Breaking News:

Aceh Hebat

Dari Rumah Singgah Hingga Pengembangan RSUDZA

kehadiran rumah singgah untuk keluarga pasien yang menjalani pengobatan di rumah sakit itu sudah dinantikan sejak dulu

Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/Muhammad Hadi
Rumah Singgah Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Kamis (26/9/2019) 

Laporan Muhammad Hadi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sebuah gedung megah berlantai dua berdiri tegak di belakang Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA). Beberapa orang dan petugas RSUDZA terlihat sedang berbicara di teras pada Kamis (27/9/2019) sore. Ada juga yang lalu lalang keluar masuk gedung tersebut.

Serambinews.com yang datang menyapa pria dan wanita yang duduk santai di teras gedung tersebut. Ternyata mereka penghuni sementara gedung yang bernama Rumah Singgah RSUDZA. Langsung terlibat dalam pembicaraan dengan orang-orang yang ternyata dari berbagai daerah di Aceh.

Mereka orang-orang daerah yang mendampingi pasien atau pasien yang menunggu jadwal operasi dan berbagai keperluan medis lainnya, termasuk rawat jalan. Meski sedang sakit atau mendampingi keluarganya, terpancar wajah-wajah penuh bahagia dari orang-orang berbagai dari berbagai kabupaten/kota. Ternyata keberadaan rumah singgah ini yang membuat mereka tenang dan tak perlu bolak-balik ke daerahnya lagi. Apalagi mereka tidak ada keluarga atau saudara di Banda Aceh untuk menginap.

Misalnya Ilyas (70) dari Desa Cot Bada, Blang Blahdeh, Bireuen. Sang kakek mengaku sudah 16 hari mendampingi istrinya yang sakit kanker payudara. Sebelumnya sang istri didampingi oleh anak pertama yang tinggal di Sumatera Utara. Tapi saat berobat kali ini, anak perempuannya itu tak bisa mendampingi lagi karena ada urusan keluarga di provinsi tetangga.

Sedangkan dua anaknya lagi sudah meninggal dua. Ilyas mengisahkan bila anak keduanya yang wanita meninggal dunia karena musibah tsunami tahun 2004 lalu. Kemudian anak ketiganya yang laki-laki hilang semasa konflik Aceh berkecamuk. Ilyas pun harus mendampingi istri tercintanya.

"Rencananya satu minggu di sini, tapi setelah diperiksa, ternyata tidak bisa pulang dulu. Kalaupun boleh pulang tiga hari, lalu balik ke sini lagi tidak mungkin juga. Berapa biaya bolak-balik ke kampung. Untung ada rumah singgah sehingga sangat membantu sekali. Jadi tak perlu pulang ke kampung," ujar Ilyas saat menceritakan kondisinya memakai Bahasa Aceh.

Baca: Aceh Raih Juara Harapan I Inovasi TTG Nasional di Bengkulu

Fauziah dari Luengputu, Pidie Jaya mendampingi suaminya, Sofyan di teras Rumah Singgah RSUDZA, Kamis (26/9/2019)
Fauziah dari Luengputu, Pidie Jaya mendampingi suaminya, Sofyan di teras Rumah Singgah RSUDZA, Kamis (26/9/2019) (Serambinews.com/Muhammad Hadi)

Sedangkan Fauziah dari Luengputu, Pidie Jaya mendampingi suaminya, Sofyan. Sang suami sudah diamputasi kakinya akibat menjadi korban tsunami tahun 2004 lalu. Awalnya kedatangan mereka ke RSUDZA untuk kontrol saja. Tapi oleh dokter tak diizinkan pulang dulu karena butuh perawatan lanjutan. "Alhamdulillah kami bisa menginap di rumah singgah ini," kata Fauziah.

Keberadaan Rumah Singgah RSUDZA juga sangat membantu keluarga Nur Athiah dari Nisam, Aceh Utara. Ibu dari empat anak ini mendampingi suaminya karena menderita saluran kencing. Suaminya Marzuki harus mendapatkan perawatan lebih lanjut. Nur pun harus mencurahkan perhatian untuk suaminya dan empat anaknya yang masih usia sekolah.

"Kalau kami pulang ke Nisam, jauh lagi masuk ke pedalaman. Kami sangat terbantu dengan adanya rumah singgah ini. Tempatnya bagus, nyaman, bersih dan sangat tenang tinggal di sini. Kami bahagia sekali tinggal di sini untuk sementara dan dekat lagi dengan rumah sakit. Dokter dan adek-adek perawat ini juga ramah-ramah dan baik-baik sekali," ujar Nur sambil memegang bahu wanita disampingnya yang berpakaian dinas RSUDZA.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved