Breaking News:

Menelusuri Jejak Adam dan Hawa hingga Muhammad Saw

MESKI sudah selesai melaksanakan rukun haji dan memperbanyak ibadah sunah lainnya di Masjidil Haram, Mekkah

Menelusuri Jejak Adam dan Hawa hingga Muhammad Saw
IST
Mursal Ismail, Wartawan Serambi Indonesia dari Madinah

Begitu pun, sepertinya orang-orang, terutama jamaah Indonesia mengidentikkan bukit ini sebagai tempat dikabulkannya doa tentang jodoh. Hal ini tak lepas dari sejarah Jabal Rahmah sebagai tempat Allah mempertemukan kembali Nabi Adam dan Hawa setelah 103 tahun terusir dari surga karena pelanggaran keduanya memakan kuldi, buah larangan.

Setelah bertemu, keduanya pun kembali berumah tangga, sehingga memperoleh beberapa anak kembar siam (laki dan perempuan). Kemudian para keturunan itu dinikahkan secara bersilang. Hal ini menjadi cikal bakal pernikahan manusia hingga memperoleh keturunan.

Nah, selama ini entah siapa yang memulai, di atas bukit ini dipenuhi coretan umumnya nama-nama orang Indonesia, seperti Syamsul, Ananda, Azhari, dan Mayang Sari. Penulis nama-nama itu atau yang bersangkutan sendiri seakan berharap dijodohkan dengan nama yang sudah ditulis di batu gunung tersebut, sehingga menjadi pasangan sehidup semati layaknya Nabi Adam dan Hawa.

Coretan nama-nama ini pun menarik perhatian wisatawan berbagai negara lain. Di puncak yang sudah menjadi destinasi wisata ini, juga sudah dibangun tugu yang diyakini sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa. Nabi Adam adalah manusia pertama yang disebut-sebut awalnya ditempatkan Allah di kawasan India. Sedangkan Siti Hawa di kawasan Irak.

Kisah Ibrahim
Seusai dari Jabal Rahmah, kami pulang melewati Muzdalifah dan Mina. Muzdalifah, yakni tempat pengambilan batu oleh jamaah haji untuk melempar jumrah di Mina.

Di tengah perjalanan, Raja Harahap juga menunjukkan sebuah tempat Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah Swt menyembelih anaknya Ismail yang kemudian digantikan dengan seekor kibas oleh Sang Pencipta. Kisah itu yang menjadi latar belakang sejarah penyembelihan hewan kurban pada setiap Iduladha.

Sebelumnya, tentu kisah Rasulullah Ibrahim lainnya adalah di Masjidil Haram. Di lokasi ini, dulunya Nabi Ibrahim harus mengikuti perintah Allah untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar dan anaknya, Ismail yang masih bayi.

Saat ditinggalkan itu pula, Ismail menangis kehausan, sehingga di tengah Padang Pasir itu, Siti Hajar melihat seperti ada air di Bukit Safa, namun saat ia tiba berlari ke bukit itu, airnya tak ada dan justru terlihat di Bukit Marwa. Saat berlari dan tiba di Bukit Marwa, di mata Hajar, air seperti ada di Bukit Safa lagi, sehingga begitulah seterusnya sehingga sampai tujuh kali ia berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwa untuk mencari air.

Namun, akhirnya air justru keluar di bawah kaki Ismail. Melihat air ini, Siti Hajar sangat senang, sambil mengatakan „zamzam“ yang artinya berkumpul-kumpul, sekaligus ia membatasi air itu dengan pasir agar tak mengalir ke mana-mana.

Begitulah sejarah air zamzam yang masih ada hingga kini. Sedangkan peristiwa Siti Hajar berlari-lari kecil mencari air hingga tujuh kali itu, juga diwajibkan Allah kepada jamaah dalam rukun haji dan umrah berupa sai antara Bukit Safa dan Marwa. (*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved