karena Jadi Inspirasi Bagi Pelajar

Kepergian mahasiswi Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan itu banyak ditangisi orang lantaran kisah dan perjuangannya meraih gelar.

Ustaz Adi Hidayat Janjikan Hadiah Umrah untuk Ayah Rina Muharami karena Jadi Inspirasi Bagi Pelajar
SERAMBINEWS.COM/IST
Kolase foto Ustaz Adi Hidayat dan kedua orang tua Rina Muarami. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Rina Muharami adalah sosok sarjana muda yang namanya kini hanya tinggal kenangan. Ia telah pergi selamanya meninggalkan sahabat-sahabatnya di Kampus Biru UIN Ar Raniry, Darussalam, Banda Aceh.

Namun kepergian mahasiswi Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan itu banyak ditangisi orang lantaran kisah dan perjuangannya meraih gelar sarjana harus berakhir dengan duka.

Mungkin takdirlah yang berkehendak. Rina menghembuskan napas terakhir 13 hari setelah ia menyelesaikan sidang skripsinya karena sakit.

Semestinya Rina pada Rabu (27/2/2019) lalu hadir di Auditorium Prof Ali Hasjmy, UIN Ar Raniry untuk menerima ijazah sarjana bersamaan dengan 2.011 mahasiswa lain yang diwisuda.

Baca: Kisah di Balik Hadirnya Bukhari di Acara Wisuda Almarhumah Anaknya, Sempat Mematung Saat Masuk Arena

Rektor UIN Ar Raniry Prof Dr Warul Walidin MA yang datang mengunjungi rumah almarhumah sehari setelah wisuda berlangsung, Kamis (28/2/2019) sore.  Rektor juga menyerahkan toga diterima kedua orang tua almarhum, Bukhari danĀ  Nurbayani dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca.
Rektor UIN Ar Raniry Prof Dr Warul Walidin MA yang datang mengunjungi rumah almarhumah sehari setelah wisuda berlangsung, Kamis (28/2/2019) sore. Rektor juga menyerahkan toga diterima kedua orang tua almarhum, Bukhari dan  Nurbayani dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca. (SERAMBINEWS.COM/FB BUDI AZHARI)

Tapi semua harapan itu hanya tinggal kenangan.

Ijazah Rina justru diterima sang ayah menggantikan putrinya yang telah pergi untuk selamanya.

Kisah pilu Rina Muharami, sang sarjana muda tersebut, telah membuka mata banyak orang tentang hakikat sebuah perjuangan mahasiswa sejati, dan ketegaran sosok seorang ayah yang ikhlas atas kepergian anaknya beberapa hari sebelum acara wisuda di UIN Ar Rairy, Darussalam, Banda Aceh. Kisah perjuangan Rina meraih mimpi menjadi sarjana ini banyak diperbincangkan. Bahkan kisahnya menjadi viral dalam berita dan tersebar di berbagai media sosial.

Berita itu pun akhirnya menyentuh sisi kemanusian Ustaz Adi Hidayat MA, penceramah dan juga seorang hafiz Alquran yang kerap tampil memberi tausiah di akun YouTube Akhyar TV.

Ustaz Adi Hidayat menjanjikan hadiah umrah untuk Bukhari. Ayah almarhumah Rina Muharami itu dinilai sosok ayah yang tegar dan penuh pengorbanan dalam membiayai pendidikan anaknya. Sebagai sebuah kehormatan atas pengorbanannya itu, Bukhari tetap berusaha hadir menerima ijazah anaknya yang telah tiada beberapa hari menjelang wisuda dilaksanakan.

"Hari ini muncul di berita ada seorang ayah hadir di wisuda, namanya bapak Bukhari. Beliau berasal dari Aceh. Begitu datang ke ke wisuda untuk bisa menghadiri putrinya yang diwisuda, tapi ternyata hanya melihat putra-putri anak orang lain karena anaknya beliau sendiri saat sudah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pelajar beberapa hari kemudian meninggal dunia dan ayahnya tetap datang menampilkan segala kehormatan yang telah membiayainya anaknya, datang membawa ijazahnya. Tolong sampaikan kami berikan berita gembira, insya Allah kepada orang tua mulia ini ibadah umrah untuk ayahnya yang hebat yang telah menginspirasi pelajar-pelajar khususnya di Indonesia," ujar Ustaz Adi Hidayat Lc dalam tausyiah di Masjid Al-Ihsan PTM-VJS, Bekasi Selatan, Jawa Barat, Kamis (28/2) malam bertajuk "Bekal Menuju Ramadhan" dan disiarkan secara langsung di akun YouTube Akhyar TV. Menurut Adi Hidayat sosok Bukhari adalah seorang ayah yang hebat, tegar mengikhlaskan takdir anaknya yang pergi sebelum hari bahagia itu datang.

Baca: Kado Terakhir Rina Muharrani untuk sang Ayah

Baca: MIN Model Kembali Juara Umum Marssal

Baca: Anggota Satresnarkoba Polres Aceh Utara Diadukan ke Propam

"Dia tidak berpikir apakah anaknya kemudian muncul menjadi apa pun. Tapi dia ikhlaskan seperti apa yang Allah swt ridhai. Belum tentu apa yang Anda kerjakan, Anda bisa mendapat hasil seperti apa yang Anda harapkan. Tapi apa yang Anda kerjakan hari ini, niatkan karena Allah, maka segala sesuatu akan engkau tulis sesuai dengan apa yang kita inginkan," ujar Adi Hidayat.

Kisah mengharukan ini berawal dari sebuah video yang diunggah di akun instagram UIN Ar Raniry, Rabu (27/2/2019) dalam kegiatan hari kedua wisuda mahasiswa UIN Ar Raniry di kampus tersebut. Dalam video ini tampak seorang bapak berpakaian kemeja ikut dalam antrean barisan mahasiswa yang akan diwisuda.

Saat nama Rina Muharrami dipanggil MC sang bapak tersebut menghampiri podium dan seperti layaknya mahasiswa lain, Rektor UIN Ar Raniry Prof Warul Walidin menyerahkan sebuah map tanda kelulusan sebagai sarjana. Saat momen itu berlangsung, sontak seisi ruangan auditorium tempat wisuda berlangsung tiba-tiba hening.

Terdengar suara MC membacakan biodata singkat sang mahasiswi yang telah almarhum itu. “Rina Muharrami, lahir 16 Mei 1996. Rina Muharrami telah meninggal dunia karena sakit pada tanggal 5 Februari 2019. Ijazah diterima oleh ayahandanya...”

Suara MC yang mendoakan almarhumah terdengar agak terbata dan tenggelam dengan suara aplaus para hadirin.

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin dan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry, Dr H Gunawan MA PhD, terlihat tidak mampu menahan keharuannya. Sang Rektor tampak memeluk sang bapak yang menundukkan kepalanya. Tidak sedikit para peserta, dosen dan undangan berurai air mata melihat momen tersebut.

BUKHARI (kiri), ayah almarhumah Rina Muharrami saat menerima ijazah anaknya dari Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin, pada wisuda lulusan universitas itu di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Darussalam, Banda Aceh, Rabu (27/2).
BUKHARI (kiri), ayah almarhumah Rina Muharrami saat menerima ijazah anaknya dari Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin, pada wisuda lulusan universitas itu di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Darussalam, Banda Aceh, Rabu (27/2). (FOTO HUMAS UIN AR-RANIRY)

Sosok lelaki tegar itu adalah Bukhari yang merupakan orang tua dari alm Rina Muharrami, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry. Gadis kelahiran Bayu, 16 Mei 1996 itu, merupakan putri pertama dari empat bersaudara, yang lahir dari pasangan Bukhari dan Nurbayani

Rina menjalani sidang skripsi pada 24 Januari 2019 pukul 12.00 WIB. Namun, tiga belas hari setelahnya, yaitu tepat pada tanggal 5 Februari 2019 Rina dipanggil oleh Sang Pencipta sebelum Subuh atau tepat pukul 04.15 WIB. Rina meninggal dunia setelah menderita penyakit tifus stadium akhir hingga berujung pada saraf seperti dilansir situs
uin.ar-raniry.ac.id.

"Meninggal karena sakit tifus, cuma udah parah. Kata dokter pas malam terakhir, atau pas besoknya dia meninggal, saya jenguk dan saya tanya hasil pemeriksaannya sama ayah almarhumah. Ternyata tifus udah tahap paling tinggi, sampai kena saraf," cerita Nisaul Khaira yang merupakan sahabat dekat almarhumah sejak semester lima.

Rina, menderita penyakit tifus kurang lebih selama satu bulan. Bahkan dirinya sempat koma dan dirawat di ICU Rumah Sakit Meuraxa, Kabupaten Aceh Besar.

"Sebenarnya demamnya udah sebulan gitu, naik turun udah berobat kemana-mana. Cuma mulai drop lebih kurang 4 hari, dan koma di ICU Meuraxa sampai dia meninggal sebelum Subuh jam 04.15. Allah lebih sayang Rina," kata Nisaul.

Di kalangan sahabatnya, almarhum dikenal sosok yang sangat menginspirasi, tekun dan terkenal sederhana. Ia terlahir dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai petani.

"Orangnya super simple dan perhatian luar biasa sama sahabat-sahabatnya. Kalau sama saya, dia selalu ketawa walaupun lagi sakit. Kemarin pas sidang bawaannya ketawa-ketawa aja karna saya buat lucu gitu. Pokoknya dia inspirasi untuk saya pribadi, karena dia, kenapa saya bisa niat kejar skripsi. Dia motivator bagi saya," lanjut Nisa.

Di lain waktu keseharian almarhumah juga merupakan guru ngaji. Selain kesederhanaan yang dimilikinya, ia juga merupakan mahasiswa yang berprestasi. Rina dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas. Ia juga mampu menguasai bahasa Jepang dengan baik, dan termasuk mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Ia lulus dengan predikat istimewa dengan indeks prestasi kumulatif 3.51.

"Anaknya aktif, baik, pintar. Bahasa Jepang-nya juga bagus," kata Muzakir Ketua Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan seperti dikutip Serambi dari laman situs uin.ar-raniry.ac.id.
Menurut Muzakir sebelum meninggal, almarhumah Rina sudah menyelesaikan seluruh syarat untuk wisuda pada semester ini.

"Seluruhnya sudah diselesaikan, namun sebelum yudisium, Rina sudah duluan dipanggil oleh Allah, sehingga ia tidak sempat mengikuti proses yudisium," ujarnya. Lalu muncullah niat dari pihak Prodi yang berinisiatif mengundang ayah kandung Rina untuk tetap hadir pada saat hari wisuda.

"Kami menyematkan bentuk penghargaan untuk perjuangan ayahnya terhadap Rina, dan juga terhadap perjuangan Rina sendiri, dan tepat hari ini (Rabu), ayah kandungnya langsung yang hadir untuk mengambil ijazah tersebut," tutur Muzakir.

Dikunjungi rektor

Sementara itu pihak UIN Ar Raniry menyerahkan toga beserta selempang kepada keluarga almarhumah Rina sebagai kenang-kenangan.

Toga itu diserahkan Rektor UIN Ar Raniry Prof Dr Warul Walidin MA yang datang mengunjungi rumah almarhumah sehari setelah wisuda berlangsung, Kamis (28/2/2019) sore.

Rektor UIN Ar Raniry, Prof Dr Warul Walidin MA bersama petinggi kampus datang ke rumah almarhumah Rina Muharami yang diterima orang tuanya Bukhari dan Nurbayani di Gampong Cot Rumpun, Blangbintang, Aceh Besar, Kamis (28/2/2019) sore
Rektor UIN Ar Raniry, Prof Dr Warul Walidin MA bersama petinggi kampus datang ke rumah almarhumah Rina Muharami yang diterima orang tuanya Bukhari dan Nurbayani di Gampong Cot Rumpun, Blangbintang, Aceh Besar, Kamis (28/2/2019) sore (SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR)

Toga diterima kedua orang tua almarhum, Bukhari dan  Nurbayani dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca.

Di hadapan rombongan takziah UIN, tampak tak banyak kata yang bisa diucapkan Bukhari.

Ia hanya mengatakan terima kasih karena pihak kampus masih memberi kesempatan kepadanya untuk mengambil ijazah anaknya, meskipun sang anak sudah tiada.

“Saya rasa, ini (ijazah) adalah yang terbaik yang ditinggalkan oleh anak saya, saya rasa cuma ini, saya tidak sanggup tidak berbicara lagi,” tutup Bukhari dengan suara terseda-seda.

Ia langsung menutup sambutan dan duduk, karena suaranya tampak semakin berat saat bercerita tentang anaknya.

Namun kepada Serambi sang ayah masih mampu bercerita banyak tentang sang anak. Berbeda dengan istrinya Nurbayani, ia tampak terus mengeluarkan air mata saat menceritakan kisah perjalanan hidup anaknya.

Ia mengisahkan, Rina merupakan satu-satunya anaknya yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sedangkan dua adiknya menempuh pendidikan di pesantren dan yang paling bungsu masih bersekolah SMP.

Karena ayahnya seorang tukang bangunan dan ibunya bertani di sawah, tentu perjuangan Rina dalam menempuh pendidikan dalam serba keterbatasan.

Di saat tidak kuliah Rina sering membantu ibunya pergi ke sawah. Pada waktu luang yang lain, Rina pun mengajar ngaji anak-anak di balai pengajian yang ada di depan rumahnya.

Menurut Nurbayani, untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya Rina sering berupaya sendiri. Misalnya, untuk membeli laptop, maka Rina langsung mengusahakan sepetak sawah milik orang tuanya, yang hasilnya untuk membeli laptop.

“Memang saya sangat usahakan untuk kuliah Rina, kadang saya mengupah di sawah orang, hasilnya saya kasih buat uang minyak dia. Tapi mungkin sudah di sini ajalnya. Memang dalam hidup kita ini ada kesenangan dan ada kesedihan,” ujar ibunya sambil terus membasuh air mata dan memeluk erat toga pemberian kampus.

Sang ayah juga bercerita, jika anaknya pernah bercita-cita berkuliah di Jepang, karena ia memang bisa berbahasa Jepang. Namun Bukhari tidak mengizinkannya, karena ia khawatir anak gadisnya jauh dari keluarga.

Namun setelah selesai pendidikan sarjana, kepada ayahnya, Rina pernah mengungkapkan keinginannya melanjutkan S2 sambil bekerja sebagai guru Bahasa Jepang.

Karena cita-citanya kelak ingin menjadi dosen. Namun pada kesempatan lain, kepada sang ibu Rina juga pernah mengungkapkan jika selesai di kampus ia ingin mengaji di pesantren.

Dalam sebuah perjuangan memang tidak pernah ada yang sia-sia. Setidaknya kisah Rina Muharrami menjadi contoh, betapa setiap keringat orang tua harus dihargai dengan sepenuh jiwa oleh setiap anak yang sedang menempuh pendidikan.

Sampai akhir hayatnya, Rina masih terus berjuang demi meraih sebuah kado terakhir untuk sang ayah, selembar ijazah sarjana yang ia impikan. Alfatihah untuk Rina Muharrami, sang sarjana muda dari Kampus Biru UIN Ar Raniry.(*)

Penulis: Ansari Hasyim
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved