Rabu, 8 April 2026

Aceh Komit Tingkatkan Energi Terbarukan

Pemerintah Aceh berkomitmen untuk terus meningkatkan proporsi energi baru dan terbarukan (EBT) di Aceh

Editor: bakri
SERAMBI/ SUBUR DANI
Hamdani Bantasyam (tengah) putra asli Aceh yang kini menjabat sebagai Business Head Nalco Water di Jakarta menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang optimalisasi energi untuk Aceh di Hotel Kryad, Banda Aceh, Jumat (27/9/2019). 

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh berkomitmen untuk terus meningkatkan proporsi energi baru dan terbarukan (EBT) di Aceh. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menargetkan bauran energi baru dan terbarukan di Aceh akan mencapai 12,25 persen di tahun 2022 nanti.

Selain untuk mencukupi kebutuhan energi, hal itu dilakukan untuk mendukung program unggulan Aceh Hebat lainnya, yaitu Aceh Green. Nova Iriansyah optimis dengan target itu, karena Aceh sangat kaya dengan sumber daya potensi EBT, seperti sumber daya air, matahari, angin, panas bumi, dan biomassa.

"Kami berkomitmen pada tahun 2022, ketersediaan energi yang bersumber dari energi baru terbarukan di Aceh mencapai 12,25 persen," katanya, saat menjadi keynote speaker FGD diskusi terkait ‘Optimalisasi Energi Untuk Aceh’ yang digelar Center for Energy and Innovation Technology Studies (Cenits) bersama Ikatan Alumni ITS Provinsi Aceh, Jumat (27/9).

Dikatakan, pemerintah bersama dewan di DPRA tengah merampungkan Rancangan Qanun Aceh tentang Rencana Umum Energi Aceh (RUEA). Qanun itu nantinya akan menjadi payung hukum untuk melakukan optimalisasi energi di Aceh.

Qanun RUEA mengamanatkan pengelolaan energi di Aceh, dengan sistem pengelolaan yang bersih dan terbarukan. Sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan melalui prioritas pengembangan potensi sumber EBT untuk merealisasikan komitmen Aceh dalam pembangunan yang ramah lingkungan.

Pemerintah Aceh juga terus mendorong efisiensi dalam pemanfaatan energi melalui pelaksanaan konservasi energi. Pemerintah juga menuntut partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya energi, dalam rangka mencapai kemandirian energi. "Pemerintah Aceh telah melakukan beberapa inisiatif terkait upaya optimalisasi potensi energi di Aceh," kata Nova.

Selain itu, pembangunan infrastruktur pembangkit listrik skala kecil dan skala besar terus dilakukan. Hingga saat ini, Pemerintah Aceh telah membangun 31 unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Untuk skala yang lebih besar, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) dengan skala 10 MW di Nagan Raya.

"Ini dilakukan melalui kerja sama dengan pihak investor sebagai Independent Power Producer yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2020. Di samping itu, saat ini di Sungai Krueng Peusangan, Kabupaten Aceh Tengah, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas total 88 MW sedang dilaksanakan oleh pihak PLN," terang Nova.

Upaya Optimalisasi Potensi Energi Aceh juga telah dilakukan pada beberapa Lapangan Panas Bumi (Geothermal Green Field) di Aceh, yaitu: Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Jaboi di Kota Sabang sebesar 10 MW, dan Pembangunan PLTP Seulawah Agam di Kabupaten Aceh Besar sebesar 55 MW, dari total perkiraan potensi panas bumi sebesar 165 MW.

Pembangunan PLTP Seulawah Agam turut melibatkan PT. Pembangunan Aceh (PT. PEMA) selaku Badan Usaha Milik Aceh yang mempunyai kepemilikan saham dalam usaha patungan dengan perusahaan pengembang. Dengan demikian, penjualan energi listrik yang dihasilkan dari PLTP Seulawah Agam akan menjadi salah satu sumber pendapatan asli Aceh.

Nova menyebutkan, untuk dapat mengoptimalkan pengembangan potensi energi tersebut, pemerintah sangat membutuhkan sinergi dengan semua pihak. "Kepada rekan-rekan Alumni ITS, kami mengharapkan kontribusinya untuk dapat turut serta dalam mendukung pengembangan energi di Aceh," pungkas Nova.

Salah satu proyek energi terbarukan di Aceh yang cukup dinanti adalah pembangunan tiga turbin listrik panas bumi(Geotermal) Seulawah Agam, Aceh Besar. Putra asli Aceh yang kini menjabat sebagai Business Head Nalco Water, Hamdani Bantasyam mendorong para pihak untuk memprioritaskan hal itu.

Namun, dia sendiri tahu bahwa ada sedikit persoalan di sana terkait saham, sehingga proyek besar ini tak kunjung dilakukan. "Pertamina Georotermal ingin segara melakukan drilling , mereka sudah melakukan studi, tapi driling belum bisa dilakukan, karena persoalan itu," kata Hamdani Bantasyam.

Dia mendorong Pemerintah Aceh untuk terus mengawal dan melakukan upaya-upaya maksimal agar proyek listrik panas bumi ini bisa terwujud di Aceh. "Masyarakat menunggu, merubah energi fosil, supaya kita tidak pakai minyak, batu bara, dan sebagainya. Sehingga Seulawah Agam 160 mega watt kita minta bagaimana mendorong sehingga ke depan bisa masuk," pungkas Hamdani Bantasyam.

Kegiatan FGD kemarin diikuti oleh seratusan peserta. Adapun narasumber seperti Direktur Bisnis Regional Sumatera PT PLN, Wiluyo Kusdwiharto, Direktur Utama PT Petra Arun Gas, Arif Widodo, Direktur Produksi, Teknik dan Pengembangan PT. PIM, Pranowo Tri Nusantoro, Business Head Nalco Water, Hamdani Bantasyam.(dan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved