Sabtu, 18 April 2026

Haji Uma, Na Lawan?

SEMPAT diragukan kapasitasnya pada Pemilu 2014, Haji Uma mengejutkan publik pada Pemilu 2019

Editor: bakri
IST
H Sudirman 

“Dalam pemilu damai yang sudah berlalu ini, saya percaya yang mencalonkan diri semua putra-putri terbaik bangsa. Hanya saja soal waktu dan kesempatan saja yang belum berpihak,” pungkas H Sudirman. Dengan jumlah suara melimpah yang diraih Haji Uma, maka rasanya pantas saja ketika ada warga yang kemudian mengeluarkan kata-kata, “Haji Uma, na (ada) lawan?”

Belum habis cerita tentang perolehan suaranya dalam Pemilu 2019 yang dianggap fenomenal oleh banyak pihak, tiba-tiba masyarakat Aceh dikejutkan dengan kemunculan H Sudirman alias Haji Uma dalam sinetron religi “Masjid yang (tak) Dirindukan.” Sinetron yang kini judulnya berubah menjadi “Masjid yang Dirindukan” tayang setiap hari di stasiun televisi nasional ANTV, pukul 18.00 WIB.

Dikutip dari Wikipedia.org, sinetron “Masjid yang tak Dirindukan” tayang perdana pada 25 Maret 2019 di ANTV. Sinetron yang diproduksi oleh Tobali Putra Productions ini dibintangi sejumlah aktor dan artis top Tanah Air. Di antaranya Reza Rahadian, Donita, dan Fita Anggriani, Roy Marten, Oni Suwarman (Kabayan), dan lain-lain.

Melihat banyaknya aktor dan aktris top dalam sinetron itu, maka sangat wajar warga Aceh terkaget-kaget ketika melihat sosok Haji Uma tampil di sana. Abu si Yusniar (peran Haji Uma dalam serial komedi Aceh Eumpang Breueh) ini beradu akting dengan para aktor dan aktris level nasional. Ia mendapat peran sebagai Pak RT.

Dihubungi Serambi via pesan WhatsApp (WA), Haji Uma mengungkapkan rasa syukurnya karena ia mendapat kesempatan mengasah kemampuan akting di level nasional. “Alhamdulillah, saya dipercaya berperan sebagai Pak RT dalam sinetron Masjid yang Dirindukan, mulai dari episode 27. Dengan latar belakang saya sebelumnya, tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri karena dapat beradu peran dengan sejumlah artis papan atas nasional,” ujarnya. Sinetron yang hari ini, Minggu (28/4) telah memasuki episode 34, kabarnya akan terus tayang setiap hari hingga Idul Fitri 1440 H.

Ditanya asal muasal dirinya terlibat dalam sinetron nasional itu, Haji Uma mengatakan, awalnya ia diajak oleh Oni Suwarman (Oni Kabayan), rekannya di DPD RI. Oni adalah anggota DPD RI asal Jawa Barat. Pada Pemilu 2014 lalu, Oni meraih suara tertinggi dibanding calon-calon terpilih lainnya dengan 2.167.485 suara (Pemilih Jawa Barat pada Pemilu 2014 adalah 33,2 juta jiwa).

“Awalnya saya diajak Kang Kabayan, dikenalkan dengan sutradara, kemudian diuji akting dengan standar nasional, Alhamdulillah lulus,” ujar Haji Uma yang pada Pemilu 2019 ini diprediksi meraup 600 ribu suara masyarakat Aceh (dari DPT 3,5 juta jiwa).

Ia melanjutkan, keputusan ikut terlibat dalam sinetron tersebut karena bersifat sinetron religi, kental dengan unsur edukasi, serta sarat pesan moral dan keagamaan yang dibumbui unsur komedi. Melalui sinetron ini, Haji Uma berharap dapat ikut mencerahkan dan menghibur masyarakat.

Meski sudah mulai berkiprah di sinetron level nasional, Haji Uma memastikan dirinya akan selalu bersedia jika diajak bermain dalam film Aceh, terutama film-film serian Eumpang Breueh yang disutradarai oleh Ayah Doe dengan produser Din Kramik. “Insya Allah saya selalu bersedia dan meluangkan waktu jika ada ajakan terlibat dalam film Eumpang Breuh. Karena kita semua menginginkan seni dan budaya kita terus maju, sebagaimana pernah membesarkan kita,” ujar Haji Uma.

Terkait keterlibatannya dalam sinetron tersebut, Haji Uma memastikan tidak akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota DPD. Malah, menurutnya, ini menjadi bagian dari misinya untuk memperkenalkan budaya dan tradisi Aceh ke tingkat nasional.

“Tugas dan tanggung jawab kepada rakyat Aceh adalah prioritas utama dan yang terpenting, Insya Allah semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Karena saat menjabat sebagai anggota DPD RI asal Aceh, sebelumnya saya juga pernah beberapa kali syuting film di Aceh dan jadwalnya disesuaikan tanpa berpengaruh terhadap aktifitas tugas. Sama halnya dengan ini,” ungkap Haji Uma.

Di akhir penyampaiannya, Haji Uma berharap sinetron ini dapat menjadi tontonan menarik dan menjadi tuntunan bagi masyarakat, termasuk di Aceh. Karena banyak pesan moral dan inspirasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mengunjungi dan beribadah di rumah Allah.

Menyangkut perannya sebagai Pak RT, Haji Uma membeberkan bahwa dalam alur ceritanya, Pak RT menjadi sosok yang banyak dilibatkan dalam sejumlah kejadian di kampung tersebut. Salah satunya saat kehilangan kotak amal dan mikrofon di Masjid Nurul Madina yang membuat Reza Rahardian yang berperan sebagai ustaz di masjid tersebut mendapat kekerasan dari pelaku yang berujung ke kantor polisi.

Haji Uma berharap dengan keterlibatannya pada sinetron berskala nasional menjadi pintu masuk bagi eksistensi ke depan di kancah perfiliman nasional. Dengan demikian, secara perlahan nanti dapat menjadi ruang atau media untuk mempromosikan kultur keacehan di pentas perfilman dan pertelevisian nasional.(nal/jaf)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved