Kamis, 16 April 2026

Minat Petani Pidie Jaya Menanam Kedelai Menurun Drastis, Ini Alasannya

Sementara tanaman jagung yang sebelumnya amat sulit ditemui di sana, tapi belakangan pengembangannya semakin meluas.

Penulis: Abdullah Gani | Editor: Yusmadi
SERAMBINEWS.COM/ABDULLAH GANI
Petani Pidie Jaya memanen jagung. 

Laporan Abdullah Gani | Pidie Jaya

SERAMBINEWS.COM, MEUREUDU - Jika sekitar tiga atau empat tahun silam, tanaman kedelai di Pidie Jaya ditemui di sejumlah kecamatan terutama Bandarbaru, Trienggadeng serta Bandardua.

Namun sejak setahun terakhir nyaris menghilang sama sekali.

Sementara tanaman jagung yang sebelumnya amat sulit ditemui di sana, tapi belakangan pengembangannya semakin meluas.

Dari delapan kecamatan di Pidie Jaya, Bandardua dan Bandarbaru adalah yang terluas penanamannya.

Lalu yang menjadi pertanyaan apa alasan petani meninggalkan kedelai dan beralih ke jagung?

Sejumlah petani yang ditemui Serambinews.com dalam sepekan terakhir menyebutkan, mereka terpaksa harus ganti komoditi karena alasan tertentu.

Katanya, dari segi analisa hasil usaha bahwa, menanam jagung jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan kedelai. 

Modal yang dikeluarkan untuk tanam jagung lebih kecil ketimbang kedelai. Makanya kalau pun jagung gagal panen, tidak terlalu pusing kepala karena biaya yang dikeluarkan agak kecil.

Untuk luas satu hektare, kedelai menghasilkan paling tinggi 2,0 ton dengan harga jual Rp 6.000 berarti pendapatan kotor Rp 12.000.000.

Sementara jagung, hasil yang didapat per hektare paling rendah 7,0 ton dengan harga jual terendah Rp 3.000/kg sama dengan Rp 21.000.000.

Kedelai, selain modal atau biayanyabesar, mulai dari tanam, perawatan tanaman hingga panen pun penuh tanda tanya khusus harga jual.

Baca: Gunakan Pupuk Alami, Petani di Aceh Singkil Panen Belasan Ton Jagung

Baca: Ini Alasan Petani Pidie Jaya Malas Tanam Kedelai dan Beralih ke Jagung

Baca: Aceh Kembangkan 25.000 Ha Kedelai

Harga jual kedelai paling tinggi hanya Rp 6.000 per kilogram.

Sementara jagung paling rendah bisa laku dijual Rp 3.500 per kilogram.

Seperti penuturan Abubakar Sarrah, salah seorang petani Panteraja dan M Jamal, petani Gampong Kumba Kecamatan Bandardua.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved