Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Jalan Surga para Bunda

Ramadhan Mubarrak, Ramadhan Kariim. Alhamdulillah, dengan rahmat-Nya Allah masih izinkan kita, menikmati berkah

Tayang:
Editor: bakri
IST
Dian Rubianty, SE, Ak., MPA Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar Raniry 

Oleh Dian Rubianty, SE, Ak., MPA Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar Raniry

Ramadhan Mubarrak, Ramadhan Kariim. Alhamdulillah, dengan rahmat-Nya Allah masih izinkan kita, menikmati berkah Ramadhan tahun ini, yang tanpa terasa tinggal beberapa hari lagi. Tidak ada yang tahu, apakah ini akan menjadi Ramadhan terakhir untuk kita? Wallahu’alam.

Oleh karennya, setiap muslim di setiap tahunnya berupaya menyambut Ramadhan dengan penuh semangat kesyukuran, mengisinya dengan ibadah terbaik yang bisa dilakukan, selagi Allah SWT masih mengizinkan.

Salah satu ibadah yang biasa kita lakukan pada malam-malam bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Di gampong kita, setiap Ramadhan tiba, tak ketinggalan chiek-putiek (tua-muda) bersama-sama melaksanakan ibadah shalat tarawih di masjid-masjid. Alhamdulillah, beberapa masjid di Aceh bahkan mengundang para hafidz Alquran dari dalam dan luar negeri, untuk menjadi imam shalat tarawih. Tentunya menambah besar keinginan kita untuk bisa melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid.

Karena selain berharap pahala dan ampunan yang Allah Ta’ala lipat-gandakan di sepanjang Ramadhan, ada keistimewaan lain yang diperoleh saat tarawih berjamaah bersama para hafidz. Selain bacaan imam yang menggetarkan hati dan menambah keimanan, bila tak ada shalat tarawih yang tertinggal selama Ramadhan, Insya Allah kita akan khatam Alquran bersama bacaan imam. Namun bagaimana dengan para bunda, yang saat ini dalam pelukannya sedang Allah titipkan amanah terindah yang masih bayi atau kanak-kanak?

Beberapa bunda berjuang untuk tetap melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di masjid. Ada yang bergantian dengan ibu atau kakak-adik perempuannya, ada yang bergantian dengan yang membantu mengasuh buah hatinya. Namun untuk yang tidak memiliki kemewahan ini, banyak yang kemudian memutuskan membawa balitanya ke masjid.

Dilema? Tentu saja. Dalam berbagai diskusi, banyak bunda yang menyampaikan kekhawatiran yang hampir sama. Di satu sisi, ada “kecemburuan” ingin menjemput pahala sebagaimana yang diperoleh para jamaah tarawih yang lain. Apalagi sekarang ada masjid-masjid yang melaksanakan qiyamul lail dan i’tikaf di masjid pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan. Siapa yang tak ingin cemburu dan ingin ikut “bermesara-mesra” dengan Allah Ta’ala?

Selanjutnya, selain keinginan menjemput pahala untuk dirinya, ada juga keinginan para bunda untuk memperkenalkan masjid pada anak sejak usia dini. Apalagi suasana masjid di malam-malam Ramadhan tentu terasa berbeda dengan hari-hari biasa. Warna Ramadhan dan kebersamaan mengagungkan Allah inilah syiar yang ingin kita tunjukkan pada para ananda.

Apalagi mengingat keteladanan atau “mencontohkan” merupakan salah satu metode terbaik dalam proses pendidikan seorang anak, menimbang pada usia ini anak adalah “peniru”, yang belajar dari model “children see, children do” (anak melihat, anak meniru). Orang tua tentu berharap, berikhtiar dan berdoa bahwa melalui keteladanan dan pembiasaan, kelak mereka akan tumbuh menjadi kaum muda yang hatinya bertaut dengan masjid.

Tapi di sisi lain, anak-anak tetaplah anak-anak. “Tertib”, bergerak sesuai aturan, berkhidmat di dalam masjid untuk jangka waktu yang relatif lama adalah beberapa sikap yang punya tantangan tersendiri untuk ditanamkan pada usia ini. Bukan karena mereka “nakal” atau “tidak patuh” atau “tidak mau mendengar”, tapi karena proses tumbuh kembangnya sedang berada pada fase perkembangan motorik yang pesat.

Pada fase ini anak membutuhkan ruang yang luas, untuk melatih anggota tubuhnya yang terus ingin bergerak. Mereka ingin mencoba melakukan banyak hal, terutama gerakan-gerakan yang baru mereka kuasai. Berlari, melompat, berguling adalah wujud ekspresi “saya bisa!” atau “saya hebat!”. Gerakan yang jelas tidak tepat waktu, jika diekspresikan dalam shaf saat shalat sedang berlangsung.

Tentunya butuh proses yang tidak serta-merta, untuk memahamkan dan menjadikan sosok aktif ini agar mampu tertib sebagai makmum, mengikuti gerakan imam, menjaga shaf shalat, tidak bersuara keras, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana dengan bunda mereka yang tetap ingin menjemput pahala? Bolehkah para bunda tetap shalat tarawih berjamaah di masjid?

Masjidnya para bunda
Dalam salah satu ceramah, ustadz Adi Hidayat (UAH) menjawab pertanyaan tentang boleh/tidaknya perempuan shalat berjamaah di masjid. Penjelasan beliau dimulai dengan kisah perempuan Anshar yang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasullah enaknya jadi laki-laki. Bisa berjihad kapan saja, shalat berjamaah kapan saja.

“Rasulullah Saw memahami bahwa perempuan Anshar ini adalah utusan dari kaumnya. Maka Beliau Saw menjelaskan, bahwa semua hal yang disebutkan dan dilakukan para suami, apabila istri membantu mempersiapkan suaminya dan ridha akannya, maka istri akan memperoleh pahala yang sama, tanpa mengurangi pahala sang suami sedikit pun. Alhamdulillah, begitu Maha Adil-nya Allah SWT.

Selanjutnya, UAH menambahkan bahwa salah satu hadits yang biasanya dijadikan sebagai rujukan untuk melihat boleh/tidaknya perempuan shalat berjamaah di masjid adalah hadits riwayat Imam Ahmad r.a, dari Ummu Salamah r.a: “Sebaik-baik masjid bagi para perempuan adalah di bagian dalam rumah mereka.” Namun, menurut UAH, perlu diperhatikan juga konteks/kondisi ketika hadits ini di sampaikan, yaitu pada masa awal masjid-masjid baru dibangun dan memang lebih banyak mendatangkan mudharat bagi kaum perempuan bila mereka pergi ke masjid.

UAH menyampaikan, ada tiga kondisi yang perlu dipenuhi dan diperhatikan betul, ketika kaum perempuan ingin shalat berjamaah ke masjid. Ketiga kondisi ini sungguh adalah bentuk perlindungan dan pemuliaan. Pertama, perjalanan menuju masjid haruslah aman, tidak menimbulkan fitnah maupun bahaya untuk perempuan tersebut. Karena pada masa Rasulullah Saw, kondisi jalan, suasana lingkungan dan sikap kaum jahiliyah perlu betul-betul dipertimbangkan, demi keselamatan kaum perempuan.

Bila kondisi ini bisa dipenuhi, mungkin hadits riwayat Muslim r.a dari Salim bin ‘Abdullah bin “umar dapat dijadikan rujukan, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Janganlah kalian menghalang-halangi istir-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian, maka izinkanlah dia.”

Kondisi selanjutnya adalah ketersediaan tempat khusus bagi kaum perempuan. Alhamdulillah, masjid-masjid di gampong kita menyediakan shaf khusus untuk perempuan yang diberi pembatas, sehingga terpisah dari jamaah laki-laki. Karena shalat adalah ibadah, salah satu bentuk ketaatan dan penghambaan kita kepada Allah Ta’ala. Tentu harus dilaksanakan dengan tata cara yang ditentukan sesuai ketetapan hukum Allah, yang diajarkan Rasulullah Saw. Kemudhratan dan fitnah bisa saja timbul, bila kaum perempuan berada di masjid tanpa tempat khusus, sehingga bercampur-baur dengan shaf laki-laki.

Adanya syarat tentang ketersediaan tempat khusus ini mengingatkan pada indahnya pengalaman kami belasan tahun lalu, ketika berkesempatan menikmati “fasilitas mewah” untuk para bunda yang sedang menyusui atau memiliki balita. Menariknya, kemewahan ini justru kami nikmati ketika berada jauh dari gampong tercinta. Di negeri di mana “menjadi muslim” berarti menjadi “kaum minoritas”.

Menyambut Ramadhan tahun 2000, dalam kondisi hamil dan punya dua balita, yang kami bayangkan adalah “terkurung” di rumah ditemani kelabunya suasana musim dingin di kampung orang. Namun ternyata, di masjid Kota Burlington, Vermont, disediakan ruang khusus bagi ibu dengan balita. Suara imam, hafidz yang diundang dari sekolah tahfidz terkenal di Inggris, terdengar dari pengeras suara.

Ibu-ibu dan adik-adik mahasiswa yang sedang haidh bergantian menjaga para bocah. Ibu-ibu shalat dengan mengatur shaf, yang hanya selemparan pandang dengan buah hatinya. Pada saat itu, tak hanya menikmati indahnya Ramadhan, Subhanallah, kami juga berkesempatan menikmati indahnya persaudaraan dalam Islam.

Jalan surga
Selain mempertimbangkan dua kondisi, yaitu “keamanan perjalanan” dan “ketersediaan tempat”, ada kondisi ketiga yang juga perlu diperhatikan. Khusus bagi para bunda, ada kondisi istimewa saat para bunda sedang menyusui, atau sedang memiliki balita. Karena biasanya, ada beberapa hal yang lazim terjadi dalam rentang waktu pelaksanaan shalat tarawih berjamaah yang relatif cukup lama dibanding shalat berjamaah lima waktu.

Karena bosan, kanak-kanak bisa berlari-lari saat shalat jamaah berlangsung. Mereka juga bisa bersuara keras, atau yang balita bahkan menangis kencang. Kesemua tingkah polah ini seharusnya biasa bagi kanak-kanak dan dimaklumi orang dewasa. Akan tetapi, bila hal ini terjadi pada saat shalat berjamaah sedang berlangsung, tentu dipandang mengganggu kenyamanan beribadah jamaah yang lain.

Pada situasi seperti ini, jalan surga untuk kita, para bunda, Insya Allah, Allah janjikan justru ada dekat sekali, yaitu di dalam rumah kita sendiri.

Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hiyah 1/36, Abu Bakar mengatakan kepada Umar: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan menerima ibadah sunnah kecuali apabila amalan ibadah yang wajib telah ditunaikan” (Abu Zuhriy, 2011). Pernyataan Abu Bakar ini dikuatkan dengan penjelasan pandangan ulama “Barang siapa disibukkan perkara wajib sehingga melupakan perkara sunnah, maka ia termaafkan. Barang siapa yang disibukkan dengan perkara sunnah sehingga perkara wajib terbengkalai, maka ia adalah orang yang tertipu.”

Para bunda, mari menjemput pahala dalam rumah kita. Semoga Allah melindungi dan menjadikan Ramadhan ini Ramadhan terindah sepanjang hidup. Semoga setelah tugas mulia kita selesai, Allah berikan berkah waktu dan kesehatan, sehingga kita bisa berada dalam barisan shaf-shaf tawarih di Ramadhan-Ramadhan yang akan datang.

Semoga “kecemburuan” kita untuk berjamaah di masjid, segera bisa berwujud barisan shaf khusus para bunda. Sudah ada masjid-masjid yang memulai ini. Semoga masjid ramah bunda bisa juga wujud di gampong kita!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved