Banda Aceh dan Aceh Besar Krisis Air Baku

Permukaan air Krueng Aceh saat memasuki minggu kedua bulan Juli ini menurun dari 3 menjadi 2 bahkan

Banda Aceh dan Aceh Besar Krisis Air Baku
AMINULLAH USMAN,Wali Kota Banda Aceh

* Debit Air Krueng Aceh Terus Menurun

BANDA ACEH - Permukaan air Krueng Aceh saat memasuki minggu kedua bulan Juli ini menurun dari 3 menjadi 2 bahkan hanya tersisa 1,5 meter lagi dari dasar sungai. Kondisi ini berdampak negatif terhadap penyediaan air baku untuk PDAM dan bendungan irigasi yang ada di sepanjang Krueng Aceh.

Yang paling terancam krisis air bakunya akibat berkurangnya debit air Krueng Aceh ini adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy Banda Aceh dan PDAM Tirta Mountala Aceh Besar.

“Sejak permukaan air di Krueng Aceh menurun sampai 2 meter, produksi air baku PDAM telah menurun 50 persen. Dalam kondisi normal dengan ketinggian air 3-4 meter dari dasar sungai, debit sedotan air baku ke kolam pengolahan air bersih tekanannya mencapai 700-750 liter/detik. Tapi saat ini setelah turun, tekanan air baku berkurang menjadi 350-300 liter/detik,” ungkap Direktur PDAM Tirta Daroy, Teuku Novizal Aiyub kepada Serambi, Senin (8/7) di ruang kerjanya, ketika dimintai keterangannya tentang semakin menurunnya permukaan air Krueng Aceh.

Sungai ini hulunya di pegunungan Aceh Besar, melintasi Kota Banda Aceh, dan bermuara di kawasan Lampulo Banda Aceh. Baik PDAM Tirta Mountala, maupun PDAM Tirta Daroy sama-sama mengambil air baku dari Krueng Aceh kemudian diolah dan didistribukan ke pelanggan yang jumlahnya puluhan ribu.

Novizal menyebutkan, jumlah sambungan meteran air PDAM Tirta Daroy saat ini sekitar 50.000 unit. Jika setiap satu sambungan air PDAM digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi lima orang, maka jumlah orang yang membutuhkan air PDAM di Banda Aceh mencapai 250.000 orang. Ini jumlah yang sangat besar. Nah, jika debit air bersih yang dipompakan ke 50.000 sambungan itu menurun setengah dari kondisi normalnya, bakal banyak rumah penduduk, pertokoan, perkantoran, kafe, hotel, tempat-tempat usaha, dan industri kecil dan menengah yang butuh air bersih, tidak mendapat suplai air yang maksimal dari pipa air PDAM Tirta Daroy.

Kondisi itu, kata Teuku Novizal, bukan disebabkan ketidakmampuan PDAM Tirta Daroy memproduksi air bersih, melainkan karena sumber air bakunya yang diambil dari Krueng Aceh di Lambaro, permukaan airnya sudah menurun. Turunnya malah setengah dari ketinggian normal 4-3 meter turun menjadi 2-1,5 meter dari dasar sungai.

Menurunnya permukaan air Krueng Aceh, menurut Teuku Novizal, disebabkan sejak habis Lebaran sampai Juli ini sudah sangat jarang turun hujan. Kondisi itu membuat permukaan air Krueng Aceh terus menurun.

Penyebab kedua, lanjut Novizal, bendungan karet Krueng Aceh di Lambaro yang berfungsi menahan air hujan untuk penyediaan air baku PDAM Tirta Daroy dan Tirta Mountala, bagian bawah bendungan karetnya sudah koyak sepanjang 3 meter akibat dihantam kayu besar yang turun bersama air bah pada Desember 2018 sewaktu musim penghujan.

Sampai kini, ungkap Novizal, bagian bawah bendungan karet yang sudah koyak itu belum diperbaiki, sehingga pada waktu hujan turun, bendungan karet tak bisa berfungsi menahan sebagian air hujan yang turun dari hulu sungai.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved