Bos Sabu Ditahan di Polres

Satu dari lima terdakwa yang terlibat dalam kasus penyelundupan sabu-sabu 70 kilogram, dan ekstasi tiga kilogram dari Malaysia

Bos Sabu Ditahan di Polres
SERAMBINEWS.COM/JAFARUDDIN
Ramli terdakwa kasus sabu 70 kilo dan ekstasi 3 kilo saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara pada 2015. 

LHOKSUKON – Satu dari lima terdakwa yang terlibat dalam kasus penyelundupan sabu-sabu 70 kilogram, dan ekstasi tiga kilogram dari Malaysia melalui peraian Tanah Jambo Aye, Aceh Utara ditahan di Polres. Pria itu harus ditahan di Mapolres Aceh Utara dengan alasan keamanan.

Ialah bos sabu, Ramli (55) narapidana asal Desa Calok Geulima, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur yang sebelumnya menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara. Sedangkan empat terdakwa lain dalam kasus tersebut ditahan di Cabang Rumah Tahanan Negara (Rutan) Lhoksukon, Aceh Utara.

Mereka adalah anak Ramli yaitu Metaliana (28) dan suamianya, Muhammad Zubir (28), warga Desa Calok Geulima, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Lalu, Saiful Bahri alias Pon (29), dan Muhammad Zakir (23), keduanya warga Desa Seuneubok Baro Kecamatan Idi Cut, Aceh Timur.

Namun, Muhammad Zakir sudah kabur dari Cabang Rutan Lhoksukon pada 16 Juni 2019 bersama 72 tahanan dan napi. Hingga kini, Muhammad Zakir belum berhasil ditangkap polisi. “Ia adalah napi dalam kasus narkotika yang sudah divonis seumur hidup,” ungkap Plt Kepala Cabang Rutan Lhoksukon, Ramli SH kepada Serambi, Sabtu (17/8).

Disebutkan, selama ia dipindahkan dari LP Tanjung Gusta Medan ke Aceh Utara untuk menjalani proses sidang ia harus dikawal belasan polisi tiap malamnnya. Hal ini untuk menghindari terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Apalagi, informasi yang beredar, ia akan dijemput oleh kelompoknya.

“Kemudian saya menyampaikan persoalan tersebut kepada Kapolres Aceh Utara, supaya Ramli bisa ditahan di Polres dengan alasan demi keamanan. Karena, tidak memungkinkan juga jika setiap malam harus ada puluhan personel yang harus menjaganya,” ujar Ramli.

Setelah Kapolres Aceh Utara menyetujuinya, pada akhir Juli 2019 lalu, Ramli dibawa ke Mapolres Aceh Utara untuk pengamanan. Sedangkan terdakwa lain dalam kasus tersebut ditahan di Cabang Rutan Lhoksukon, Aceh Utara.

Diberitakan sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI dan Bea Cukai, menggagalkan upaya penyelundupan 72 kg narkotika jenis sabu-sabu dan ekstasi di Perairan Jambo Aye, Aceh Utara dalam sebuah operasi gabungan di Lhoksukon, Aceh Utara pada 10 Januari 2019. Dalam penelusuran lebih lanjut terungkap sabu dan ekstasi itu milik bandar besar bernama Ramli, napi asal Aceh yang ditahan di LP Tanjung Gusta, Medan.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim Iptu Rezki Kholiddiansyah kepada Serambi menyebutkan, atas permintaan pihak Cabang Rutan Lhoksukon, kalau Ramli yang sedang menjalani proses sidang kasus narkotika diamankan di Mapolres demi keamanan.

“Ia sampai sekarang masih ditahan. Ia kita tahan bersama tahanan lain di mapolres, tapi ruanganya dipisahkan, ini dilakukan demi pengamanan,” kata Kasat Reskrim.

Selama menjalani sidang, Ramli dikawal ketat polisi mulai dari dibawa dari mapolres, kemudian sampai di Pengadilan dan ketika pulang. Bahkan, setelah proses sidang selesai, Ramli langsung dibawa pulang kembali.

Ramli pernah ditangkap seorang personel Polres Aceh Utara dan seorang personel intel Kodim Aceh Utara dibantu warga pada 14 Feberuari 2015. Saat itu, Ramli ditangkap bersama istrinya, Nani Darlinda (39) warga Desa Jawa Tengoh, Kecamatan Langsa Kota dan anaknya, Muzakir (20).

Dalam penangkapan itu juga diringkus seorang lainnya bernama Herman (48), asal Desa Sungai Paoh, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, bersama 14,4 kg sabu di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Ramli divonis pada 10 September 2015 dengan penjara seumur hidup bersama tersangka lainnya, kecuali istrinya, Nani yang divonis 19 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar di PN Lhoksukon. Lalu, pada 25 April 2016, pihak  Cabang Rutan Lhoksukon memindahkan Ramli ke Lapas Tanjung Gusta Medan, karena selain over kapasitas juga karena alasan keamanan.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved