Breaking News:

Berita Aceh Timur

Kisah Pemburu Babi Asal Nias di Aceh Timur, Dijual Ya, Makan tidak, Ini Alasannya

Sepmornya untuk melansir sawit ya bang? tanya Serambinews.com yang sekaligus kenalan dengan pria tersebut. "Bukan bang. Tapi untuk cari babi,"

Penulis: Seni Hendri | Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Senjata SS1 yang digunakan saat berburu babi dan menyebabkan Samsul Bahri meninggal dunia saat berburu babi di Gampong Lamlung, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Senin (29/4/2019). 

Sepmornya untuk melansir sawit ya bang? tanya Serambinews.com yang sekaligus kenalan dengan pria tersebut."Bukan bang. Tapi untuk cari babi," jawabnya.

Kisah Pemburu Babi Asal Nias di Aceh Timur, Dijual Ya, Makan tidak, Ini Alasannya 

Laporan Seni Hendri l Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Minggu (1/9/2019) pagi, seorang pria paruh baya duduk santai di atas kursi kayu.

Persisnya di depan SD di Dusun Krueng Tuan, Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur.

Pria baruh baya asal Nias bernama Yopi itu sedang menunggu sepeda motornya yang bannya ditempel karena bocor di sebuah bengkel di tepi jalan dari Dusun Krueng Tuan.

Sepmornya untuk melansir sawit ya bang? tanya Serambinews.com yang sekaligus kenalan dengan pria tersebut.

"Bukan bang. Tapi untuk cari babi," jawabnya.

Ingin tahu seperti apa aktivitas ia berburu babi. Serambinews.com kembali melontarkan sejumlah pertanyaan.

Baca: Hilang saat Diservis di Medan, Pemkab Aceh Jaya Diminta Laporkan Dugaan Penggelapan 2 Unit Genset

Baca: Khawatir Listrik dan Sound System Berulah Saat Pelaksanaan MTQ, Nova Minta Wabup Pidie Lakukan Ini

Baca: Ini Alasan Polisi Tangkap Dua Pria di Pidie yang Angkut BBM

"Saya sudah sebulan di sini bersama tiga teman saya dari Nias untuk berburu babi," jelas Yopi yang mengaku nonmuslim ini. 

Yopi mengatakan, ia bersama dua temannya mencari babi di hutan di kawasan Gampong Seumanah Jaya Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur.

"Kalau ada rezeki dalam sehari dapat satu sampai tiga ekor. Namun, yang laku dibeli ukuran berat 10 kg ke atas," jelas Yopi, seraya menyebutkan, babi hutan tersebut dibeli oleh tauke yang datang dari Medan ke lokasi.

"Dibeli Rp 6.000 perkilogram," jelas Yopi, seraya menyebutkan, uang hasil penjualan tersebut untuk menghidupi keluarganya di kampung.

Saat ditanya, apakah babi hasil berburu tersebut juga ia konsumsi di gubuk tempat mereka tinggal, Yopi mengatakan tidak.

"Kalau dikonsumsi nanti baunya diketahui oleh babi lain, sehingga babi-babi tersebut menjauh dan sulit ditemukan," ungkap Yopi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved