Jurnalisme Warga

Menerobos Kabut demi Sebuah Janji

Jumat lalu seusai subuh saya bersama sahabat Oemar Ibrahim dari rumah di Matangglumpang Dua menuju Bireuen

Menerobos Kabut demi Sebuah Janji
IST
ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim ( Umuslim) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim ( Umuslim) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Jumat lalu seusai subuh saya bersama sahabat Oemar Ibrahim  dari rumah di Matangglumpang Dua menuju Bireuen. Tujuan kami selanjutnya adalah Dataran Tinggi Gayo untuk menjalankan amanah sebagai Koordinator dan  Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Angkatan XVIII Tahun 2019 di salah satu kecamatan lokasi pengabdian mahasiswa Umuslim di Kabupaten Aceh Tengah.

KKM merupakan program dan sarana bagi mahasiswa dan dosen  melakukan pengabdian sebagai wujud dari  implementasi tridarma perguruan tinggi.

Suasana kota Bireuen pagi itu masih terasa sepi, hanya terlihat beberapa jamaah shalat Subuh yang baru ke luar dari beberapa masjid. Mereka sedang mencari sarapan dan kopi pagi  di beberapa sudut warkop yang baru buka.

Cuaca pagi itu masih terasa sejuk. Maklum , malamnya kota yang berjuluk “Kota Juang” ini diguyur hujan deras, sehingga di beberapa sudut kota terlihat genangan air hujan.

Sebelum tancap gas menuju Takengon, kami  lebih dahulu sarapan dengan mengisi perut sepiring nasi gurih menu kari bebek plus secangkir boh manok weng (BMW) campur teh.

Seusai sarapan, kami bergegas menstarter mobil mumpung jalan masih agak  sepi. Pelan  kami bergerak melewati puluhan desa di sepanjang jalan. Cuaca di Bireuen belum tampak cerah, masih dibalut awan hitam. Ekses dari hujan deras pada malamnya.

Ban mobil yang kami tumpangi terus bergulir menyusuri jalan menuju Aceh Tengah. Setelah melewati desa wisata Krueng Simpo, mobil bergerak beberapa kilometer,  gerimis pun mulai turun. Sang sopir mulai hati-hati karena jalan sedikit mendaki, licin, dan agak berliku dengan kondisi aspal masih  basah. Dipandang dari jarak jauh bagai keluar asap dari aspal.

Kami  memacu kendaraan tak begitu kencang,. Di depan kami ada satu truk barang interkuler berpelat polisi BK (pelat polisi Sumatera Utara), truk bergerak sedikit pelan, terasa menampung beban barang yang berat, sehingga kami yang mengekor di belakangnya harus ekstrahati-hati demi terhindar dari ciuman pantat truk yang terkadang berhenti tiba-tiba. Ukuran pantat truk agak lebih lebar dibandingkan ukuran moncong depan mobil yang kami tumpangi.

Pelan tapi pasti, kendaraan kami terus berjalan di belakangnya, karena belum ada peluang jalan lebar untuk melewatinya. Saat itu pula kami sempat membaca satu tulisan yang terpampang di belakang dinding truk dengan tulisan warna-warni: Menorobos kabut demi sebuah janji.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved