Sabtu, 18 April 2026

Langit Jambi Bewarna Oranye Hingga Merah, Apa yang Terjadi? Ini Penjelasannya

Foto-foto warga Kabupaten Muarojambi memberikan gambaran kondisi Kota Jambi dan sekitarnya sekarang ini.

Editor: Amirullah
istimewa
Foto-foto Amna, warga Kabupaten Muarojambi, memberikan gambaran kondisi Kota Jambi dan sekitarnya Sabtu (21/9/2019) siang, langit Jambi oranye semu kemerahan. 

Penjelasan BNPB

Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab perubahan warna langit ini?

Plt Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Agus Wibowo Soetarno mengungkapkan bahwa warna merah terjadi karena pergerakan kabut asap dari titik api atau hotspot.

"Warna merah tersebut merupakan kabut asap yang bergerak dari hotspot yang ada di provinsi bagian selatan Provinsi Riau," ujar Agus saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (21/9/2019) malam.

Menurutnya, titik api ini sudah ada sejak pertengahan Agustus 2019.

Kondisi Muaro Jambi langit berwarna merah pada siang hari. (Facebook: Qha Caslley)

Baca: Keluarkan Dana Tanggulangi Karhutla, Walhi: Pemerintah Seolah Subsidi Pelaku Kejahatan Lingkungan

Baca: Tak Terima Ditilang, Seorang Pria Dipukul Polisi hingga Tewas, Sempat Minta Tolong Tapi Tak Digubris

Hamburan Rayleigh

Di sisi lain, astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo menjelaskan bahwa fenomena langit berwarna merah bukanlah disebabkan tingginya suhu atau pengaruh api.

"Ini nampaknya fenomena Hamburan Rayleigh. Hamburan Rayleigh itu hamburan elastis pada cahaya oleh partikel-partikel mikro/nano di udara yang ukurannya lebih kecil dari panjang gelombang cahaya tampak," ujar Marufin saat dikonfirmasi terpisah Kompas.com, Sabtu (21/9/2019).

Pencemaran udara di Tanjab Timur akibat kahutla masuk level berbahaya. Tribunjambi/Abdullah Usman (Tribunjambi/Abdullah Usman)

Marufin mengungkapkan bahwa fenomena ini umum dijumpai. Pasalnya, fenomena Rayleigh ini menjadi penyebab langit berwarna biru pada siang hari dan memerah kala senja atau fajar.

"Dalam kasus Jambi ini, kepadatan partikel-partikel mikro/nano di udara nampaknya cukup besar sehingga lebih padat ketimbang konsentrasi partikel pada udara normal," ujar Marufin.

"Karena lebih padat maka berkas cahaya Matahari yang melewatinya akan dihamburkan khususnya pada panjang gelombang pendek (spektrum biru dan sekitarnya) hingga medium (spektrum hijau dan sekitarnya)," kata dia.

Illustrasi (Istimewa)

Kesehatan mata

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved