citzen reporter

Istana Alhambra, Sisa Kejayaan Islam di Spanyol

INI adalah lanjutan cerita perjalanan saya dengan keluarga yang pernah dimuat di rubrik Citizen Reporter Harian Serambi Indonesia

Istana Alhambra, Sisa Kejayaan Islam di Spanyol
IST
YUSMARDANI ARYA PUTRA, S.T., M.Si, warga Gampong Jeuneu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar dan pengusaha laundry, melaporkan dari Granada, Spanyol

OLEH YUSMARDANI ARYA PUTRA, S.T., M.Si, warga Gampong Jeuneu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar dan pengusaha laundry, melaporkan dari Granada, Spanyol

INI adalah lanjutan cerita perjalanan saya dengan keluarga yang pernah dimuat di rubrik Citizen Reporter Harian Serambi Indonesia pada 27 Juni 2019 dengan judul Pesona Maroko, Negeri Matahari Terbenam.

Gambaran keindahan sisa kejayaan Islam di Spanyol ini juga telah saya rekam dalam bentuk video/vlog di Channel Youtube saya bernama Yusmardani Arya Putra dengan hashtag #tripmarokodanspanyol.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Spanyol setelah beberapa hari sebelumnya berada di Maroko dan mengunjungi kota-kota indahnya. Perjalanan ke Spanyol dimulai dari Kota Tangier, Maroko. Dari sini kami menyeberang Selat Gibraltar ke daratan Eropa menggunakan kapal feri. Saya merasakan seolah-olah sedang tapak tilas perjalanan Thariq bin Zyiad, seorang jenderal dari Dinasti Umayyah bersama pasukannya yang berhasil menaklukkan daratan Andalusia (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar, dan sekitarnya) pada tahun 711 Masehi atau 1.308 tahun yang lalu. Nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab; Jabal Tariq yang artinya Gunung Tariq, tempat pertama Tariq bin Zyiad mendarat di dataran Andalusia yang kemudian ditabalkan menjadi nama Selat Gibraltar.

Menyeberangi selat ini hanya sekitar 35 menit saja. Di selat inilah tempat bertemunya air tawar dari Laut Mediterania dan air asin dari Samudra Atlantik. Jauh sebelum rahasia ini terungkap, Alquran telah menjelaskan tentang kejadian ini dalam Surah Arrahman ayat 19-20. “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Kemudian dalam surah lain juga dijelaskan, “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Surah Alfurqan ayat 53). Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.

Sesampai di Kota Tarifa, Spanyol, kami lanjutkan perjalanan ke Kota Granada. Ada sebuah peninggalan umat Islam yang sangat bersejarah di kota ini, yaitu Istana Alhambra. Istana ini adalah sebuah hasil karya seni yang sangat tinggi sepanjang peradaban manusia kala itu bahkan sampai detik ini. Siapa saja yang pernah menginjakkan kakinya di sini akan berdecak kagum tak henti. Untuk masuk ke dalam istana, kita harus reservasi tiket minimal satu bulan sebelumnya karena pengunjung yang sangat ramai dan dibatasi setiap harinya. Harga tiketnya 14,85 (sekitar Rp 237.000) per orang.

Istana ini berdiri kokoh di Bukit La Sabica dengan latar belakang Gunung Siera Nevada yang puncaknya diselimuti salju abadi. Dibangun secara bertahap dari tahun 1238 sampai 1358 M oleh Kerajaan Bani Ahmar atau Bangsa Moor dari daerah Afrika Utara. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidilah, seorang sahabat Rasulullah dari suku Khazraj di Madinah.

Ditemani oleh seorang guide lokal, kami menelusuri tiap-tiap bagian dari istana ini. Setidaknya ada dua bagian yang menjadi ikon Istana Alhambra, yaitu Palacio De Comares dan Palacio De Los Leones. Palacio De Comares merupakan singgasana sultan. Di tempat ini ada sebuah kolam dengan air pancurnya yang terbuat dari marmer putih. Dari ujung kolam kita dapat melihat pantulan bangunan istana seperti cermin. Pantulannya begitu indah dan simetris. Makna yang tersirat pada desain bagunan ini adalah refleksi dunia dan akhirat. Apa yang kita kerjakan di dunia merupakan cerminan apa yang kita dapat di akhirat.

Tepat bersebelahan dengan Palacio De Comares, terdapat Palacio De Los Leones yang merupakan mahkota keindahan dari seluruh bagian Istana Alhambra. Ini dibangun oleh Sultan Muhammad V sebagai tempat peristirahatannya. Seluruh dinding istana dipenuhi kaligrafi Alquran dan lafaz Allah yang bercorak kufi. Sangat detail pahatannya, siapa saja yang memandang pasti akan takjub dengan kemampuan manusia pada abad ke-12 itu. Ditopang oleh 128 tiang dari marmer yang unik dan cantik, banyak ditiru oleh bangunan lain di dunia. Salah satunya adalah tiang pada Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. Yang menjadi titik pusat bangunan ini adalah kolam air pancur yang dikelilingi 12 patung singa dari marmer putih. Dari mulut patung singa itulah keluar air pancur. Dulu tempat ini digunakan sebagai tempat wuduk bagi seluruh penghuni istana. Sistem hidrolik air pancurnya adalah sistem tanam yang masih asli buatan abad ke-12 dan hingga kini masih bekerja secara baik dengan tekanan air yang konstan. Sumber airnya berasal dari Sungai Daro yang hulunya langsung dari pegunungan Siera Nevada.

Setelah puas mengelilingi Istana Alhambra, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Cordoba. Di sini ada juga peninggalan peradaban Islam, yaitu Masjid Cordoba. Secara historis Masjid Cordoba dulunya adalah sebuah katedral bernama Visigoth St Vincent, dibangun oleh bangsa Visigoth. Setelah Andalusia dikuasai muslim, lokasi tersebut kemudian dibagi menjadi dua porsi, sebagian untuk muslim dan bagian lainnya untuk Katolik. Pembagian ini bertahan hingga ketika Khalifah Abdurrahman I membeli porsi Katolik yang kemudian merubuhkan seluruh bangunan dan menggantikannya dengan membangun Masjid Cordoba pada tahun 787 M. Setelah selesai masa kepemimpinan Abdurrahman I, Masjid Cordoba terus mengalami renovasi. Penerusnya, Abdurrahman II menambahkan menara dan di masa pemerintahan Al-Hakam II masjid ini diperbesar dan dibangun mihrabnya. Renovasi terakhir dilakukan pada masa Al-Mansur Ibn Abi Aamir tahun 987 M dengan membangun jalur penghubung langsung ke istana.

Gaya desain, arsitektur, ukiran, dan material bangunan yang dipilih membuktikan bahwa peradaban Islam pada saat itu sangat termahsyur. Ukiran-ukiran kaligrafi pada dinding marmer tiada tandingannya, bahkan sampai saat ini. Pada bagian selatan masjid, terbentang Jembatan Cordoba yang kokoh memotong Sungai Al-Wadi Al-Kabir.

Saat itu, Masjid Cordoba menjadi pusat dan kiblat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia menyaingi Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium di benua Eropa, Kota Baghdad, ibu kota Daulah Abbasiyah di timur, Kota Kairawan dan Kairo di Afrika, sehingga orang-orang Eropa menyebut Cordoba dengan “Mutiara Dunia”.

Sampai akhirnya, kejayaan Islam jatuh ke tangan Kerajaan Katolik. Tahun 1236 M, Mesjid Cordoba diambil alih oleh Raja Ferdinand III setelah sebelumnya berhasil menaklukkan pasukan kaum muslimin di Andalusia. Ia mengubah fungsi masjid menjadi gereja. Masjid dengan luas bangunan yang mencapai 17.000 m² ini pada awalnya memiliki 1.293 pilar, tapi kini hanya tersisa 856 pilar. Bangunan ini kemudian mengalami beberapa penambahan dan penghancuran. Penambahan ini tentu saja terkait dengan keperluan peribadatan Katolik, seperti lonceng di menara masjid dan pembangunan Katedral Renaisans di tengah struktur bangunan masjid.

Kini Masjid Cordoba sudah tinggal sejarah. Tapi sebagai bangunan dan arsitektur, ia masih tetap kokoh berdiri. Di sekelilingnya masih sangat banyak peninggalan Masjid Cordoba seperti tulisan ’Laa ilaaha illallah Muhammadar Rasullullah’ di antara banyak pilar serta lafaz Allah dan kalam Alquran di atas mihrab yang berasal dari emas murni yang berumur lebih dari 1.000 tahun.

Demikian juga dengan Istana Alhambra di Granada. Raja terakhir, Sultan Muhammad XII Abu Abdillah An-Nashiriyyah tak sanggup mempertahankan kerajaannya. Istana Alhambra harus jatuh ke tangan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella pada 2 Januari 1492 M. Kemegahan dan keindahan istana ini pun luntur setelah menjadi Istana Katolik. Hanya beberapa kaligrafi dan lafaz Allah yang masih disisakan. Kejatuhan kerajaan ini juga sebagai fase terakhir dari sejarah kejayaan Islam di bumi Spanyol.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved