Info Haji 2019

Jamaah Aceh Kembali ke Mekkah

Sebanyak 200 ribu jamaah haji Indonesia, termasuk 4 ribu jamaah dari Aceh, Rabu (14/8) pagi ini, sudah harus meninggalkan Mina menuju maktab

Editor: bakri
IST
Laporan MOHD DIN, WARTAWAN Serambi Indonesia 

Laporan MOHD DIN, WARTAWAN Serambi Indonesia

Sebanyak 200 ribu jamaah haji Indonesia, termasuk 4 ribu jamaah dari Aceh, Rabu (14/8) pagi ini, sudah harus meninggalkan Mina menuju maktab masing-masing di Mekkah. Bahkan, sebagian jamaah haji dari berbagai kloter daerah lain di Indonesia, sudah meninggalkan Mina sejak Selasa pagi.

"Perintah dari pusat penyelenggara haji, Rabu pagi sudah harus meninggalkan Mina. Bus jemputan datang pukul 7.30 WAS," kata Anwar Fadhli, salah seorang ketua kloter.

Pantauan Serambi jamaah dari daerah lain di Indonesia dan negara Turki sekitarnya mulai dijemput sejak Selasa pukul 7.00 WAS. Jalan di sekitar tenda kelihatan macet dipenuhi jamaah menuju dan pulang dari Mina serta banyaknya bus jemputan yang parkir.

Pada Rabu pagi, semua jamaah sudah selesai melempar jumrah hari keempat dan setelah itu langsung kembali ke Mekkah. Di antara jamaah ada yang segera melaksanakan tawaf ifada, sai, dan tawaf wada' di Baitullah bagi yang akan segera kembali ke tanah air.

Lempar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari wajib haji. Para jamaah melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang yang berada dalam satu tempat bernama kompleks Jembatan Jumrah, di kota Mina yang terletak di dekat Mekkah.

Para jamaah mengumpulkan batu-batuan tersebut dari tanah di hamparan Muzdalifah dan melemparkannya. Para jamaah mengambil batu di Mina, tidak disyaratkan mencuci batu tersebut.

Batu yang digunakan tidak besar, cukup kerikil seukuran ujung jari dan tidak berbentuk runcing. Adapun cara melontar adalah sebanyak tujuh batu pada hari Id, yaitu Jumrah Aqabah saja.

Sedangkan pada hari-hari tasyriq maka sebanyak 21 batu setiap hari, masing-masing tujuh lontaran untuk Jumrah Ula, tujuh lontaran untuk Jumrah Wustha, dan tujuh lontaran untuk Jumrah ‘Aqabah. Adapun batu-batu yang terdapat dalam bak tempat melontar, tidak boleh digunakan untuk melontar.

Sementara itu, sejauh yang dapat dipantau dan informasi yang diperoleh dari petugas haji, belum ada informasi gangguan serius pelaksanaan rukun dan wajib haji jamaah haji Indonesia. Namun, dari beberapa kloter diperoleh informasi, sejumlah jamaah mengalami gangguan kesehatan berupa batuk-batuk, flu berat, meningkatnya tekanan darah, dan kram otot.

Cuaca ekstrem, jalan kaki yang jauh dari tenda ke lokasi jamarat dan sebagian besar kondisi tenda yang melebihi kapasitas menjadi faktor dominan gangguan kesehatan. Di beberapa pos kesehatan kloter yang sempat Serambi pantau, dipadati oleh pasien lansia yang rata-rata mengalami demam, pusing, kram otot, dan kelelahan.

Sejauh pantauan, posko kesehatan kloter dari Aceh masih mampu mengatasi keluhan pasien meski sebagian obat yang diperlukan pasien tidak tersedia. Sejumlah jamaah yang mengalami gangguan terpaksa dirujuk ke rumah sakit terdekat.

Padat merayap

Sementara itu,suasana tempat melempar jumrah hari ketiga, Selasa (13/8) subuh hingga siang sangat padat. Jamaah dari berbagai negara secara bergelombang dan berombongan menuju jamarat.

Mina mulai padat sejak pukul 4 dini hari WAS dan terus bertambah. Hingga pukul 8 pagi WAS sepanjang jalan menuju dan kembali dari Mina padat merayap. Jamaah dari Indonesia, sebagian dari Aceh, banyak yang ke Mina secara mandiri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved