Jejak Sang Legenda
Kisah PMTOH, Bus Aceh Pertama yang Trayeknya Tembus ke Pulau Jawa (Bagian 1)
Pilihan buka trayek ke Jakarta sampai Solo dan Yogyakarta, kata Jumadi, bukan tanpa alasan.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
"Era tiket pesawat murah itulah yang merontokkan kami. Bayangkan ke Jakarta naik pesawat 500 ribu perak, sama dengan ongkos bus," kata Jumadi, prihatin.
Satu per satu kantor PMTOH tutup.
Saat ini hanya ada di Aceh, Medan, Jakarta, Solo.
Bisnis PMTOH kemudian tidak lagi sepenuhya bertumpu mengangkut penumpang.
Melainkan juga dikembangkan jadi angkutan barang.
"Kami ikut main di usaha kargo, sebab mengandalkan penumpang, tidak kuat," ujar Jumadi.
Salah satu komoditi yang diangkut adalah kopi.
Per pekan mencapai 5 ton.
Kopi diangkut ke Jakarta dan Bandung.
"Kopi yang kita angkut sudah dalam kemasan yang sangat baik. Selain biji mentah ataub green bean juga biji roasting. Usaha kopi akhir-akhir ini luar biasa," kata Jumadi seraya menyeruput kopi hitam yang tinggal separuh lagi.
Aceh adalah penghasil kopi utama di Indonesia untuk jenis arabika.
Wilayah terluas berada di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Terkenal dengan merek kopi Gayo.
"Saya generasi ketiga PMTOH tetap akan mempertahankan usaha ini sebaik-baiknya. Tentu saja dengan penyesuaian-penyesuaian sesuai perkembangan zaman. Seperti berdiversifikasi kepada usaha angkutan barang," demikian Jumadi Hamid.
Ia memang sedang berjuang keras.(bersambung)