Hoaks dan Waled Nu

PEMILU 17 April 2019 telah usai. Tapi cerita di balik pemilu belum dapat ditinggalkan

Hoaks dan Waled Nu
IST
Mukhlisuddin Ilyas, Direktur Bandar Publishing dan Dosen STKIP BBG Banda Aceh

Ternyata setelah Sofyan Djalil berada di Aceh, tidak ada yang salah dengan Jokowi, yang salah adalah hoaks terus beredar dalam masyarakat tanpa ada yang melawannya.

Waled Nu
Waled Nu adalah seorang ulama. Ulama menurut KBBI V adalah orang yang ahli dalam pengetahuan agama Islam. Sebagai orang yang ahli dalam agama Islam, Waled Nu menjadi simbol dari keberpihakannya dalam politik, dengan mendukung Jokowi- Ma’ruf. Keberpihakan ini tentu atas nilai-nilai pengetahuan agama Islam yang dimilikinya. Terlepas merosotnya suara Jokowi-Ma’ruf di Aceh, Waled Nu telah memberi pembelajaran tentang sikap sebagai seorang ahli, dalam bahasa Tom Nichols disebutkan sebagai pakar.

Sebagai seorang ahli atau pakar, harus menyampaikan pengetahuannya kepada masyarakat, walau cacian datang sekalipun kepadanya. Waled Nu, telah menyediakan ruang inspirasi berbasis pendidikan bagi orang Aceh. Untuk bersikap, berdiri pada blok kebenaran atas informasi yang dimilikinya. Waled Nu tidak mencla-mencle. Waled Nu berdiri tegak di depan umum, menyampaikan pengetahuan dan keberpihakannya kepada seseorang atas bangunan check and recheck, bukan malah menjadi penyabar hoaks, apalagi sesama muslim.

Bahasa agama, bisa dibaca dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al- Hujurat: 6).

Kata kunci ayat ini adalah “telitilah kebenarannya”. Ayat ini memberi penegasan, untuk mengecek setiap arus informasi, kalau tidak akan merusak persatuan dengan berita-berita hoaks. Sebagai seorang ulama, Waled Nu tentu bersandar pada Alquran dalam setiap pilihannya. Secara geneologi keilmuan, Waled Nu mewarisi dua hal dari gurunya, yaitu beut dan seumeubeut (belajar dan mengajar).

Waled Nu adalah murid dari didikan Teungku Abdul Aziz, murid langsung dari Abuya Muda Wali dan merupakan generasi kedua pemimpin Dayah MUDI setelah Teungku Abi Hanafiah. Abuya Muda Wali, adalah seorang ulama besar, yang tegas tapi bersahabat dalam perbedaan pilihan politik. Keberadaan ulama dayah dalam perspektif sejarah pendidikan Aceh dapat di katagorikan ke dalam dua bentuk; dayah gerakan dan dayah pendidikan. Melihat situasi sosial politik Aceh dewasa ini, dayah dengan segala instrumen yang dimilikinya, memiliki potensi untuk kembali berubah, dari dayah pendidikan menjadi dayah gerakan.

Tampaknya, Waled Nu dengan segala risikonya, telah membuka jalan bagi kembalinya dayah gerakan di Aceh. Akhirnya, hoaks dan Waled Nu adalah sebuah imajinasi kontradiktif. Hoaks adalah musuh rakyat (enemy of the people). Sedangkan Waled Nu adalah ulama rakyat (leader of the people). Musuh rakyat, basis gerakannya ancaman dan provokasi. Ulama, seperti Waled Nu basis gerakannya adalah pengetahuan, di mana dengan ilmunya ia mampu membaca setiap tanda-tanda. Waled Nu menjadi antitesis dari Tom Nichols tentang matinya kepakaran (the death of expertise).

Karena ia memiliki keberpihakan, atas nilai-nilai pengetahuan. Keberpihakan Waled Nu terhadap salah satu paslon menjadi petunjuk bahwa ulama dayah, mulai meneropong zona sosial politik sebagai bagian dari ibadah. Semoga! (mukhlisuddin.ilyas@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved