Jurnalisme Warga

Mengenang Sultan di Monumen Meurah Due

KEINGINAN besar yang timbul dalam pikiran saya di awal tahun 2019 adalah harus bisa memecahkan rekor saya sendiri

Mengenang Sultan di Monumen Meurah Due
IST
SYAHRIL, S.Pd., Guru SMA Negeri 6 Banda Aceh, melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

OLEH SYAHRIL, S.Pd., Guru SMA Negeri 6 Banda Aceh, melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

KEINGINAN besar yang timbul dalam pikiran saya di awal tahun 2019 adalah harus bisa memecahkan rekor saya sendiri dengan mengayuh sepeda hingga ke Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya (Pijay). Sebelumnya, saya hanya mampu sebatas Saree, Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1994, artinya 25 tahun silam dengan sepeda Kennex mountain bike.

Kali ini bukan hanya ingin bersepeda hingga ke Meureudu semata, tapi juga ingin tahu lebih mendalam tentang sejarah Meureudu yang dulunya merupakan sebuah negeri sangat terkenal sejak raja Aceh termahsyur, yaitu Sultan Iskandar Muda singgah di Meureudu untuk mencari pasukan tambahan hingga mengangkat penasihat dan panglima perang Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1613 Masehi atau 406 tahun silam.

Lalu di bulan Januari saya membeli sebuah sepeda gunung dengan merek Polygon. Hanya butuh waktu lima bulan, saya berlatih keras baik pada waktu subuh, pagi, tengah hari, siang, sore, malam, bahkan di kala hujan lebat sekali pun. Di bulan puasa saya juga tetap berlatih pada sore hari setelah shalat Asar agar kondisi fisik tidak terlalu lelah dan dahaga.

Saya berpendapat di saat berpergian jauh sudah pasti cuaca bisa berubah setiap saat. Dari cuaca cerah, tiba-tiba menjadi mendung, lalu turun hujan lebat terkadang disertai angin. Jadi, dalam kondisi apa pun saya sudah siap. Dengan membaca bismillahirrahmanirrahim, tepat pukul 09.00 pagi Rabu, 5 Juni 2019, saya berangkat sendirian dari Banda Aceh. Dengan berbekal semangat dan pantang menyerahlah saya tiba di kota Meureudu pukul 18.05 WIB dengan jarak tempuh 156 km.

Sebelumnya, saya sempat singgah untuk shalat, makan dan istirahat di beberapa tempat seperti di Seulimeum, Saree, Padang Tiji, Grong-Grong, Sigli, Beureunueun, Luengputu dan Beuracan. Di samping itu saya juga menelpon keluarga dan saudara-saudara saya setiap kali berhenti agar mereka tahu di mana posisi dan keadaan saya. Ternyata mereka sangat mencemaskan keadaan saya, apalagi saat masih berada di pendakian Gunung Seulawah Agam. Dalam perjalanan ternyata kendaraan yang hilir mudik tidak terlalu padat sehingga sangat terasa nyaman bagi pesepeda. Benar-benar saya sangat menikmati perjalanan walaupun terasa sangat melelahkan tentunya.

Tiba di depan Meunasah Raya saya meminta seseorang untuk menjepret saya dengan latar belakang Monumen Meurah Due. Hal yang membuat hati saya bahagia adalah ketika keluarga dan saudara-saudara menyambut saya dengan sangat meriah. Mereka ternyata sepakat untuk berkumpul menyambut kedatangan saya. Sambil bersalaman mereka mengucapkan selamat Hari Raya Idulfitri dan sukses atas keberhasilan saya bisa memecahkan rekor pribadi atan nama saya sendiri.

Keesokan harinya saya berkunjung ke Meunasah Raya untuk bersilaturahmi dengan sejumlah tokoh masyarakat di sana. Sambil duduk di dalam Meunasah Raya, pandangan mata saya tertuju kepada Monumen Meurah Due. Setahu saya setiap dibuat sebuah monumen pasti ada sejarahnya. Tak ingin penasaran lebih lama, saya coba menggali kisahnya dari tokoh-tokoh di situ. Imum Meunasah Raya, Tgk Ilyas Hasballah mengatakan penamaan Meurah Due terkait dengan sejarah meluasnya wilayah Kerajaan Aceh Darussalam yang berpusat di Banda Aceh. Berdasarkan cerita turun-temurun di sana, Meureudu berasal dari kata Meurah Due yang artinya gajah duduk.

Kisah awalnya pada tahun 1613 M Sultan hendak menyerang Malaka dan Johor lalu beliau bergerak menuju Negeri Meureudu dengan mengendarai seekor gajah untuk menjumpai Teungku Japakeh yang akan diangkat sebagai penasihat perang, ahli siasat militer, dan Tgk Malem Dagang juga seorang ulama besar untuk diangkat sebagai panglima perang yang gagah perkasa dalam memimpin ekspedisi tentara Kerajaan Aceh. Namun, saat tiba di Meunasah Raya gajah tersebut kelelahan dan beristirahat. Lokasi armada gajah milik Kerajaan Aceh duduk beristirahat itulah yang disebut sebagai Meurah Due dan kemudian menjadi Meureudu. Lokasi gajah duduk milik Sultan Aceh tersebut berada di Gampong Meunasah Raya, Meureudu.

Informasi lain yang saya dapatkan dari tokoh yang berbeda mengatakan Sultan Iskandar Muda sangat memberikan perhatian istimewa terhadap Negeri Meureudu ini. Meureudu bahkan pernah dicalonkan sebagai ibu kota Kerajaan Aceh Darussalam. Cara yang dipakai juga sangat alami yaitu dengan cara menimbang air Krueng Meureudu dengan air Krueng Aceh. Hasil percobaan tersebut ternyata kualitas air Krueng Meureudu lebih bagus daripada Krueng Aceh. Namun, ternyata ada terjadi suatu konspirasi elite politik di tingkat Kerajaan Aceh dengan mengganti air tersebut. Hasilnya ibu kota Kerajaan Aceh tetap berada di Kota Banda Aceh.

Dalam rangka mempersiapkan pemindahan ibu kota kerajaan tersebut, Sultan Iskandar Muda mendirikan sebuah benteng di Meureudu. Untuk kesekian kalinya saya lagi-lagi menjadi penasaran, lalu saya mohon izin kepada mereka untuk melihat langsung lokasi bangunan benteng yang bernama Kuta Batee. Setelah lebih kurang 15 menit bersepeda akhirnya saya melihat dan menemukan Benteng Kuta Batee yang letaknya tidak seberapa jauh dari Masjid Kuta Batee dan Krueng Meureudu.

Jumat, 7 Juni 2019 setelah sarapan pagi dan minum secangkir kopi panas, saya kembali mendayung sepeda menuju Monumen Meurah Due dan melihat dari dekat dengan lebih teliti. Ternyata kondisi monumen yang diresmikan oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Aceh, Zainuddin AG pada tanggal 5 November 1998 itu dalam kondisi sangat memprihatinkan. Cat-cat yang mewarnai lukisan terkelupas hampir 90%. Sebagai contoh warna asli hijau menjadi biru muda. Warna asli hitam lama-kelamaan menjadi abu-abu. Pagar beton yang mengelilingi dan menghiasi monumen telah hancur sekitar 50% dan apabila dibiarkan terlalu lama bukan tidak mungkin akan hancur seluruhnya.

Ketika saya perhatikan miniatur lonceng Cakradonya dari dekat harus diganjal dengan dua bilah papan sebagai penyangga. Papan pamflet Monumen Meurah Due sedang mengalami perkaratan besi sekitar 85% sehingga hampir menutupi seluruh tulisan yang ada. Apabila ada kunjungan wisatawan dari luar daerah/luar negeri mereka hampir tidak bisa membacanya dengan jelas dan ini tentu sangat merugikan situs kebanggaan sejarah masyarakat Meureudu sendiri nantinya.

Ketika hal ini saya konfirmasikan kepada Sekretaris Desa Abdul Halim SP, beliau mengatakan bahwa selama ini Monumen Meurah Due sebagai situs cagar budaya kurang mendapat perhatian dari pemerintah untuk direnovasi.

Hal senada diutarakan Geuchik Meunasah Raya, Mahmudi M Daud bahwa masyarakat Meureudu pada umumnya dan warga Meunasah Raya khususnya sangat mengharapkan kepada Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk merenovasi situs Monumen Meurah Due yang memiliki sejarah peradaban Islam yang tinggi. Monumen itu hendaknya dilengkapi sedikit dengan catatan tulisan tentang sejarah perjalanan panjang sang Sultan yang sangat ditakuti lawan dan disegani kawannya, yaitu Sultan Alaiddin Iskandar Muda Meukuta Alam yang pernah singgah di Negeri Meureudu bersama gajah yang menjadi tunggangannya agar kelak di kemudian hari sejarah ini bisa dibaca kembali, diingat, lalu menjadi contoh teladan bagi anak cucu kita.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved