Indonesia Darurat Masalah Sosial, Ada yang Tidak Beres dengan Dinamika Riset di Negeri Ini
Ada yang tidak beres dengan dinamika riset negeri ini. Alih-alih meneliti, para ilmuwan justru lebih banyak mengerjakan tugas administratif.
Penulis: Taufik Hidayat | Editor: Taufik Hidayat
Kendali, kata Rahadian, dalam arti pemerintah punya hak untuk membuat aturan hukum dan kebijakan terkait yang seharusnya mengarahkan sains ke arah lebih demokratis.
"Dalam praktiknya, pemerintah harus mampu menyediakan logistik dasar untuk perkembangan sains itu sendiri. Misal dana riset dan akses informasi yang luas bagi peneliti maupun publik," paparnya.
Esais asal Bogor ini meyakini pemerintah harus mampu mengendalikan arah sainsnya agar menghasilkan keuntungan bagi masyarakat.
"Jadi, Indonesia butuh ekosistem sains yang baik, baik itu infrastruktur fisik maupun mental setiap pelaku. Itu, saya rasa, kendali pemerintah harus difokuskan," tuturnya.
Apalagi dalam tulisannya, Rahadian menyoroti target nasional untuk melakukan pengembangan riset Indonesia 2045 mendatang, atau ketika satu abad kemerdekaan.
Rahadian melihat saat ini, Indonesia masih terpaku pada pengembangan ilmu pasti daripada ilmu sosial. Padahal, Indonesia saat ini sedang darurat masalah sosial.
Di antaranya adalah polarisasi masyarakat, hoaks, dan sebagainya. Seharusnya sarjana ilmu sosial dapat dukungan untuk memperbaiki masalah tersebut.
"Karena itu sebaiknya, kedua hal itu berjalan beriringan supaya target Indonesia Emas 2045 itu tercapai sepenuhnya, tak setengah-setengah," ucapnya.
Rahadian menjabarkan kurangnya target infrastruktur sains yang membuat ilmuwan seperti Soepadmo memutuskan kehilangan kewarganegaraan karena menolak untuk pulang.
Dia mengakui terdapat masalah dilematis. Di satu sisi jika sudah punya perjanjian hitam di atas putih dan didanai negara, tentunya mereka harus pulang untuk mengabdikan ilmunya di sini.
Tetapi, pemanggilan itu harus disertai dengan persiapan logistik untuk bekerja. Jangan sampai mereka cuma sebatas menjadi data statistik seolah mereka punya banyak orang pintar.
"Saya kasih contoh. Misalnya mereka didanai mahal-mahal untuk belajar menjadi pilot di luar negeri. Tetapi sudah di sini malah gak dikasih pesawat untuk diterbangkan," katanya.
"Kalau sesampainya di Indonesia mereka malah tidak bisa mengembangkan profesinya, ya mereka akan enggan untuk pulang," kata Rahadian.(Kompas.com)
Baca: 12 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Ibadah Kurban, Sebagian Masih Jadi Perdebatan di Masyarakat
Baca: Terkait Penyegelan Kantor DPW PAN Aceh, Ini Kata Ketua Definitif Teuku Hasbullah
Baca: Ini Nama Para Pemenang Rally Wisata Kota Banda Aceh
Baca: UIN Ar-Raniry Siap Tampung 4.625 Calon Mahasiswa Tahun Ini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kupu-kupu-di-stasiun-riset-ketambe_20180117_170749.jpg)