Senin, 18 Mei 2026

Opini

Perubahan Perilaku Milenial

Kata "milenial" tak asing di indra dengar kita. Istilah millenials, generasi millenials, anak muda millenials, oleh para ahli dan peneliti disebutkan

Tayang:
Editor: bakri
IST
SYAMSUL BAHRI, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti di LSAMA Aceh 

OLEH SYAMSUL BAHRI, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti di LSAMA Aceh

 Kata "milenial" tak asing di indra dengar kita. Istilah millenials, generasi millenials, anak muda millenials, oleh para ahli dan peneliti disebutkan sebagai satu kelompok generasi manusia yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Jadi jika kita lahir pada kisaran tahun tersebut istilah kerennya disebut generasi millenial. Ada juga yang menyebutnya generasi Y, dan generasi Z.

Disebut milenial, karena generasi ini lahir pada era teknologi transportasi, komunikasi, dan teknologi informasi. Transportasi ditandai munculnya alat-alat transpor yang memudahkan manusia menjangkau tempat yang jauh menjadi dekat. Teknologi komunikasi, setelah penemuan telepon, dan handphone, saat ini akses internet sudah sangat mudah sehingga manusia bisa menjalin komunikasi tanpa batas tempat dan waktu. Tknologi informasi, yaitu jangkauan informasi yang secara instan diperoleh dari smartphone, android, atau internet.

Perilaku sehari-hari

Manusia milenial memiliki keunikan yang dapat kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Disebut keunikan, karena sisi ini jarang dilakukan generasi sebelumnya atau orang-orang tua. Ketika makan, ataupun nongkrong di warung, smarthone tak jauh dari jangkauan mereka. Bahkan mereka makan sambil memegang hp; update status ke medsos (media sosial). Mengambil gambar menu minuman, meskipun itu secangkir kopi. Kemudian mereka pasang di story (status) whatsapp, atau facebook, dengan taggline "secangkir kopi sejuta makna."

Gaya selfi, adalah gambaran awal keunikan generasi milenial agar orang lain tahu bahwa mereka masih eksis. Masalah keamanan privasi, tidak begitu diperdulikan, padahal mereka sedang dipantau oleh orang lain. 

Rata-rata teman generasi saya mengenal calon istri melalui facebook. Pun demikian tak mengurangi kebahagiaan mereka menjalani kehidupan rumah tangga. Karena itu, agak janggal jika kita bertanya pada generasi milenial, "kenal dimana kalian sebelum nikah?" Karena rata-rata mereka mengenal calon masing-masing melalui Fb. Dunia nan canggih, zaman now, yang barangkali tak terpikirkan oleh manusia yang lahir pada zaman old. Dalam satu smartphone, ada kartu kredit, mobile banking, aplikasi transportasi, aplikasi makanan, chat, situs penjualan online, fitur map, sehingga jika kita memanfaatkan situs tersebut, aktivitas menjadi mudah, terjangkau dalam waktu yang sangat singkat.

Agama kaum milenial

Generasi milenial mengenal agama lebih besar ketimbang generasi sebelumnya. Hal ini disebabkan akses informasi dan pengetahuan terjangkau melalui aplikasi android. Sebagai contoh, ketika mereka ingin tahu apa itu agama non-muslim, mereka cukup mengaksesnya di google. Ketika mereka ingin tahu mengapa umat Islam menjadi berfirqah-firqah (firqah/ aliran), mereka mempelajari melalui artikel-artikel via internet. Bukan hanya itu, acapkali generasi milenial ini memiliki teman tanpa batas suku, budaya dan agama. Tidak mengherankan mereka mempunyai teman yang berasal dari agama Yahudi, Kristen, kelompok syiah ataupun orang atheis sekalipun. Mereka "aman-aman" saja berteman di dunia maya meskipun temannya itu berbeda keyakinan. Di sinilah aspek keislaman generasi milenial agak berbeda dengan generasi sebelumnya.

Alih-alih bersikap ekslusivisme, ternyata mereka mempunyai teman dari agama lain. Hal ini dapat mempengaruhi mereka lebih toleran dan terbuka terhadap keragam agama. Di samping itu, "jenis manusia baru ini" lebih banyak mengakses persoalan agama melalui internet, seperti ceramah-ceramah agama, melalui youtube. Sehingga tidak mengherankan banyak siswa-siswi Aceh beranggapan "kaum wahhabi" sebagai aliran sesat. Secara tidak langsung keagamaan mereka dipengaruhi oleh berbagai ceramah dari dunia maya.

Meskipun ada banyak ilmu pengetahuan yang dapat diakses dari google, sayangnya tidak banyak yang mempergunakan itu dengan bijak. Tidak juga dapat menaikkan minat baca generasi ini. Apakah benar minat baca milenial Aceh rendah? Prof Dr Samsul Rijal, Rektor Unsyiah mengatakan, "Tingkat baca masyarakat Aceh masih rendah, bahkan rendah dari 50 persen. Mahasiswa saja sangat jarang bisa menamatkan empat buku dalam sebulan. Jangankan membaca, ke pustaka saja kadang sangat jarang (Serambi Indonesia, 28/01/2019 "Minat Baca Rendah, Aceh Carong Sulit Dicapai)."

Jika minat membaca mahasiswa rendah, apa yang diharapkan untuk pembangunan Aceh? Padahal orang diluar sana, orang Barat misalnya, menjadikan bacaan sebagai aktivitas wajib meskipun hanya beberapa lembar. Sehingga bisa kita saksikan, meskipun mereka petani, tetapi tetap ada pustaka mini di rumahnya.

Ternyata kaum milennial juga rentan terhadap konten-konten negatif dari dunia maya ini. Seorang anak yang menggunakan android tanpa kontrol dari orang tua, akan mengakibatkan moralitas anak itu rusak. Misalnya, akses pornografi dan pornoaksi. Karena pada usia milenial, rasa ingin tahu sudah tinggi. Jika orang tua tidak memantau anaknya, maka ia akan kebablasan (babahkirèuh).

Demikian juga kecanduan pada game. Fitur game sudah diciptakan sedemikian rupa. Setelah game PUBG diharamkan MPU Aceh, saya mencermati dengan seksama berbagai game yang ada, ternyata memang benar ada game yang sarat pornografi dan pornoaksi, di samping memang ada game yang tidak mendidik sama sekali. Sebaiknya hapus fitur game pada HP anak-anak kita.

Selain itu, akses bebas internet juga mempengaruhi anak-anak dari paham-paham radikal (radikalisme). Terpengaruh dari berita-berita hoax dan ujaran kebencian. Begitu juga terkadang mereka bisa pindah agama. Dan tidak tertutup kemungkinan mereka menjadi pelaku teroris. Imbas negatif ini lain yaitu nilai-nilai agama menjadi pudar karena kecanduan fitur-fitur yang melalaikan, moralitas anjlok. Kepatuhan pada orang tua, guru, teungku, terkikis sehingga mereka menjadi orang yang miskin nilai hidup.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved