Berita Aceh Timur
Gas Langka dan Mahal, Disdagkop Aceh Timur Minta Pertamina Buka Pangkalan di Daerah Pedalaman
Disdagkop dan UKM Aceh Timur, meminta PT Pertamina Aceh untuk membuka cabang pangkalan di daerah pedalaman.
Penulis: Seni Hendri | Editor: Yusmadi
Laporan Seni Hendri | Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagkop dan UKM) Aceh Timur, meminta PT Pertamina Aceh untuk membuka cabang pangkalan di daerah pedalaman di Aceh Timur.
Hal ini, katanya, langkah yang tepat untuk mengatasi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram dan seringnya terjadi ketidaksesuaian harga dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
"Selama ini jika terjadi kelangkaan gas dan ketidaksesuaian harga dengan HET, maka kita minta PT Pertamina untuk melakukan operasi pasar di daerah pedalaman agar harga dan peredaran gas elpiji kembali normal," ungkap Kadisdagkop dan UKM Aceh Timur, Iskandar SH, kepada Serambi, Senin sore.
Namun upaya operasi pasar yang dilakukan Pertamina berdasarkan permintaan Disdagkop selama ini hasilnya belum seefektif yang diharapkan di lapangan.
Pasalnya, kelangkaan dan harga melonjak tetap terus terjadi.
Baca: Gas Langka, Warga Beralih ke Mitan
Baca: Elpiji Langka di Aceh Utara
Baca: Tak Dapat Elpiji Meski Sudah Cari ke Sejumlah Kecamatan di Aceh Utara, Warga Memasak Pakai Kayu
Misalkan, jelas Iskandar, sebelum Hari Raya Idul Adha, yaitu tepat pada 7 Agustus 2019, berdasarkan permintaan Disdagkop PT Pertamina Aceh telah melakukan operasi pasar di empat kecamatan pedalaman yaitu Ranto Peureulak, Darul Ikhsan, Indra Makmu, dan Peunaron.
"Namun kelangkaan tetap terjadi. Ini karena, saat operasi pasar tidak semua warga dapat menjangkaunya dikarenakan jarak tempuh yang jauh dan luasnya gampong, jadi hanya sebagian kecil warga mendapatkannya," ungkap Iskandar.
Namun demikian, jika terjadi kelangkaan di daerah pedalaman Aceh Timur, Disdagkop tetap akan meminta agar PT Pertamina untuk melakukan operasi pasar.
"Sedangkan solusi efektifnya agar masyarakat miskin benar-benar terbantu sesuai harapan pemerintah, maka kita minta PT Pertamina Aceh agar membuka cabang Pangkalan di daerah pedalaman, sehingga harga dan peredaran gas elpiji 3 kilogram di lapangan tetap stabil," ungkap Iskandar.
Sementara itu, Zakaria seorang warga Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, mengatakan mereka terpaksa membeli gas elpiji 3 kilogram ke Kecamatan Peunaron dengan harga Rp 38 ribu per tabung.
"Meski mahal terpaksa kita beli karena gas sudah menjadi kebutuhan utama untuk memasak," ungkap Zakaria.
Baca: Warga Pedalaman Aceh Timur Keluhkan Mahalnya Harga Gas Elpiji 3 Kilogram
Baca: Jelang Idul Adha, Gas Elpiji 3 Kilogram di Aceh Timur Langka dan Mahal
Baca: Ada Tumpukan Tabung Elpiji Subsidi di Lokasi Kebakaran depan SPBU Rimo, Aceh Singkil
Menurutnya, warga Gampong Seumanah Jaya, yang memiliki warga sekitar 4 ribu jiwa itu tidak pernah membeli harga gas elpiji sesuai harga subsidi yang ditetapkan pemerintah, karena di Gampong Seumanah Jaya yang jauh dengan Kecamatan Ranto Peureulak, dan Peunaron itu tidak ada pangkalan gas, sehingga warga harus membeli gas elpiji di kios pengecer dengan harga di atas 30 ribuan.
"Karena itu sudah sewajarnya di Seumanah Jaya yang jauh dengan pangkalan gas di Ranto Peureulak, juga dibuka cabang pangkalan sehingga masyarakat dapat merasakan harga gas elpiji sesuai dengan harga subsidi yang telah ditetapkan pemerintah," ungkap Zakaria.
Begitulah juga di daerah pedalaman Aceh Timur, lainya diharapkan PT Pertamina membuka cabang pangkalan agar kelangkaan tidak terus terjadi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/gas-elpiji-2.jpg)