Makan Durian Usai Bebas Vonis Mati, Sultan Malaysia Ampuni 3 Warga Aceh

Tiga warga Aceh yang sebelumnya divonis hukuman mati dan sempat dipenjara selama 23 tahun di Malaysia, akhirnya bebas

Makan Durian Usai Bebas Vonis Mati, Sultan Malaysia Ampuni 3 Warga Aceh
SERAMBI/M ANSHAR
Sulaiman, Bustaman, dan Tarmizi, tiga warga Aceh yang sempat divonis mati oleh Kerajaan Malaysia menikmati durian bersama Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri di Simpang BPKP, Banda Aceh, Kamis (8/8/2019). Ketiganya mengaku mencicipi durian untuk pertama kali setelah 23 tahun berada dalam penjara di Malaysia. 

BANDA ACEH - Tiga warga Aceh yang sebelumnya divonis hukuman mati dan sempat dipenjara selama 23 tahun di Malaysia, akhirnya bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Kerajaan Malaysia. Ketiganya tiba di Aceh pada Kamis (8/8) dan direncanakan Jumat (9/8) hari ini dipulangkan ke kampung halamannya di Bireuen.

Mereka adalah Bustamam (43) asal Gampong Lueng Baro dan Tarmizi (45) asal Gampong Ceurucok Barat, Kecamatan Samalanga, serta Sulaiman (46) asal Gampong Meunasah Lueng, Jeunib, Bireuen.

Awalnya mereka bertiga sempat divonis hukuman mati karena terbukti menjual dadah (ganja). Kerajaan Malaysia lalu memberi mereka dua kali pengampunan. Pengampunan pertama dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup, dan pengampunan kedua dari hukuman seumur hidup menjadi bebas.

Setiba di Aceh, Bustamam mengungkapkan bahwa salah satunya keinginannya setelah bebas adalah bertemu keluarga dan ingin melahap durian sepuasnya. Selama 30 tahun berada di penjara, Bustamam mengaku tidak pernah sekalipun makan durian.

"Yang paling diinginkan itu makan durian, karena sudah 30 tahun tidak makan durian lagi. Kalau makan sie itek, ayam kampung, makan kambing, itu pernah pas di penjara, tapi kalau durian tak pernah," ujarnya kepada Serambi di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Aceh kemarin.

Mendengar keinginan tersebut, Kepala Dinsos Aceh, Alhudri, langsung mengajak ketiganya makan durian di kawasan Lampineung. Mereka bertiga terlihat sangat lahap menghabiskan durian bersama dengan pulut bakar. "Sangat seronok lah durian hari ini. Ini sudah puas hati saya," ujar Bustamam sambil melahap durian.

Dia mengaku sudah 30 tahun tak pernah mencicipi durian, terakhir ia makan si raja buah tersebut sekitar tahun 1990, sebelum berangkat ke Malaysia. Ternyata, jeruji penjara juga membuat mereka rindu berat terhadap durian Aceh yang dulu bisa disantapnya setiap tahun.

Bustamam dan Tarmizi ditangkap pada 1996, sedangkan Sulaiman ditangkap pada 2004. Ketiganya ditangkap di Kuala Lumpur dan divonis mati setahun setelahnya. "Saat pertama kali divonis hukuman mati, saya tidak ingat apa-apa lagi, badan lemas, selera makan memang sudah tidak ada lagi, yang ada dipikiran saya hanya shalat dan berdoa saja, udah nggak ada harapan bertemu keluarga lagi," ujar Bustamam yang saat ditangkap masih berumur 19 tahun.

Bustamam dan Tarmizi sama-sama berasal dari Samalanga dan dulunya berada dalam satu kelompok penjualan dadah. Mereka ditangkap pada tahun 1996 di Kuala Lumpur setelah masuk dalam jebakan Polisi Diraja Malaysia.

Saat dijumpai Serambi di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Aceh, Kamis (8/8), ketiganya bercerita mengenai ihwal mereka ditangkap. Bustamam masuk ke Malaysia sebagai pendatang haram atau TKI ilegal pada 1993, saat masih berusia 17 tahun.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved