Migas
Pengamat Migas Ridwan Nyak Baik: Belum Ada Survei Baru Migas Aceh
Ridwan Nyak Baik yang lama berkarier di Pertamina dalam pertemuan itu juga menyatakan protes terhadap penamaan Blok Andaman yang berada di laut Indone
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Fikar W Eda I Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Migas Ridwan Nyak Baik mengatakan sejak 30 tahun terakhir tidak ada survei baru potensi migas Aceh.
"Ibaratnya, lahan migas Aceh itu seperti hutan yang masih perawan. Belum ada survei baru. Apa yang ada sekarang di Aceh adalah hasil survei lama. Yang baru belum ada," kata Ridwan Nyak Baik saat berbicara dalam curah pikiran Forum Aceh Meusapat (FAM) di Jakarta, Selasa (27/8/2019).
Diskusi terbatas yang dipandu TA Rahman Alba itu, dihadiri praktisi pertambangan Said Aziz, akademisi TB Massa Djafar, Maulidza Oemar, pensiunan militer Mayjen Purn Amiruddin, birokrat Dharma Ali Hasjmy, tokoh masyarakat Ayah Muchtar dan lain-lain.
Ridwan Nyak Baik, yang ikut menggodok terbentuknya Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mengatakan, dibutuhkan survei baru untuk mengetahui potensi lahan Migas Aceh.
Baca: Kesal Utang Tak Kunjung Dibayar, Pria ini Nekat Tagih Pakai Karangan Bunga di Pernikahan Pengutang
Baca: Cabjari Bakongan Musnahkan Barang Bukti yang Sudah Inkracht
Baca: Siswa Langsa Ini Sabet Dua Medali Dalam Cabang Renang di O2SN
Ia memberi dukungan penuh terhadap pengelolaan Migas Aceh, karena salah satu sumber penggerak ekonomi yang paling cepat menghasilkan uang.
Ridwan Nyak Baik yang lama berkarier di Pertamina dalam pertemuan itu juga menyatakan protes terhadap penamaan Blok Andaman yang berada di laut Indonesia.
"Blok Andaman I, Andaman I, Andaman III seluruhnya berada dekat dengan Aceh. Tapi kenapa namanya harus menggunakan nama asing. Kenapa tidak dinamakan dengan nama lokal saja?" tukas Ridwan Nyak Baik.
Ia mengaku sedang menyiapkan satu artikel khusus menyikapi penamaan Blok Andaman tersebut.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/migas-77.jpg)