Indonesia Darurat Masalah Sosial, Ada yang Tidak Beres dengan Dinamika Riset di Negeri Ini
Ada yang tidak beres dengan dinamika riset negeri ini. Alih-alih meneliti, para ilmuwan justru lebih banyak mengerjakan tugas administratif.
Penulis: Taufik Hidayat | Editor: Taufik Hidayat
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Engkik Soepadmo adalah satu dari 419 anak muda yang terpilih sebagai mahasiswa Akademi Biologi, sekolah khusus mendidik ahli Biologi generasi pertama di Ciawi, Jawa Barat, pada 1955-1968.
Saat itu, pemerintah Indonesia memang getol mencurahkan aset dan modal terbaiknya untuk mengembangkan biologi sebagai garis depan upaya dekolonialisasi ilmu pengetahuan nasional.
Di masa Belanda, biologi merupakan primadona sains kolonial. Setelah Hindia Belanda jadi Indonesia, sains pun dirasa perlu untuk "diindonesiakan".
Singkat cerita, dia lulus pada 1959 dan ditempatkan di Kebun Raya Bogor.
Dia lalu mendapat beasiswa studi doktoral di Universitas Cambridge, Inggris.
Setelah lulus dan proyeknya rampung pada 1968, Soepadmo diminta pulang dan mengabdikan dirinya di Kebun Raya Bogor. Dia pun memutuskan menolak.
Dalam buku Kegagalan Ilmuwan Hindia Belanda karya sejarawan Andrew Goss, Soepadmo menuliskan surat kepada botanis terkemuka Inggris dan Belanda, Kees van Steenis.
Dalam suratnya, dia menceritakan bagaimana rekan sejawatnya yang langsung pulang berpikir mereka bakal mendapat posisi lebih baik di Tanah Air.
"Namun secara tragis, setelah mereka tiba di Bogor, mereka hanya menjadi 'botanikus di belakang meja'," ucap pria yang memutuskan mengajar di Universiti Malaya itu.
Dia melihat ada yang tidak beres dengan dinamika riset negeri ini. Alih-alih meneliti, para ilmuwan justru lebih banyak mengerjakan tugas administratif.
Di suratnya, Soepadmo menceritakan bahwa di Kebun Raya, gaji sekretaris nyatanya lebih tinggi daripada peneliti.
Itulah seklumit kisah Soepadmo dan peliknya melakukan penelitian berdasarkan opini sejarawan Rahadian Rundjan di harian Jerman, Deutsche Welle 2017 silam.
Kepada Kompas.com, saat dikonfirmasi Rabu (10/7/2019) lalu, Rahadian menjabarkan tulisan yang dia buat dua tahun lalu itu masih relevan pada saat ini.
Dia menuturkan sebenarnya negara harus mempunyai kendali aras kehendak riset atas masyarakatnya.
Namun, dia menggarisbawahi harus ada batas tertentu dan tak mengekang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kupu-kupu-di-stasiun-riset-ketambe_20180117_170749.jpg)