Kamis, 16 April 2026

Berita Banda Aceh

Pelaku Sejarah Minta DPRK Banda Aceh Lahirkan Qanun Cagar Budaya

Selama ini, Banda Aceh belum memiliki aturan dalam penataan dan untuk menyelamatkan budaya atau khazanah Aceh.

Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com
Pelaku sejarah yang juga Kolektor Naskah Kuno, Tarmizi A Hamid memberikan penjelasan tentang sejarah budaya Aceh kepada anggota DPRK Banda Aceh dalam kegiatan orientasi dan pembekalan anggota DPRK terpilih di Hotel Kyriad Muraya Banda Aceh, Senin (23/9/2019). SERAMBINEWS.COM/MASRIZAL 

Selama ini, Banda Aceh belum memiliki aturan dalam penataan dan untuk menyelamatkan budaya atau khazanah Aceh.

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Pelaku sejarah yang juga Kolektor Naskah Kuno, Tarmizi A Hamid mendorong Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh untuk melahirkan Qanun Cagar Budaya.

Qanun itu, menurut Tarmizi, penting mengingat Kota Banda Aceh banyak menyimpan situs cagar budaya, baik batu nisan, situs bangunan, benda dan tidak benda. 

Selama ini, Banda Aceh belum memiliki aturan dalam penataan dan untuk menyelamatkan budaya atau khazanah Aceh. 

"Banda Aceh perlu dan sangat penting segera melahirkan qanun tersebut untuk menyelamatkan kekayaan khazanah budaya ini," kata Tarmizi saat menjadi pembicara pada kegiatan orientasi dan pembekalan anggota DPRK Banda Aceh, di Hotel Kyriad Banda Aceh, Senin (23/9/2019).

Kegiatan yang dilaksanakan Sekretariat DPRK Banda Aceh dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh diikuti 30 anggota DPRK Banda Aceh terpilih pada Pemilu 2019.

Pentingnya qanun itu, menurut Tarmizi agar semua khazanah budaya bisa teridentifikasi dengan baik. "Supaya bisa ditata lebih rapi dan punya identifikasi katalogisasi masing-masing," ucap dia.

Baca: Kabut Asap Pekat, Penerbangan di Bandara SIM Aceh Besar Belum Ada Batal

Baca: Lima Daerah ke Semifinal Fahmil Quran

Baca: Wan Neraka Masih Kritis  

Sebab, apabila membengkalaikan dan menyia-nyiakan bainah (harta warisan) Kota Banda Aceh, kata Cek Midi panggilan Tarmizi, kehidupan akan carut marut karena identitas kedaerahannya kabur

"Kehidupan menjadi tanpa arah karena tidak peduli dengan peninggalan peristiwa sejarah. Peninggalan sejarah adalah bukti kehidupan. Jika tidak peduli dengan sejarah maka sama dengan tidak peduli dengan kehidupan," ungkap dia.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved