Luar Negeri

Mantan Presiden Sudan Omar Al-Bashir Didakwa Korupsi, Uang Rp 1,5 Triliun Ditemukan di Kediamannya

Mendakwa mantan Presiden Sudan, Omar al-Bashir dengan tuduhan korupsi dan kepemilikan mata uang asing ilegal.

Mantan Presiden Sudan Omar Al-Bashir Didakwa Korupsi, Uang Rp 1,5 Triliun Ditemukan di Kediamannya
via CNN
Presiden Sudan Omar al-Bashir. (via CNN) 

SERAMBINEWS.COM - Seorang hakim Sudan, pada Sabtu (31/8/2019), resmi mendakwa mantan Presiden Sudan, Omar al-Bashir dengan tuduhan korupsi dan kepemilikan mata uang asing ilegal.

Mantan pemimpin Sudan itu tampil di pengadilan untuk kali pertama sejak digulingkan pada April lalu dan apabila terbukti bersalah akan diancam dengan hukuman penjara lebih dari 10 tahun.

Hakim Al-Sadiq Abdelrahman yang memimpin persidangan menguraikan dakwaan dan mengatakan sejumlah besar uang tuni dalam berbagai mata uang ditemukan di kediamannya.

 "Pihak berwenang mengatakan telah menyita 6,9 juta euro (sekitar Rp 107 miliar), 351.770 dollar AS (sekitar Rp 4,9 miliar), dan 5,7 juta pound Sudan (sekitar Rp 1,7 miliar), di kediaman (Bashir), yang diperoleh dan digunakannya secara ilegal," kata Abdelrahman.

Sementara Bashir, yang berbicara untuk pertama kalinya di pengadilan, mengatakan bahwa uang tunai yang disita merupakan sisa dari uang setara total 25 juta dollar AS (sekitar Rp 354 miliar) yang diterimanya dari Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

"Manajer kantor saya... menerima telepon dari kantor Pangeran Mahkota Saudi Mohamed bin Salman yang mengatakan ia memiliki 'pesan' yang akan dikirim dengan jet pribadi," kata Bashir kepada pengadilan.

"Kami diberitahu bahwa pangeran mahkota tidak ingin namanya muncul (terkait dengan transaksi) dan jika dana disetor ke bank Sudan atau kementerian keuangan, sumber itu harus diidentifikasi," katanya.

Bashir tidak dapat mengingat kapan dirinya menerima dana tersebut.

Akan tetapi mantan presiden berusia 75 tahun itu menegaskan bahwa dana itu diterimanya sebagai bagian dari hubungan strategis Sudan dengan Arab Saudi.

"Dana itu tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai sumbangan untuk mendukung individu dan entitas, termasuk perusahaan impor gandum, universitas, dan rumah sakit," kata Bashir.

Halaman
1234
Editor: faisal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved