Liputan Eksklusif

Nova: Saya Dituding Berkhianat

Berbicara di depan Rektor dan sekitar 50 akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)

Nova: Saya Dituding Berkhianat
NOVA IRIANSYAH, Plt Gubernur Aceh 

BANDA ACEH - Berbicara di depan Rektor dan sekitar 50 akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Selasa (26/3) sore, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT seperti orang yang sedang “curhat”. Dia berucap, “Lihat saja di medsos, saya dituding berkhianat kepada gubernur.”

Ungkapan itu disampaikan Nova Iriansyah di Ruang Adnan Ganto Multimedia Center Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh saat memberi kata sambutan pada peresmian ruang multimedia center tersebut. Curhatan Nova juga didengarkan oleh Dr Adnan Ganto MBA yang hadir langsung pada peresmian ruang mentereng yang biaya renovasinya dari aula perpusatakaan menjadi ruang multimedia center ditanggung sepenuhnya oleh Adnan, bankir kelas dunia asal Aceh.

Menurut Nova, di sejumlah media sosial (medsos) akhir-akhir ini ia dituding mengkhianati Irwandi Yusuf sehingga Gubernur Aceh itu ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tapi sesungguhnya tidak demikian. “Bahkan Pak Irwandilah yang memperkenalkan saya kepada orang KPK. Juga kepada pejabat-pejabat penting lainnya di pusat. Saya ini kan sebelumnya dosen di Unsyiah, jadi tak kenal banyak pejabat seperti halnya Pak Irwandi,” kata Nova yang juga mantan anggota DPR RI.

Merasa tudingan yang dialamatkan kepada dirinya tak berdasar, Nova kemudian meminta bantuan Rektor Unsyiah, Prof Dr Samsul Rizal MEng dan para civitas akademika Unsyiah untuk meng-counter tudingan tersebut. Ia menilai, kalangan kampus adalah orang-orang netral yang lebih tepat dan lebih efektif untuk mengklarifikasi tudingan tersebut. “Saya mohon dibantu oleh civitas akademika Unsyiah. Akan sangat beda hasilnya kalau saya dibela oleh para akademisi daripada, misalnya, jika saya minta bantuan pada orang partai. Saya tak mau dipolitisasi,” kata Nova.

“Mohon klarifikasi di medsos atau di forum-forum lain bahwa saya tidak pernah mengkhianati Gubernur Irwandi Yusuf. Bahkan dia yang memperkenalkan saya dengan KPK, dengan pejabat-pejabat negara, dan tokoh-tokoh penting orang Aceh lainnya di Jakarta. Jadi, tidak benar kalau saya dituding berkhianat kepada gubernur,” tegas Nova.

Irwandi Yusuf yang juga mantan dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah merupakan teman seperjuangan Nova Iriansyah pada ajang Pilkada 2017. Pasangan ini terpilih memimpin Aceh hingga 2022. Akan tetapi, pada 3 Juli 2018 Irwandi ditahan KPK melalui operasi tangkap tangan (OTT) di Pendopo Gubernur Aceh.

Selama Irwandi ditahan KPK, Nova sudah dua kali bertemu Irwandi. Sekali saat Irwandi periksa kesehatan di Rumah Sakit Polri di Jakarta, sekali lagi saat Nova bersaksi dalam persidangan terdakwa Irwandi Yusuf.

Sejauh ini hubungan keduanya rukun-rukun saja sampai kemudian di sebuah video yang beredar Irwandi mengeluhkan sikap Nova yang terkesan mulai menjauhi para relawan. Padahal, menurut Irwandi, para relawan itulah yang juga ikut berjasa sehingga mereka terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 2017.

Energi banyak terkuras
Ketika menyampaikan sambutan pada Selasa sore lalu di Ruang Adnan Ganto Multimedia Center, Nova Iriansyah juga sempat membandingkan beratnya tugas sebagai gubernur di Aceh dibanding di Jawa Barat atau di Jawa Timur. Di sana, tantangan kerja yang dihadapi dan dibahas para gubernur adalah hal-hal yang langsung bersifat substansial.

“Kalau di Aceh energi kita justru banyak terkuras untuk membahas hal-hal yang tidak substansial,” kata Nova.

Menurut Nova, dalam sehari semalam dia hanya tidur dua jam, karena begitu banyak persoalan yang harus direspons. Tapi terkadang, keputusan yang dia ambil melalui konsultasi dan pembahasan yang intensif dengan pihak berkompeten, masih saja menimbulkan protes. Contohnya adalah ketika Nova tidak melantik Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) yang terpilih dalam mubes, tapi justru mem-plt-kan jabatan Ketua MAA.

Ia juga memastikan bahwa sejak ia menjabat Plt Gubernur Aceh, semua keputusan di pemerintahan Aceh tidak ada yang dia putuskan sendiri. “Semuanya dilakukan secara kolektif kolegial, semata-mata untuk menghindari abuse of power,” kata Nova.

Ia juga menegaskan bahwa dia bukanlah sosok yang antikritik dan selalu terbuka untuk setiap saran pendapat yang sifatnya konstrukrif. “Yang pasti, saya tidak antikritik dan selalu siap dikritik,” demikian Nova Iriansyah. (dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved