Ramadhan, Usaha Karaoke Harus Tutup

Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Aceh Tengah, mengeluarkan seruan bersama

Ramadhan, Usaha Karaoke Harus Tutup
Ilustrasi 

* Seruan Forkopimda Aceh Tengah

TAKENGON - Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Aceh Tengah, mengeluarkan seruan bersama terkait dengan pelaksanaan bulan Suci Ramadhan 1440 Hijriah.

Seruan bersama yang berisi 11 poin tersebut dikeluarkan sejak awal April 2019 lalu dan telah disebarluaskan kepada masyarakat Aceh Tengah. Tujuh poin di antaranya berisi larangan, dan empat poin sisanya berisi ajakan.

Pada poin pertama, Fokopimda mengajak kepada seluruh masyarakat agar memakmurkan masjid dan meunasah dengan melakukan shalat fardhu, tarawih, witir dan amalan lainnya. Poin kedua, setiap pemiliki toko, kedai, kios, café dan tempat usaha lainnya wajib menghentikan aktivitasnya pada malam hari sampai dengan selesai pelaksanaan shalat tarawih.

Selanjutnya pada poin ketiga, para pedagang makanan juga dilarang berjualan dari pagi sampai dengan pukul 15.00 WIB. Poin keempat, warga muslim dan nonmuslim pemilik usaha, juga dilarang menyediakan makanan dan fasilitas bagi orang yang tidak berpuasa selama bulan Ramadhan.

Berikutnya pada poin kelima, para pedagang dilarang untuk menjual mercon atau kembang api dan kepada warga juga diminta untuk tidak membunyikan meriam bambu serta sejenisnya yang berpotensi menggangu ketenangan warga beribadah di bulan puasa.

“Tempat usaha karaoke harus ditutup siang maupun malam hari. Setiap muslim dilarang melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat merusak kesucian bulan Ramadhan,” bunyi poin keenam dan ketujuh.

Pada poin kedelapan, kepada masyarakat nonmuslim agar menghormati, serta ikut menjaga kesucian bulan Ramadhan. Poin sembilan, bagi seuruhwarga diminta untuk menghidupkan lampu penerangan di depan rumah pada malam hari.

Poin kesepuluh, setiap warga, instansi pemerintah dan badan usaha supaya menghentikan aktivitas pada saat shalat jumat dan shalat lima waktu. Terakhir, poin kesebelas, setiap warga yang berwisata, agar mematuhi nilai-nilai Syariat Islam dengan menggunakan pakaian bernuasa Islam, atau tidak mengenakan pakaian ketat, minim serta transparan.

Kabid Penegak Perundang-Undangan Daerah dan Penegakan Syariat Islam di Satpol PP-WH, Anuar SH, sebagaimana dikutip Serambi dari rri.co.id, mengatakan, meski hanya berupa seruan, tetapi bagi mereka yang melanggar dapat dikenakan sanki mulai dari teguran, pencabutan izin usaha hingga eksekusi cambuk sesuai Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah.

“Ini memang seruan, tapi ada regulasi lain yang dapat menjerat pelanggar, yaitu Qanun,” kata Anuar belum lama ini dalam dialog interaktif RRI Takengon. “Non muslim juga kita minta untuk menghormati muslim yang sedang berpuasa,” tambahnya.(my)

seruan forkopimda
- Mengajak kepada seluruh masyarakat agar memakmurkan masjid dan meunasah dengan melakukan shalat fardhu, tarawih, witir dan amalan lainnya
- Setiap pemiliki toko, kedai, kios, cafe dan tempat usaha lainnya wajib menghentikan aktivitasnya pada malam hari sampai dengan selesai pelaksanaan shalat tarawih
- Para pedagang makanan juga dilarang berjualan dari pagi sampai dengan pukul 15.00 WIB
- Warga muslim dan nonmuslim pemilik usaha juga dilarang menyediakan makanan dan fasilitas bagi orang yang tidak berpuasa selama bulan Ramadhan
- Para pedagang dilarang untuk menjual mercon atau kembang api dan kepada warga juga diminta untuk tidak membunyikan meriam bambu serta sejenisnya yang berpotensi menggangu ketenangan warga beribadah di bulan puasa
- Tempat usaha karaoke harus ditutup siang maupun malam hari
- Setiap muslim dilarang melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat merusak kesucian bulan Ramadhan
- Kepada masyarakat nonmuslim agar menghormati, serta ikut menjaga kesucian bulan Ramadhan
- Bagi seuruh warga diminta untuk menghidupkan lampu penerangan didepan rumah pada malam hari
- Setiap warga, instansi pemerintah dan badan usaha supaya menghentikan aktivitas pada saat shalat jumat dan shalat lima waktu
- Setiap warga yang berwisata, agar mematuhi nilai-nilai Syariat Islam dengan menggunakan pakaian bernuasa Islam, atau tidak mengenakan pakaian ketat, minim serta transparan

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved