Info Haji 2019

Hanya Terdengar Khutbah di Arafah

Sabtu, 9 Zulhijah atau 10 Agustus 2019, tepat pukul 12.25 WAS atau pukul 15.30 Wib, jutaan jamaah berkumpul di masing-masing tenda

Editor: hasyim
IST
Laporan MOHD DIN, WARTAWAN Serambi Indonesia 

Sabtu, 9 Zulhijah atau 10 Agustus 2019, tepat pukul 12.25 WAS atau pukul 15.30 Wib, jutaan jamaah berkumpul di masing-masing tenda untuk mendengarkan khutbah Arafah atau khutbah wukuf.

Dari berbagai tenda yang ada terdengar suara khutbah yang disampaikan para khatib. Untuk jamaah haji Aceh, khutbah wukuf berlangsung di 12 tenda, sesuai dengan jumlah kloter dari Aceh.

Jutaan jamaah larut dalam kekhusyukan wukuf dan mendengarkan khutbah. Wukuf adalah puncak haji dan diyakini merupakan waktu dan tempat paling didengar dan diterima doa umat manusia (muslim muslimah).

Wukuf berarti diam sejenak, yang bermakna bahwa manusia pada akhirnya akan berhenti.

Beberapa khatib mengambil tema perjuangan Nabi Adam 7.800 tahun lalu. Nabi Adam sempat berpisah dengan Siti Hawa 100 tahun dan bertemu kembali di Jamal Rahmah. Lalu, berlanjut perjuangan Nabi Ibrahim membangun Kakbah dan menghimbau umat manusia untuk datang ke Tanah Haram.

Salah seorang khatib Drs H Marzuki Arsyi dalam khutbahnya menyinggung pengorbanan luar biasa para jamaah untuk pergi ke Tanah Suci. Kesempatan yang terbatas karena berdasarkan kuota, ditambah dengan kemampuan fisik yang memadai dan pengendalian diri dari tekanan luar biasa, adalah bagian dari jihad haji.

Di balik itu, betapa bahagianya, bila seorang anak masih sempat mendampingi orangtuanya menunaikan haji. "Membantu, menuntun, dan melayani orangtua di Tanah Suci adalah kebahagiaan yang tiada tara," ungkap Marzuki Arsyi.

Begitu juga bagi seorang isteri bisa dengan mudah dapat masuk surga. Cukup dengan kerelaan suami ditambah ibadah wajib, sang isteri Insya Allah masuk surga. Begitu juga seorang suami. Kerja keras dan perlindungan pada keluarga, memiliki nilai yang amat besar.

Khutbah yang menyentuh itu membuat banyak jamaah meneteskan air mata. Larut dalam haru dan rasa syukur. Para jamaah menangisi dosa-dosa yang telah lalu, juga menangis karena haru, bisa melewati satu hari yang sangat agung. Ini adalah hari di mana Allah SWT membanggakan para hamba-Nya di depan malaikat.

“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: “Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu” (HR. Ahmad 2: 224)," jelas Khatib Marzuki mengutip hadist Nabi.

Doa di hari Arafah adalah doa yang paling utama. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir.” (HR. at-Tirmidzi no. 3585, dihukumi shahih oleh al-Albani).

Dan yang paling mendasar, esensi dari Haji sebenarnya adalah Wukuf di Arafah. Sebab menurut Rasulullah, “Al-hajju ‘arafah.” Haji itu adalah Arafah.

Hujan dan petir

Usai menjalani khutbah wukuf, shalat zuhur dan ashar yang dilakukan dengan jamak qashar, para jamaah mencari tempat yang dingin di luar tenda di dekat-dekat pohon yang ada di Arafah.

Namun, tiba-tiba badai kabut dan hujan lebat disertai petir melanda Arafah. Langit yang semula biru cerah berubah hitam gelap disertai angin dan petir yang kencang. Suhu udara di siang hari dilaporkan 46 derajat turun di bawah angka 40 derajat celcius. Sehingga udara di dalam tenda lebih nyaman.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved