Rabu, 20 Mei 2026

Dampak Penampakan 'Black Hole' Bagi Para Peneliti Indonesia

Adapun total data yang terlibat dalam proses pengambilan gambar ini mencapai lebih dari lima petabyte (1 petabyte = 1.000 terabyte).

Tayang:
Editor: Fatimah
abcnews.go.com
Foto penampakan lubang hitam atau black hole untuk kali pertama. 

SERAMBINEWS.COM - Dunia penelitian telah digegerkan dengan munculnya citra pertama dari lubang hitam supermassive atau black hole (11/4/2019).

Dari sini, Dosen Fisika Teori Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS) Surabaya, Bintoro Anang Subagyo memberi tanggapan mengenai dampakpenemuan tersebut terhadap perkembangan sains dan teknologi, khususnya di Indonesia.

Dilansir dari laman ITS (16/4/2019), Bintoro ini menyebutkan bahwa keberhasilan pengamatan black hole merupakan salah satu pembuktian teori relativitas umum Einstein yang paling ekstrim.

Selain itu, Bintoro menganggap penemuan ini merupakan pembenaran mengenai keberadaan supermassive black hole dipusat galaksi yang telah lama diyakini para ilmuwan.

Baca: Jenazah Mahasiswa Aceh di Mesir, Muhammad Ikram akan Dibawa Pulang Pakai Pesawat Turki Airlines

Teleskop 4 benua

Melalui laman resmi ITS Bintoro memaparkan selama ini penggambaran black hole hanya didasarkan pada simpulan terkait aktivitas benda-benda disekitar black hole.

Sementara citra black hole yang berhasil didapatkan baru-baru ini, menurut Bintoro, cukup sukses memperlihatkan bagian-bagian black hole seperti yang telah disimulasikan.

“Meskipun resolusinya rendah, hal ini tetap saja luar biasa,” pujinya.

Baca: Malam Ini Zaskia Sungkar Pamerkan Busana Karyanya

Gambar ini sendiri merupakan black hole yang terletak di galaksi Messier 87.

Area cerah pada gambar merupakan material pada cakram akresi yang terpanaskan saat masuk ke dalam black hole, sementara bayangan gelap di tengah adalah lubang hitam itu sendiri.

Para astronom merilis gambar pertama dari lubang hitam ini setelah mengamatinya selama dua tahun terakhir melalui delapan teleskop radio di empat benua, yang tergabung dalam jaringan Event Horizon Telescope (EHT).

Setiap teleskop mengumpulkan sejumlah besar informasi tersendiri.

Adapun total data yang terlibat dalam proses pengambilan gambar ini mencapai lebih dari lima petabyte (1 petabyte = 1.000 terabyte).

Jumlah yang cukup untuk menyimpan file MP3 dengan durasi 5.000 tahun.

Baca: Bangsa Yahudi Terkenal Cerdas, Inilah 7 Faktor Penyebabnya Menurut Penelitian

“Proyek ini tidak hanya melibatkan peran fisikawan sebagai pengembang teori, tetapi juga kerjasama engineer dari berbagai bidang keilmuan,” sambung Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Astronomi ITS ini.

Adapun beberapa bidang yang menurut Bintoro pasti terlibat diantaranya adalah informatika dan teknik komputer.

Masih jadi "penonton"

Bintoro juga menyayangkan bahwa negara berkembang seperti Indonesia masih sukar untuk andil dalam riset elit semacam ini.

Baca: Data Suara Capres dan Pileg di Abdya Diduga Banyak Salah Catat, Begini Tanggapan Ketua KIP

“Ini mungkin menjadi sisi buruk dari penemuan black hole, kita (Indonesia) hanya menjadi penonton,” tuturnya.

Bintoro mengaitkan hal ini dengan arah kebijakan riset Indonesia yang menuntut implementasi praktis dalam masyarakat.

Sementara menurutnya, riset mengenai fisika teoritis termasuk black hole, implementasinya dinilai baru akan dirasakan dalam jangka waktu yang sangat lama.

Terlebih, dana yang dibutuhkan dalam riset ini tentunya tidak sedikit.

Baca: Macan Hitam, Pasukan Elite Perempuan yang Kerap Teror Sri Lanka dengan Aksi Bom Bunuh Diri

Namun, Bintoro tidak mengecilkan kemungkinan pakar-pakar Indonesia akan turut berpartisipasi pada proyek serupa.

Kolaborasi adalah kunci yang disebutkan Bintoro.

Tidak hanya fisikawan, teknokrat dari berbagai bidang tentunya diperlukan dalam kolaborasi ini.

“Meskipun bukan dalam institusi, kolaborasi masih dapat dilakukan dalam ranah individu,” paparnya.

Baca: Mantan Tuha Peut Mantak Raya Pidie Surati Camat dan Setdakab, Ini Sebabnya 

Disisi lain, Bintoro mengakui bahwa riset mengenai black hole memang bukan lagi pada jaman keemasannya, meski tren tersebut kembali menanjak beberapa waktu belakangan.

Banyak hal yang masih menjadi misteri para ilmuan seperti paradoks informasi dalam black hole.

Bintoro mengklaim penemuan black hole ini pastinya menggelitik rasa penasaran para fisikawan serta engineer untuk berkompetisi dan mengambil bagian sesuai bidang keilmuannya.

Tentunya dukungan pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Artikel ini tayang pada Intisari Online dengan judul : Black Hole Berhasil Dipotret untuk Pertama Kali, Apa Dampaknya Bagi Peneliti Indonesia?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved