Berita Aceh Malaysia

Keluarga Penghancur Patung di Malaysia Minta Bantuan kepada YARA

Kedatangan Dodi bersama Jusnaida, ibu kandungnya ke kantor YARA Abdya itu, bertujuan untuk meminta pertolongan dan bantuan hukum kepada YARA.

Keluarga Penghancur Patung di Malaysia Minta Bantuan kepada YARA
For Serambinews.com
Pihak keluarga Hendri Hendri (25) warga Gampong Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya (Abdya) yang ditangkap polisi Ipoh, Perak, Malaysia, Sabtu (17/8/2019) dinihari atas tuduhan menghancurkan 15 patung berhala di Kuil Sri Maha Mariamman, Lapangan Panorama mendatangi Pendopo Wakil Bupati Abdya. 

Kedatangan Dodi bersama Jusnaida yang tak lain ibu kandungnya ke kantor YARA Abdya itu, bertujuan untuk meminta pertolongan dan bantuan hukum kepada YARA.

Laporan Rahmat Saputra I Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Dodi, abang kandung Hendri (25) warga Gampong Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya (Abdya) yang ditangkap polisi Ipoh, Perak, Malaysia, Sabtu (17/8/2019) dinihari atas tuduhan menghancurkan 15 patung berhala di Kuil Sri Maha Mariamman, Lapangan Panorama mendatangi  kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Abdya.

Kehadiran mereka itu pun disambut ketua YARA Abdya, Miswar SH didampingi Kabid Hukum dan HAM YARA Abdya, Khairul Azmi.

Kedatangan Dodi bersama Jusnaida yang tak lain ibu kandungnya ke kantor YARA Abdya itu, bertujuan untuk meminta pertolongan dan bantuan hukum kepada YARA.

Baca: IAI Al Muslim Juga Buka Peluang Kuliah Bidik Misi, Catat Syaratnya

Dengan muka sedih dan lesu, Jusnaida dan Dodi kehabisan kata-kata.

Sesekali, air matanya pun tumpah ke pipinya saat menceritakan anak keduanya tersebut.

Mendengar penjelasan Jusnaida, Miswar SH pun mengajak mereka menjumpai wakil Bupati Abdya.

Setiba di pendopo, Jusnaida kembali menangis dan meminta orang nomor dua di Abdya itu, bisa memberikan solusi dan keringanan hukuman untuk anaknya tersebut.

Ketua YARA Abdya, Miswar SH mengatakan dirinya telah berkoordinasi dengan ketua YARA Aceh, Safaruddin.

Ia menyebutkan, Safaruddin siap membantu keluarga Hendri.

"Kasian beliau, seperti kita ketahuilah, mereka itu berasal dari keluarga pas-pasan dan kurang mampu. Hendri itu anak yatim dan terpisah dari ayahnya sejak umur 5 tahun," ujar Miswar.

Miswar mengaku, pihaknya juga telah menjumpai dengan wakil bupati Abdya, Muslizar.

"Alhamdulillah, sambutan pak wabup sangat baik, dan tahap pertama pak wabup menyediakan ongkos," timpal Khairul Azmi.

Menurut Khairul Azmi,  pihaknya telah berkoordinasi dengan YARA pusat dan pihaknya siap memberikan bantuan hukum terhadap Hendri.

"Insya Allah, kami akan memberikan bantuan hukum kepada saudara Hendri. Sebagaimana diamanahkan Undang-Undang No 16 tahun 2011 serta qanun Aceh no 8 tahun 2017," sebutnya.

Kemungkinan besar, katanya, pihak keluarga dan beberapa anggota YARA perwakilan abdya, berangkat ke Banda Aceh untuk menjumpai Ketua YARA Aceh Safaruddin, untuk membahas tentang langkah – langkah hukum apa yang kita ambil kedepan, dalam penyelesean kasus tersebut.

"Harapan kami, semoga kasus yang menimpa saudara hendri, cepat selesai dengan win-win solution yang kita cari nantinya, ada penyelesean dan keadilan yang diterima oleh keluarga dan saudara Hendri ini," tandas Khairul Azmi. 

Baca: Pulihkan Keamanan di Fakfak, Polda Papua Barat Kirim 100 Personel Brimob, Aparat TNI Siaga di Lokasi

Seperti diketahui, pemuda Aceh yang ditangkap polisi Ipoh, Perak, Malaysia, Sabtu (17/8/2019) dinihari atas tuduhan menghancurkan 15 patung berhala di Kuil Sri Maha Mariamman, Lapangan Panorama merupakan warga Gampong Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan Aceh Barat Daya (Abdya).

Pemuda yang sudah merantau ke malaysia sejak 2012 itu bernama Hendri (25).

Informasi yang diperoleh dari Nyan In alias Cut Lot salah seorang pengamanan tertutup (pamtup) wakil bupati Abdya, membenarkan pemuda yang ditangkap oleh polisi karena memecahkan patung itu adalah warga Gampong Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan.

"Iya benar dia warga Padang Kawa, namanya Hendri," ujar Cut Lot yang merupakan warga Gampong Padang Kawa.

Dia menyebutkan, Hendri sudah merantau sekitar tujuh tahun lebih.

Hendri merupakan anak kedua dari pasangan (alm) Razali dan Jusnaida.

"Keluarganya sudah tahu dan mereka sangat kaget dan sedih pasca mendapatkan kabar tersebut," ujar Cut Lot.

Seperti diberitakan, seorang pemuda yang diyakini berasal dari Aceh ditangkap polisi Ipoh, Perak, Malaysia, Sabtu (17/8/2019) dinihari.

Baca: Polda Papua Barat Kerahkan Brimob ke Fakfak, Minta Segera Dikirim Personel dari Makassar

Informasi dihimpun Serambinews.com dari komunitas Aceh Malaysia dan pemberitaan media Malaysia, menyebutkan, pemuda ini ditangkap dengan tuduhan menghancurkan 15 patung berhala di Kuil Sri Maha Mariamman, Lapangan Panorama di Lapangan Perdana, Ipoh, Sabtu dinihari.

“Dalam insiden pukul 01:15, pria berusia 20 tahun itu diyakini telah mematahkan semua patung menggunakan pipa besi,” tulis Berita Harian Online.

Aksi pemuda yang belum diketahui namanya ini diketahui oleh warga yang tinggal di apartemen di dekat lokasi kejadian.

Para penduduk pun memberi tahu aksi pemuda itu kepada penjaga kuil, namun pelaku sudah meninggalkan lokasi kejadian.

Ketua kuil, MS Thanabalan (48), mengatakan, pemuda yang dicurigai melakukan kejahatan itu ditangkap sedang berbaring di sebuah lapangan dekat kuil, atas keterangan dari saksi mata.

“Seorang warga Melayu di apartemen dekat kuil mengetahui kejadian itu, sebelum memberi tahu tetangga India-nya yang kemudian menghubungi biksu penjaga kuil yang tinggal di dekatnya,” kata dia.

"Manajemen kuil juga diinformasikan sebelum banyak penduduk setempat datang untuk memeriksa apa yang terjadi dan sebagai hasil dari kesaksian seorang saksi, penduduk desa berhasil menangkap seorang lelaki di dekatnya," tambah Thanabalan.

Menurut hasil pencarian, seorang pria di dekatnya menemukan seorang pria terbaring di tanah sekitar 100 meter dari kuil dan kemudian menyerahkannya kepada polisi.

“Kuil itu telah berada di sini selama lebih dari 90 tahun dan tragedi ini adalah yang pertama kali terjadi. Manajemen kuil telah meminta orang-orang, terutama orang-orang Hindu, untuk bersabar dan memberikan kesempatan kepada pihak berwenang untuk menyelidiki,” kata dia.

"Orang-orang dari berbagai ras di sini juga hidup dalam damai tanpa keributan dan masyarakat juga diharapkan tidak membuat spekulasi yang dapat menciptakan rasa aman," katanya.

Thanabalan mengatakan, kerugian diperkirakan sekitar RM 80.000 (sekitar Rp 272 juta), karena semua patung yang rusak dibeli di luar negeri.

Sementara itu, wakil kepala kepolisian Perak Datuk Lim Hong Shuan, dalam sebuah pernyataan tentang insiden itu mengatakan, ia menerima informasi tentang insiden tersebut pada jam 01.50 pagi.

“Menurut informasi, tim polisi menangkap seorang pria Indonesia di depan umum dengan perampokan dan menyita sepotong pipa yang digunakan oleh tersangka untuk mematahkan sebuah patung di kuil,” kata dia.

"Polisi ingin menyarankan semua pihak untuk tidak membuat pernyataan atau spekulasi yang tidak bertanggung jawab yang dapat mempengaruhi penyelidikan polisi," katanya.


Menurutnya, kasus ini sedang diselidiki di bawah Bagian 295, 427 dan 448 KUHP dan Bagian 6 (3) dari Undang-Undang Keimigrasian 1959/1963. (*)

Penulis: Rahmat Saputra
Editor: Nurul Hayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved