Mantan Kombatan Kesulitan Pemasaran, Jadi Petani di Eks Area HTI Sumedang Jaya
Mantan kombatan GAM wilayah Peureulak, Aceh Timur yang telah menjadi petani bersama masyarakat masih kesulitan dalam
IDI - Mantan kombatan GAM wilayah Peureulak, Aceh Timur yang telah menjadi petani bersama masyarakat masih kesulitan dalam memasarkan hasil pertanian. Mereka bercocok tanam di area eks Hak Guna Usaha (HGU) hutan tanaman industri (HTI) PT Gunung Meudang, di Dusun Sumedang Jaya, Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peuruelak.
“Sudah sekitar 7 tahun kami mengembangkan lahan pertanian secara swadaya, meski sudah mandiri, tapi kami masih kesulitan mengembangkan lahan dan memasarkan hasil produksi,” kata mantan Kombatan GAM Aceh Timur, Syafrizal Komeng, Samsuri, dan Mulyadi, kepada Serambi, Rabu (2/10).
Syafrizal mengatakan, pertanian merupakan lapangan pekerjaan yang cocok bagi para mantan kombatan, karena sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. “Kami masih perlu pembinaan berkelanjutan dari intansi terkait agar kami berhasil dalam bertani,” katanya. Dikatakan, terdapat sekitar 500 hektare dari 7.200 HGU eks HTI PT Gunung Meudang, di Seumanah Jaya, telah ditanami dengan sistim tumpang sari oleh masyarakat.
Disebutkan, seperti cabai, lada, pisang, melon, pisang, jengkol, dan sejumlah tanaman lainnya. “Kami juga butuh bantuan bibit tanaman tua, seperti jengkol, rambutan, mangga dan lainnya,” ujarnya, seraya menambahkan pihaknya menanam dengan pola tanaman tua disisipi dengan tanaman muda seperti cabai, ubi, dan lain-lain.
“Oleh karenanya, kami sangat butuh pendampingan dari Dinas Pertanian dan tengaha penyuluhan, sehingga para petani bisa berhasil,” harap Syafrizal. Dia juga mengungkapkan
189 unit rumah di KTM yang telah diserahkan secara simbolis kepada petani oleh mantan Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah pada 2016 lalu sudah dihuni oleh masyarakat.
Dia mengatakan pemerintah sudah membangun sekolah dasar (SD) dan pasar ikan, tetapi masih ada fasilitas umum yang perlu dibangun lagi, terutama jalan dari Simpang Krueng Tuan ke lokasi KTM, dan pembangunan tiga unit jembatan beton.
Selain itu, Syafrizal mengatakan meski lahan bercocok tanam eks HGU HTI PT Gunung Meudang, masih banyak area terlantar sekitar 6.000 hektare, tetapi petani tidak berani menanaminya, karena, belum ada kepastian status tanah. Dikatakan, petani yang menggarap tanah tersebut tidak memiliki surat, karena belum ada pihak yang berani mengeluarkan surat izin.
Menurut dia, eks HGU HTI PT Gunung Meudang sudah diserahkan kepada Pemkab Aceh Timur dan bersama BPN akan mengukur tapal batas dengan HGU perusahaan perkebunan, dan tanah milik masyarakat. “Petani berharap ada satu sikap dari pemerintah, agar kami tetap bersemangat mengembangkan lahan pertanian dan banyak warga lainnya yang ingin bercocok tanam,” harap Syafrizal, seraya menambahkan termasuk dari kalangan mantan kombatan GAM di Aceh Timur, yang berjumlah sekitar 10 ribu orang.
Syafrizal yang mewakili petani dan mantan kombatan GAM yang menetap di KTM, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang peduli dan memikirkan nasib rakyat dengan membangun perumahan, fasilitas umum, dan lahan pertanian. Dikatakan, dengan berhasilnya petani di bawah binaan pemerintah, tentu ekonomi dan kesejahteeraan masyarakat akan bangkit, dan risiko gangguan sosial juga dapat diminimalisir, terutama penyalahgunaan narkoba.
Sedangkan Mulyadi, anggota KPA Pante Bidari mengatakan setiap warga di Aceh Timur, memiliki lahan untuk dikembangkan, tapi terkendala modal untuk mengembangkannya. “Masyaraat antusian mengembangkan tanaman ubi, tapi terkendala modal. Karena itu, hita harap ada perhatian dari pemerintah agar petani bisa mengembangkan lahannya,” harap Mulyadi.
Kepala Dinas, Perindustrian, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Aceh Timur, Drs Zulbahri, MAP didampingi sejumlah staf dan perangkat desa mendata warga translokasi kota terpadu mandiri (KTM) di Seumanah Jaya, Ranto Peureulak, Aceh Timur, Rabu (2/10).
“Hasil pendataan kita, ada 189 KK yang menempati perumahaan KTM, tapi, hanya 169 KK yang di tempat, dan sudah berstatus menjadi warga Seumanah Jaya, sedangkan, sekitar 20 KK lagi pulang kampung, tapi umumnya juga sudah menjadi warga setempat,” jelas Drs Zulbarhi.
Dikatakan, Dari 189 KK itu, 50 persen merupakan eks kombatan GAM. “Mata pencarian satu-satunya adalah bertani dan umumnya kaum duafa, yang memang tidak memiliki lahan di kampung asal, tetapi kini mulai hidup mandiri di sana,” jelas Zulbahri.
Hanya saja, ungkap Zulbahri, warga translok KTM, mengharapkan agar pemerintah membangun sarana jalan karena sudah rusak berat. “Kami juga akan melakukan pembinaan dan pengembangan ekonomi masyarakat, dengan membuat pelatihan madu linot bagi petani dalam waktu dekat ini,” ungkap mantan Kasatpol PP dan WH Aceh Timur ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/perangkat-desa-mendata-warga-i-translokasi.jpg)