Senin, 18 Mei 2026

Salam

Kemandirian Pangan, PR yang Masih Panjang

Di saat banyak negara membatasi ekspor komoditas untuk menjaga pasokan dalam negeri, Indonesia justru mampu menunjukkan kemandirian.

Tayang:
Editor: mufti
Biro Pers Sekretariat Presiden/Dok. Setpres
Presiden Prabowo Subianto 

Indonesia patut bersyukur atas capaian penting yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto, yakni  negeri ini berhasil mengamankan stok pangan di tengah krisis global. Di saat banyak negara membatasi ekspor komoditas untuk menjaga pasokan dalam negeri, Indonesia justru mampu menunjukkan kemandirian. Bahkan, sejumlah negara kini melirik beras dan komoditas pangan kita sebagai sumber pasokan. Ini adalah pencapaian yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Namun, rasa syukur tidak boleh membuat kita lengah. Kemandirian pangan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari tantangan yang lebih besar. Pemerintah harus memastikan bahwa keberhasilan menjaga stok pangan juga harus diikuti dengan harga yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Apa artinya beras melimpah jika rakyat kecil kesulitan membeli karena harga melambung? Begitu juga bahan pendukungnya seperti minyak goreng, cabai, tomat, haruslah mudah diperoleh dengan harga yang stabil. Stabilitas harga adalah kunci agar kemandirian pangan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

Inflasi pangan adalah ancaman nyata. Setiap kenaikan harga beras, minyak goreng, atau kebutuhan pokok lainnya langsung terasa di dapur masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat mekanisme pengendalian harga, mulai dari distribusi yang efisien, pengawasan rantai pasok, hingga intervensi pasar bila diperlukan. Bulog dan koperasi desa yang baru diresmikan harus menjadi garda terdepan dalam memastikan harga tetap stabil.

Selain itu, pemerintah tidak boleh berpuas diri dengan capaian swasembada. Tantangan ke depan masih panjang. Nilai rupiah yang terus melemah dalam beberapa waktu terakhir menjadi alarm keras. Rupiah yang tertekan akan berdampak pada biaya impor bahan baku, logistik, dan pada akhirnya bisa memicu kenaikan harga pangan. Kemandirian pangan harus dibarengi dengan kebijakan ekonomi makro yang kuat agar inflasi terkendali.

Krisis global yang disebut Presiden Prabowo memang belum jelas ujungnya. Konflik di Timur Tengah, perubahan iklim, dan ketidakpastian geopolitik terus menekan rantai pasok dunia. Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan keberhasilan saat ini. Pemerintah harus memperkuat cadangan strategis, memperluas diversifikasi pangan, dan mendukung petani serta UMKM agar tetap produktif.

Kemandirian pangan adalah modal besar, tetapi modal itu harus dijaga dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Jangan sampai keberhasilan ini hanya menjadi kebanggaan di atas kertas, sementara masyarakat masih bergulat dengan harga yang mencekik. Pemerintah perlu menegaskan bahwa tujuan utama dari swasembada adalah ketahanan pangan yang adil dan merata.

Dengan langkah yang tepat, Indonesia bukan hanya mampu bertahan dari krisis global, tetapi juga bisa menjadi contoh bagi negara lain. Namun, syaratnya jelas: stok aman, harga terjangkau, inflasi terkendali, dan rupiah dijaga agar tidak terus terpuruk. Itulah pekerjaan rumah (PR) besar yang harus segera dituntaskan.(*)

POJOK

Trump disebut melunak soal nuklir Iran

Itu pasti karena AS gagal menundukkan Iran secara militer

132 Kopdes siap beroperasi di Aceh

Ribuan lainnya kapan?

Mualem ajukan penambahan dana pembangunan ke Kemenkeu

Termasuk untuk bayar premi desil 8,9, dan 10, pak ya? 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved