Balai Bahasa

Literasi Digital “Mengapa harus Cerdas”

Sangat derasnya arus informasi melalui berbagai media khususnya media daring atau online

Editor: bakri

Oleh: Iskandar Syahputera, Peneliti di Balai Bahasa Aceh

Sangat derasnya arus informasi melalui berbagai media khususnya media daring atau online maka sudah seharusnya masyarakat membekali diri dengan kecerdasan literasi digital. Kecerdasan literasi yang dimaksudkan di sini adalah suatu kecerdasan atau keterampilan berliterasi digital yang berhubungan dengan media yang berhubungan dengan jaringan internet seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, dan media-media yang menggunakan jaringan internet atau daring.

Adapun kecerdasan atau keterampilan digital yang diharapkan di sini adalah bagaimana masyarakat sebagai pengguna media daring atau online tersebut dapat tanggap dan cerdas terhadap segala informasi yang diterima dengan menelaah, menganalisis, berpikir kritis, menyaring, dan mengkonfirmasi kebenaran dari informasi atau berita yang diterima sebelum mengambil tindakan lebih lanjut. Kemampuan untuk menelaah, menganalisis, berpikir kritis, menyaring, dan mengkorfirmasi kebenaran dari informasi dan sebuah berita tersebut dapat diperoleh dengan proses latihan dan kepedulian masyarakat itu sendiri terhadap pentingnya kecerdasan dalam berliterasi digital.

Dikutip dari Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.

Namun, di sini Gilster hanya menyoroti kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi, sehingga belum betul-betul menekankan pada kemampuan untuk menelaah, menganalisis, menyaring, dan mengkonfirmasi kebenaran dari suatu informasi atau berita. Untuk itu penulis dalam kesempatan ini berupaya membagi kecakapan literasi digital dalam tiga bentuk yaitu Cerdas Literasi Digital, Teliti Literasi Digital, dan Konfirmasi Literasi Digital.

Cerdas Literasi Digital
Adapun yang dimaksud dengan Cerdas Literasi Digital yaitu bagaimana pengguna media digital; daring atau online dapat berpikir cerdas baik dalam memilih atau memilah segala konten informasi yang sesuai dengan kebutuhan dirinya baik dari segi umur, aspek ilmu pengetahuan maupun aspek sosial politik.

Cerdas juga berarti pintar dalam menyaring segala informasi maupun berita yang diperolehnya sebelum diyakini sebagai suatu informasi yang berguna bagi dirinya ataupun sebagai informasi yang dapat digunakan bagi orang lain. Cerdas juga berarti tanggap dan cekatan dalam melihat kebenaran yang ada dalam sebuah informasi atau berita yang diperoleh. Cerdas juga berarti pintar dalam mencari alasan dan jawaban atau fakta-fakta kebenaran yang yang diperoleh dari informasi atau berita tersebut.

Teliti Literasi Digital
Sementara yang dimaksud dengan Teliti Literasi Digital yaitu bagaimana masyarakat pengguna media digital dapat lebih teliti dalam mengelola informasi atau berita yang diperolehnya. Teliti juga dapat diartikan sebagai sikap kehati-hatian didalam memproses sebuah informasi atau berita dengan melihat dari bebagai sudut pandang bagaimana sebuah informasi atau berita tersebut dihadirkan.

Teliti juga merupakan sebuah upaya penyelidikan dengan melihat latar belakang atau alasan dari bagaimana sebuah informasi atau berita tersebut dihadirkan sehingga menjadi sebuah konsumsi publik.

Konfirmasi Literasi Digital
Konfirmasi atau tabayun adalah sebuah upaya untuk mencari kebenaran dari sumbernya. Mengkonfirmasi artinya juga suatu upaya untuk membuktikan kebenaran melalui menanyakan langsung suatu kebenaran dari suatu informasi atau berita baik langsung pada sumbernya ataupun fakta-fakta lain yang dapat mengkonfirmasi kebenaran dari suatu informasi atau berita tesebut.

Ada enam kemampuan literasi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh masyarakat kita, seperti yang diutarakan oleh Douglas A.J. Belshaw dalam tesisnya “What is Digital Literacy?” (2011) mengatakan bahwa ada delapan elemen dasar untuk mengembangkan literasi digital, yaitu: (1) kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital; (2) kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten; (3) konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual; (4) komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital; (5) kepercayaan diri yang bertanggung jawab; (6) kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru; (7) kritis dalam menyikapi konten; dan (8) bertanggung jawab secara sosial.

Secara sederhana elemen kultural dapat dipahami bahwa seseorang harus betul-betul memahami bahwa ia sedang berada pada konteks apa atau budaya mana? ketika ia sedang memperoleh informasi atau sedang menyampaikan sebuah informasi. Sehingga konteks sosial, budaya, agama, moral, dan etika tidak dapat dilepaskan dari sebuah kegiatan literasi.

Sebagai contoh bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai budaya, agama, moral, dan etika sudah barang tentu tidak bisa begitu saja mengabaikan nilai-nilai tersebut begitu saja. Sehingga ketika seseorang memproses sebuah aktivitas literasi maka secara otomatis nilai-nilai tersebut akan menjadi alat sensor, ukur, dan sekaligus penyaring apakah aktivitas dari sebuah kegiatan literasi tersebut sudah sesuai dengan nilai-nilai budaya atau kultural yang kita pedomani atau tidak.

Dengan adanya sensor tersebut maka tentu akan lahir generasi-generasi yang cerdas dalam melakukan aktifitas literasinya baik dalam aktivitas digital maupun aktivitas literasi konvensional. Adapun yang dimaksud dengan elemen kognitif adalah bagaimana seseorang mampu menganalisis isi dari informasi yang diterima atau yang akan dibuatnya. Apakah informasi tersebut mengandung nilainilai kebenaran, sesuai dengan fakta atau tidak, melanggar norma budaya, agama, moral, dan etika, bahkan mengandung nilai-nilai kebohongan atau hoaks.

Lebih parah lagi, hal-hal yang engandung ujaran-ujaran kebencian dan provokasi yang dapat merusak nilai-nilai persatuan dan tatanan hidup masyarakat. Untuk kemampuan kognitif menjadi kecerdasan yang penting untuk dibangun dan dikembangkan dalam kecerdasan berliterasi digital. Akhirnya melalui kemampuan dalam menginternalisasikan keseluruh elemen-elemen dasar literasi digital tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi yang cerdas dalam melakukan aktivitas literasi digitalnya yang bebas dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya ketimuran, agama, moral, dan etika yang kita anut dan jauh dari hal-hal yang berbau hoaks dan ujaran kebencian. Salam literasi!

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved