Tafakur

Haji Bukan Aksesoris

Terutama ketika seseorang memiliki kelebihan harta benda yang banyak, paras tampan atau cantik, dan kesuksesan hidup

Haji Bukan Aksesoris
IST
Jarjani Usman

Oleh: Jarjani Usman

 "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5)

 Keangkuhan bagi sebagian orang dianggap wajar disandang.  Terutama ketika seseorang memiliki kelebihan harta benda yang banyak, paras tampan atau cantik, dan kesuksesan hidup.  Padahal, jangankan dalam hal-hal seperti itu, dalam beribadah pun kita tidak boleh merasa angkuh.

Tak terkecuali dalam beribadah haji.  Memang haji adalah kewajiban bagi orang yang sudah mampu, tetapi tidak sebaiknya menampak-nampakkan kemampuan untuk berhaji berkali-kali, hingga menambah lama masa tunggu (waiting list) orang lain yang belum pernah sekali pun berhaji.  Memberi kesempatan kepada orang lain juga akan mendapatkan rida Allah dan pahala yang besar.

Apalagi ketika melaksanakan ibadah haji, menggunakan pakaian ihram menujukkan sutau kesederhanaan sekaligus menanggalkan keangkuhan. Bahkan melalui lemparan jumrah, kita juga diajak untuk menghalau makhluk angkuh, yaitu iblis. 

Harusnya kita menyadari makna di balik setiap seruan Allah.  Di balik yang disuruh Allah berjubel nilai kebaikan.  Seperti ketundukan kepada Allah, kesamaan dengan sesama hamba Allah, berlomba-lomba dalam ketaatan, dan lain-lain.

Nilai-nilai kebaikan itu kalau diwujudkan dalam kehidupan, akan adillah, sejahteralah, dan damailah umat manusia dan seluruh alam ini. 

Tapi yang banyak terjadi justru seakan ibadah lekang dari maknanya.  Pergi haji hanya untuk meraih gelar aksesoris yang isinya berbeda. Akibatnya, ibadah tidak mampu menjauhkan perilaku keji, rakus, jahil, menampak-nampakkan (ria), dan segala perbuatan yang disenangi iblis.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved