Berita Banda Aceh
Bandar Besar Sabu di Malaysia Rekrut Bandar Menengah di Aceh
Di pasar gelap Thailand dan Malaysia, sabu dibeli bandar asal Aceh Rp 200 juta hingga Rp 600 juta per kilogram
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Nur Nihayati
Di pasar gelap Thailand dan Malaysia, sabu dibeli bandar asal Aceh Rp 200 juta hingga Rp 600 juta per kilogram
Laporan Yarmen Dinamika l Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mayoritas narkoba jenis sabu yang masuk ke Aceh berasal dari Thailand dan Malaysia. Khusus di Malaysia, sejumlah warga Aceh nekat menjadi bandar sabu dan tergolong bandar besar dengan aset ratusan miliar ringgit.
Kemudian, para bandar sabu antarnegara itu merekrut atau menunjuk lagi orang kepercayaannya di Aceh untuk menjadi bandar sabu kelas menengah. Aset mereka miliar rupiah.
"Bandar sabu kelas menengah ini merekrut pula puluhan pengedar dan kurir sabu untuk bergerak di Aceh, bahkan antarprovinsi. Ya, begitulah cara sindikat ini membangun rantai bisnisnya di Aceh," ungkap Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser MH kepada Serambinews.com, Sabtu (5/10/2019) malam.
Saat dihubungi, Faisal sedang berada di Jakarta jumpa dan berkoordinasi dengan Kepala BNN Republik Indonesia, Komjen Pol Drs Heru Winarko SH yang akan berkunjung ke Aceh tanggal 7-8 Oktober 2019.
Baca: Kapolresta Banda Aceh Sambangi Kodim 0101/BS Bawa Kue Tart dan Gratiskan SIM Bagi 35 Anggota TNI
Cerita tentang bandar besar menunjuk bandar menengah dan seterusnya bandar kecil itu diungkapkan Brigjen Faisal Abdul Naser setelah dia amati dan interogasi para bandar (cukong) maupun pengedar sabu yang tertangkap di wilayah hukum Aceh sejak ia mulai bertugas di Aceh tahun 2017 hingga kini.
Baca: Menikmati Burung di Bur Mulo Forest Park, Ini Waktu yang Tepat Bagi Wisatawan
Dalam tiga tahun terakhir ini saja, kata Faisal, BNNP Aceh dan jajarannya berhasil menyita 3 ton (3.000 kg) sabu dan pil ekstasi. Barang terlarang tersebut umumnya masuk dari luar negeri melalui 29 jalur tikus di perairan Aceh dan sesekali melalui bandara.
Baca: LembAHtari: Keterlibatan Earthworm Foundation Membina Petani Harus Berkesinambungan
Di pasar gelap Thailand dan Malaysia, sabu dibeli bandar asal Aceh Rp 200 juta hingga Rp 600 juta per kilogram. Sesampainya di daratan Aceh, sabu--biasanya setelah dioplos dengan tawas--dijual Rp 800 juta hingga 1 miliar per kilogram. Harga jual sabu di Aceh termahal se-Asia, sehingga bandar sabu internasional tertarik berbisnis atau memasok sabu ke Aceh karena untungnya lebih besar.
Ironisnya, mayoritas bandar sabu kelas kakap di Malaysia adalah putra Aceh sendiri yang sudah lama merantau ke sana. "Merekalah yang
memasok sabu ke Aceh kepada bandar menengah yang sudah dia tunjuk. Lalu bandar kelas menengah ini merekrut lagi para pengedar kecil dan para kurir," kata Faisal Abdul Naser.
Para kurir, lanjut Faisal, biasanya mendapat kompensasi 1 kg kalau ia berhasil mengantar sebanyak Rp 25 kg sabu ke alamat si pemesan (pengorder).
"Dapat bonus 1 kilo itu kan berarti dia dapat 800 juta hingga 1 miliar rupiah. Besar itu untuk pekerjaan yang hanya beberapa jam. Nah, itulah sebab kurir sabu di Aceh semakin banyak. Mereka antar sabu ke Sumut, Riau, Jakarta, bahkan Jawa Timur, tapi seringnya tertangkap," kata Faisal.
Ditanya contoh kasus tentang adanya rekrutmen bandar menengah dan kecil ini di Aceh, Faisal menyebut contohnya adalah kasus Ridwan, bandar sabu asal Aceh Timur yang tewas akibat didor aparat di Bener Meriah pada 29 September lalu.
Faisal menjelaskan, Ridwan selama ini menjadi buronan BNN Pusat.
Dia diburu, berawal dari tertangkapnya dua rekannya yakni, Muhajir pada 22 Mei pukul 01.00 WIB di Cilegon, Banten dan Rizki di Langsa.
“Muhajir hari itu membawa sabu seberat 36 kilogram, lalu ditangkap BNN. Kemudian kasus ini dikembangkan dan hari itu juga ditangkap lagi Rizki di Langsa,” kata Brigjen Faisal.
Hasil pengembangan lebih lanjut, ternyata barang haram yang dibawa Muhajir di Cilegon dan Rizki di Langsa diperoleh dari Ridwan.
Ridwan ini teridentifikasi sebagai bandar kelas menengah di Aceh yang direkrut bandar besar di Malaysia.
Ridwan kemudian merekrut Muhajir dan Rizki sebagai bandar kecil atau kaki tangannya di Aceh.
“Saat kita tangkap Rizki di Langsa, Ridwan berhasil melarikan diri. Dan kemudian kita lakukan penindakan, karena dia berpindah-pindah terus, bahkan disembunyikan jaringannya,” kata Faisal.
Ridwan, lanjut Faisal, terus diuber selama empat bulan. "Tanggal 29 September lalu kesenggol kita di Bener Meriah. Dia lakukan perlawanan, lari naik sepeda motor, lalu kita lakukan pelumpuhan dan sampai rumah sakit yang
[20:20, 10/5/2019] Yarmen: bersangkatan meninggal dunia,” kata Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Naser yang 1 November tahun ini akan pensiun.
Ia berharap penggantinya kelak adalah orang yang bersungguh-sungguh memberantas narkoba di Aceh, seperti dirinya, meskipun ia bukan orang Aceh, melainkan kelahiran Medan, Sumatera Utara
"Saya sangat mencintai Aceh dan tak ingin generasi muda di bumi syariat ini hancur masa depannya gara-gara narkoba," kata Faisal Abdul Naser.
Ia tambahkan, sebaiknya bandar dan pengedar narkoba menjauh dari Aceh sebab akan sangat mudah terdeteksi.
Selain jaringan dan sel-selnya sudah banyak yang diketahui dan dibongkar, BNNP Aceh juga menggunakan alat canggih, yakni direction finder (DF) atau alat penunjuk arah untuk mendeteksi pelaku bisnis narkoba.
"Kami gunakan DF untuk mendeteksi pergerakan pelaku. Kita punya alat DF baik milik Polda Aceh, Bea dan Cukai, maupun dari BNN RI," ungkap Faisal. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/faisal-abdul-naser_20180728_133600.jpg)