Kopi Beungoh

Adu Sakti

Sepertinya benar, dan memang benar, bahwa cerita kudeta di mana pun di belahan dunia mana pun, pastilah secepat kilat. Dalam hitungan hari.

|
Editor: Nurul Hayati
For Serambinews.com
Muhammad Alkaf 

Oleh: Bung Alkaf *)

KEDATANGAN Kolonel Latief menjumpai Suharto di malam penjemputan para perwira tinggi Angkatan Darat menjadi polemik berkepanjangan, terutama setelah kejatuhan Suharto abad silam.

Kedatangan Latief menjumpai Suharto pada malam itu menjadi alasan sejarah revisionis pascaOrba untuk menggebuk Suharto dengan keras.

Jari telunjuk orang di Indonesia yang baru lepas dari kerangkeng batin dan fisik Orde Baru semua mengarah kepada Suharto.

Dia dianggap telah mengetahui rencana penjemputan yang berujung kepada pembunuhan perwira tinggi Angkatan Darat itu, tetapi tidak melakukan apa pun.

Kecurigaan semakin bertambah, mengapa perwira senior sepertinya selamat dari malam jahanam itu.

Cerita Kolonel Latief tentang perjumpaan itu juga disampaikan oleh Suharto di berbagai kesempatan, termasuk dalam buku otobiografinya, "Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya."

Dalam buku itu, Suharto mengakui bahwa Latief, yang pernah menjadi anak buahnya, menjumpai dirinya, yang dimaknai oleh Suharto untuk memastikan di posisi Suharto di malam tiga puluh September itu.

Karena dia tidak berada di rumah, menurut Suharto, selamatlah dia dari upaya penjemputan yang kemudian diketahui dilakukan oleh Resimen Cakrabirawa.

Sejarah Polititk 1965 memang tidak sesederhana itu.

Baca juga: Aktivis HMI & Dandim Aceh Singkil Nobar Film G30S PKI

Bagi generasi yang tumbuh dalam dunia simulakra Orde Baru, peristiwa malam tiga puluh September telah sampai pada titik aksiomatik bahwa gerakan itu dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

PKI yang menggerakkan para sekelompok prajurit dan perwira menengah untuk mendatangi, mendobrak, menembaki, dan menculik para jenderal itu.

Rekaman itu begitu kuat karena Orde Baru melakukannya dengan masif dan sistematis.

"Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film," tulis Herlambang Wijaya dalam bukunya itu.

Orde Baru melakukan penguasaan sejarah agar menjadi cerita tunggal melalui beragam medium, salah satunya film. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved