In Memoriam Morenk Beladroe: Seniman Ide Radikal dan Logo Falsafah Aceh-Jawa
Aceh kehilangan sosok kreator, seorang disain grafis, penyelenggara budaya, konseptor, dan motivator
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Muhammad Hadi
Ia salah seorang yang setia dengan kopi Gayo yang dikenalnya secara tidak sengaja sekembali dari Malaysia pada 2009.
"Saya sebetulnya tidak nyaman dengan kopi. Tapi saat minum kopi arabika gayo di Banda Aceh, justru yang terasa sebaliknya, ada yang unik dalam kopi gayo," katanya suatu ketika, saat ia menceritakan awal mula perkenalannya dengan kopi gayo.
Baca: Sopir Penabrak Balita di Batee Iliek Sudah Dijemput Tim Polres Bireuen
Itulah kemudian salah satu alasan, ia mendirikan Kopi Pancong di Kalibata City, tempat nongkrong yang menyediakan kopi arabika gayo. Hanya kopi arabika gayo.
Tempat itu menjadi salah satu sentral aktivitas budaya, baik Aceh maupun non-Aceh. Kopi Pancong terkenal sekali.
Ia pun terlibat di banyak acara budaya, yang dikerjakan keroyokan atau yang ia gagasi sendiri, antara lain The Rampoe Aceh, Cukup Sudah, Konser Maestro Rendra-Iwan Fals- Sawung Djabo di Banda Aceh dan banyak lagi.
Ia juga mendisain banyak kulit buku mengatur tata letak buku, salah satunya antologi puisi "Rencong" karya penysir Fikar W.Eda.
Morenk berasal dari "moreng" adalah majemuk dari "coreng" yang ia mahiri. Ia seorang "pencoreng-moreng" yang hebat.
Baca: Seniman Aceh, Morenk Beladroe Berpulang ke Rahmatullah di Jakarta, Jenazahnya Dibawa Pulang ke Aceh
Fachrulsyah Mega, sahabat Morenk mengaku Morenk sebagai seniman yang tak pernah kering ide.
"Ada banyak ide-ide segar yang muncul dari dalam dirinya," kata Fachrulsyah Mega.
Pengusaha Aceh, Sabri Aly, menyebut Morenk sebagai sahabat yang banyak sekali membantu dirinya, menyampaikan pandangan dan nasihat, baik dalam kaitan bisnis maupun pergaulan.
"Ia orang yang supel. Baik dan dekat. Saya sedih sekali nggak sempat hadir di hari pemakamannya karena saya lagi berada di luar kota," kata Sabri Aly.
Satu karya sekaligus tanda mata dari Morenk untuk Sabri Aly adalah logo perusahaan milik Sabri yang didisain Morenk.
"Logo perusahaan saya yang sekarang saya pakai di kartu nama saya, adalah karya Morenk, kami gabungkan falsafah Jawa dan Aceh. Luar biasa, saya kehilangan sahabat dan guru, dalam hal pegaulan dia nggak pernah menjelekkan karya orang," kenang Sabri Aly.
Baca: Takut tak Terangkut, Ratusan Mobil Wisatawan Dititip di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh
Ia pernah mengajak Morenk bergabung dengan perusahaan NET TV, tapi waktu itu, belum pas, sebab Morenk sedang di Bali.
Seorang karib Morenk yang lain, Ifdhal Kasim, mantan Ketua Komnas HAM, mengaku mengenal Morenk sebagai seniman dengan ide radikal, cerdas mengemukakan .
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/almarhum-morenk-kiri-dan-sabri-aly-tengah-dan-ben-polem.jpg)