Terdakwa Pura-pura Terkejut, Dituntut 20 Tahun Penjara

Terdakwa Zulisupandi alias Om Pandi (54) asal Desa Pante Baro Glee Siblah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen berpura-pura

Terdakwa Pura-pura Terkejut, Dituntut 20 Tahun Penjara
SERAMBI/JAFARUDDIN
Dua terdakwa kasus pembunuhan anak berkebutuhan khusus dengan menggunakan racun tikus dibawa keluar ruangan usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara, Rabu (11/9). 

* Sidang Kasus Ayah Bunuh Anak Angkat Pakai Racun Tikus

LHOKSUKON – Terdakwa Zulisupandi alias Om Pandi (54) asal Desa Pante Baro Glee Siblah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen berpura-pura terkejut ketika polisi mengabari anak angkatnya ditemukan sudah menjadi mayat.

Namun, ketika polisi melakukan interogasi singkat. Akhirnya Zulisupandi mengakui dirinya yang menyuruh membunuh anak angkatnya, M Amin alias Bambang (26). Yakni pemuda berkebutuhan khusus dengan mengunakan racun tikus.

Demikian antara lain terungkap dalam materi tuntutan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Aceh Utara, M Daud Siregar SH dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan memakai racun tikus, Rabu (11/9/2019) sore.

Kasus itu juga menyeret teman terdakwa, Suryadi alias Isur (42) warga Desa Pekan Gegang, Kecamatan Gebang Kabupaten Langkat, Medan. Suryadi bertugas meracuni korban dengan menggunakan racun tikus. Sehingga, baik Zulisupandi dan Suryadi dituntut masing-masing 20 tahun penjara.

Sidang itu dipimpin T Latiful SH didampingi dua hakim anggota, Maimunsyah SH dan Arnaini SH. Sementara terdakwa didampingi dua pengacara terdakwa, Taufik M Noer SH dan Abdullah Sani Angkat SH. Materi tuntutan yang dibacakan jaksa antara lain menceritakan kronologis rencana ayah angkat korban yang akan memasukkan korban ke panti asuhan di Medan, Sumatera Utara.

Tapi, rencana tersebut dibatalkan dalam perbincangan setelah Suryadi tiba di rumah Zulisupandi. Keduanya khawatir Amin akan pulang kembali setelah dimasukkan ke panti asuhan. Kemudian Zulisupandi sepakat dengan rencana Suryadi yang akan membunuh M Amin dengan menggunakan racun tikus.

Dalam materi tuntutan itu, JPU menguraikan hal-hal yang memberatkan terdakwa, yaitu perbuatan keduanya meresahkan masyarakat dan perbuatan terdakwa telah menghilangkan nyawa orang lain. Sedangkan hal yang meringankan kedua terdakwa, mengakui perbuatanya dan belum pernah dihukum serta tulang punggung keluarga.

Menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU), perbuatan kedua terdakwa melanggar Pasal 340 KUHPidana Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KHUPidanam tentang tindak pidana pembunuhan yang disengaja dan direncanakan. Karena itu, jaksa meminta hakim untuk menghukum terdakwa, masing-masing 20 tahun penjara. Atas tuntutan tersebut pengacara terdakwa akan mengajukan pembelaan dalam sidang lanjutan kasus pada Rabu (18/9/2019).

Dalam sidang kemarin juga terungkap rencana terdakwa Zulisupandi yang menyuruh terdakwa Suryadi untuk membunuh anak angkatnya, kalau ditemukan pulang bila sudah dimasukan ke panti asuhan di Medan, Sumatera Utara. Suryadi berencana akan membunuh Amin dengan cara menikamnya. Tapi, kemudian ia membatalkan rencana pembunuhan tersebut dengan cara menikam.

Karena selain kesulitan, tindakan itu juga akan diketahui. Keduanya merencanakan pembunuhan dengan menggunaka racun tikus. Zulisupandi juga memberikan uang Rp 100 ribu kepada Suryadi untuk membeli racun tikus. Namun, Zulisupandi merasiakan pembunuhan berencana tersebut kepada istrinya. Istri terdakwa baru mengetahui kejadian itu setelah suaminya diamankan polisi.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved