Salam

Bercadar Lebih Aman Bagi Para Santriwati

Para santri wanita atau santriwati Pesantren An, kini wajib bercadar di lingkungan baru pesantren itu

Bercadar Lebih Aman Bagi Para Santriwati
Serambi
Para santri wanita Pasantren An yang menggunakan cadar. Foto direkam Minggu (28/7/2019). 

Para santri wanita atau santriwati Pesantren An, kini wajib bercadar di lingkungan baru pesantren itu, yakni di bekas lahan Pesantren Al-Muhajirin Buket Rata, Desa Meunasah Masjid Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. Pemakaian cadar bagi santriwati itu, selain dalam upaya belajar menutup aurat secara sempurna, tapi juga diyakini dapat mencegah hal-hal buruk seperti pelecehan terhadap santriwati.

“Dulunya santri wanita sudah diwajibkan bercadar, tapi hanya saat proses pengajian berlangsung. Tapi sekarang wajib bercadar selama berada di lingkungan pesantren,” ujar pimpinan yasasan pesantren itu. Menurutnya, kebijakan mewawjibkan cadar bagi santri wanita ini juga bagian dari kesepakatan dalam rapat dengan para orangtua santri.

Pesantren An ini memang sedang dirudung duka setelah guru dan pimpinannya ditangkap polisi sebagai tersangka pelaku perbuatan tak pantas terhadap beberapa santri prianya. Masyarakat memaksa pesantren itu pindah dari lingkungan mereka. Dan, polisi masih terus menyidik kasus pelecehan.

Aturan wajib menggunakan cadar bagi santri wanita di lingkungan pesantren ini bukan hal baru di Aceh. Sebelumnya, beberapa dayah atau pesantren di Aceh, seperti di Samalanga, Kabupaten, Bireuen, juga sudah lama mewajibkan santriwatinya mengenakan cadar.

Oleh karenanya, sesuatu untuk tujuan yang baik tak perlu menjadi bahan polemik. Berbeda dengan polemik ketika adanya aturan pelarangan menggunakan cadar bagi mahasiswi di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Itu memang mendorong pro dan kontra. Publik merasa mempunyai bagian dalam persoalan ini, karena kekuatan perspektif kelas menengah kita memang membuat arus dalam masyarakat.

Seorang konsultan kebijakan publik mengatakan, “Seketika kita mendapati masyarakat menjadi terbagi pendapatnya tentang memaknai kebebasan individu sipil. Sebenarnya apa yang terjadi di balik cadar ini?”

Fritz Heider, seorang psikolog terkemuka dunia kelahiran Austria mengatakan, setiap manusia memiliki motif yang kuat. Pertama, kebutuhan untuk membentuk pemahaman yang utuh tentang dunia. Dan, kedua, kebutuhan untuk mengontrol lingkungan. Namun apabila motiv tersebut saling berbenturan, maka akan terjadi prasangka yang melahirkan konflik. Cara paling efektif membangun harmonisasi adalah dengan memberikan informasi dan pengetahuan tentang keragaman dan toleransi.

Penutup wajah seperti cadar dianggap hambatan yang signifikan saat berkomunikasi karena orang menilai manusia saat membangun komunikasi dan kepercayaan adalah lewat ekspresi wajah yang jelas. Menutup wajah dinilai menghambat integrasi dan menyulitkan penerimaan terhadap muslimah pemakainya. Cadar dipersepsikan sebagai pembatasan diri menyangkut identitas seseorang dan hal ini akan menciptakan gap dalam lingkungan sosial. Pernyataan seperti ini lahir karena manusia menganggap wajah adalah bagian yang utama dalam mengenali diri seseorang dan jika itu disembunyikan akan menyulitkan banyak pihak.

Ketika seseorang berada dalam ruang publik seperti lingkungan akademis tempat ada saatnya seorang mahasiswi bercadar akan ujian atau berhadapan dengan tim penguji saat kelulusan, maka wajahnya harus diidentifikasi secara jelas. Alasan terkuat penolakan seperti ini jauh lebih masuk akal dan dapat diterima.

Itulah pikiran universal yang berkembang menanggapi aturan pelarangan menggunakan cadar bagi mahasiswi di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga tahun lalu. Namun, untuk Aceh yang menerapkan syariat Islam, Insya Allah kebijakan pengharusan menggunakan cadar bagi santriwati di lingkungan pesantren, tentu tak pantas menjadi polemik. Kalau pun harus dipersoalkan, mungkin warna cadarnya jangan hitam, pakai putih saja atau warna-warna lain yang mengesankan ceria atau tidak angker. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved