Breaking News

Siswi Berprestasi

Imelda Perankan Sosok Putroe Neng yang Legendaris di FL2SN Nasional

Putroe Neng adalah sebuah legenda tentang wanita cantik di Aceh yang 99 suaminya meninggal secara misterius di malam pertama.

Penulis: Saiful Bahri | Editor: Taufik Hidayat
Dok: SMKN 3 Lhokseumawe
Imelda, pemeran Putroe Neng bersama empat penari pria lainnya. 

Laporan Saiful Bahri | Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM – Putroe Neng, adalah sebuah legenda wanita cantik di Aceh yang 99 suaminya meninggal secara misterius di malam pertama.

Kisah legenda Putroe Neng yang merupakan pemimpin armada laut ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh secara umumnya.

Bahkan banyak juga masyarakat yang datang ke makam Putroe Neng yang terletak di pinggir Jalan Medan Banda Aceh, tepatnya di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe.

Nah, sosok Putroe Neng inilah yang diperankan Imelda (17), siswi cantik kelas 3 SMK Negeri 3 Lhokseumawe dalam sebuah tarian yang berdurasi 06:49 menit.

Sehingga ia pun kini berhasil mewakili Provinsi Aceh ke tingkat nasional pada even Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang akan berlangsung di Lampung, pada 15 September 2019 mendatang.

Lomba yang diikuti yakni cabang tarian tradisional.

Baca: Kisah Putroe Neng yang Nikahi 100 Pria, 99 Suami Meninggal Saat Malam Pertama

Baca: Kisah Heroik Laksamana Keumalahayati Diangkat dalam Bentuk Komik

Baca: Banda Aceh Juara FLS2N SMA Tingkat Provinsi Aceh

Imelda yang merupakan warga Meunasah Blang Crum, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe itu menyebutkan, tarian yang diberi judul  Putroe Neng ini melibatkan lima penari yang terdiri empat pria dan satu wanita.

Empat pria penari yang juga siswa SMK Negeri 3 Lhokseumawe itu adalah Zulfikar, T Saiful Munir, M Iqram Islami, dan Fadliyatul.

Sesuai tema pada tarian tersebut, keempat siswa berperan sebagai para suami Putroe Neng.

Tarian ini diawali intro musik etnis Cina, sehubungan legenda Putroe Neng yang berasal dari Cina dengan nama Nian Nio Lian Khie, dan masuk ke Aceh untuk menyatukan seluruh kerajaaan di Pulau Ruja (Sumatra).

Putroe Neng pun menari di atas sebuah kursi yang mirip tempat tidur raja.

Keempat pria menari di bawahnya diiringi musik kolaborasi Cina dan tradisional Aceh.

Satu menit kemudian, pola tarian berubah. Mereka mulai menyatukan beberapa tongkat untuk dijadikan tandu untuk mengangkat Putroe Neng

Selanjutnya, penari memperagakan gerakan-gerakan tarian saman.

Baca: Suhu Panas di Aceh Capai 33 Derajat Celcius, Enam Wilayah tak Hujan Hingga Tiga Hari ke Depan

Baca: Peternak Aceh Utara ini Terkurung dalam Rumah saat Terbakar, Begini Caranya Menyelamatkan Diri

Baca: Pembalap Arif Murizal Meninggal Tabrakan di Sirkuit, Posisi 2 di Lap Terakhir, Begini Kronologinya

Baca: Dendam Pernah Diselingkuhi, Seorang Wanita Nekat Potong Alat Vital Mantan Suaminya

Lalu, penari pria pun mengambil properti seperti kelambu untuk menutup kursi yang semula dijadikan tempat menari Putroe Neng

Putroe Neng pun masuk ke dalam kelambu peraduan di malam pertamanya.

Penari pria pun masuk satu per satu secara bergantian. Tentunya melalui gerakan-gerakan tarian yang unik.

Terakhir, keempat penari pria yang memerankan para suami Putroe Neng, meninggal di dalam kelambu.

"Karena durasi tarian dibatasi, maka kami hanya mengisahkan hanya untuk empat suaminya saja," ujarnya.

Baca: Cerita Kafilah Universitas Borneo Tarakan Menuju MTQMN di Unsyiah, Butuh Dua Hari untuk Tiba di Aceh

Baca: Isak Tangis Pemain Aceh Saat Kalah Dramatis di Partai Final DNC Nasional, DKI Jakarta Juara

Baca: Ingin Menyaksikan MTQMN di Unsyiah, Ini Lokasi Acara dan Jadwal Lengkapnya

Baca: Warung Karaoke di Kloneng Langsa Digrebek WH dan Polisi

Sementara, dalam sejarah yang tercatat, terdapat 99 orang suami Putroe Neng yang meninggal di malam pertama bersamanya.

Hanya Syekh Syiah Hudam, suami ke-100 yang selamat dari maut saat mempersunting Putroe Neng.

Karena sebelum menjalani malam pertama, Syekh Syah Hudam berhasil menarik racun yang ditanam di organ genital Putro Neng yang ditanam oleh Sang Nenek saat ia masih kecil.

Tarian ini dilatih oleh Angga, dan proses latihan dilakukan sejak pertengahan Mei 2019.

Namun, karena Imelda dan keempat temannya itu memang sudah menari sejak masih SMP, membuat mereka cepat menguasai gerakan-gerakan tarian tersebut.

Dengan membawa nama sekolahnya, SMK Negeri 3, mereka pun mengikuti FLS2N tingkat Kota Lhokseumawe pada 15 Juli 2019.

Hasilnya, mereka berhasil meraih juara satu. Sehingga berhak mewakili Lhokseumawe ke tingkat provinsi.

Baca: Begini Posisi PNA Selama Pemerintah Dijabat Plt Gubernur

Baca: Subscriber-nya Mencapai 15 Juta, Ria Ricis Pamit dari YouTube, Ini Alasannya

Baca: Ratusan Emak-Emak Blokir Pantai Mantak Tari, Dirikan Tenda di Dua Jalan Masuk, Ini Alasannya

Pada 20 Juli 2019 lalu, mereka pun tampil di tingkat Provinsi Aceh di Banda Aceh.

Juri pun kembali memilih mereka sebagai juara dan berhak mewakili Aceh ke tingkat nasional.

"Semoga kami nantinya bisa mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional," ujar Imelda.
Kepala SMK Negeri 3 Lhokseumawe, Irwan SPd MSi, mengaku bangga dengan prestasi yang diraih siswa-siswinya.

Menjelang keberangkatan ke Lampung, keempat penari ini terus menjalani latihan secara maksimal.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved