Jurnalisme Warga

Dayah Abu Lueng Ie, Pusat Suluk di Aceh Besar

DAYAH Abu Lueng Ie memiliki nama lengkap Darul Ulum Abu Lueng Ie. Lueng Ie merupakan sebuah gampong dalam wilayah Kecamatan Krueng Barona Jaya

Dayah Abu Lueng Ie, Pusat Suluk di Aceh Besar
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur Lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, dan pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Jantho

Larangan makan makanan berdarah sangat beralasan. Bagi ahli suluk, ikan, daging, dan telur dianggap mampu membangkitkan nafsu. Terutama nafsu untuk makan banyak dan lezat. Di samping itu, juga dapat memicu nafsu pada harta dan lainnya.

Selain itu, makan makanan berdarah seperti daging dapat meningkatkan tekanan darah. Sedangkan mereka yakin, jin itu masuk dalam tubuh manusia melalui darah. Dalam sebuah penggalan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan, “Sesungguhnya setan itu berjalan di aliran darah manusia.”

Jadi, menghindari makan makanan berdarah sebagai upaya menutup celah dari godaan setan (jin). Juga menghilangkan nafsu berlebihan, seperti nafsu harta, jabatan, dan nafsu duniawi (berahi).

Makan makanan berdarah juga berdampak pada rasa kantuk. Sedangkan jamaah suluk dituntut untuk sedikit tidur dan mesti banyak beribadah dan berzikir. Dalam catatan Islam disebutkan, Allah mencintai orang yang sedikit makan, sedikit tidur, dan sedikit hiburan.

Porsi makan jamaah suluk sangatlah kecil. Mereka hanya makan sedikit nasi dengan sayur bening. Terkadang hanya ada sepotong tempe atau tahu. Sesekali terlihat ada sebutir kurma dalam piring makan mereka.

Jamaah wajib fokus pada ibadah. Tidak perlu memikirkan makanan apa yang akan disantap pada saat sahur dan berbuka puasa. Soalnya, urusan konsumsi jamaah suluk sudah ada yang menangani. Namun, setiap jamaah wajib melunasi biaya makan dan minum. Bila suluknya sepuluh hari, maka mereka cukup menyerahkan Rp 150.000 saja.

Kedua, menutup kepala dengan serban. Persis seperti serban yang kerap digunakan ulama-ulama di Arab. Fungsinya untuk menundukkan pandangan saat berjalan atau berada di tempat umum. Ketika serban menutup kepala, mata tidak bisa melihat ke kiri dan kanan, justru hanya bisa menunduk dan menatap ke arah kaki.

Jadi, ketika Anda melihat pria menutup kepala, baik di masjid atau pasar, jangan berprasangka aneh. Tetapi yakini bahwa mereka sedang berusaha untuk menjaga pandangan dari sesuatu yang haram dan patuh pada aturan suluk.

Serban penutup kepala juga sangat diperlukan ketika mereka sedang berzikir. Dalam bahasa sufi disebut tawajuh. Jamaah tawajuh akan duduk menghadap kiblat sambil berzikir sesuai tuntunan mursyid (guru). Sehelai serban menutupi kepala dan mata mereka tertutup sehingga terasa sangat gelap. Ketika mata terasa gelap maka mata hati mereka akan terbuka. Mata hati mereka akan melihat kembali dosa-dosa yang pernah dilakukan, berbagai maksiat yang pernah mereka buat akan terlihat dengan mata batin (mata hat)i. Dalam kondisi itulah mereka menangis tersedu dan menyesali maksiat yang telah dibuatnya.

Ketiga, sedikit bicara. Bahkan banyak jamaah suluk tidak berbicara berhari-hari. Lidah mereka hanya digunakan untuk berzikir. Kalau pun harus berbicara hanya sesuatu yang dianggap penting. Terkadang mereka mematikan alat komunikasi demi khusyuk ibadah suluk.

Halaman
1234
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved