Breaking News:

Sawit

Pengelolaan Dana Replanting di Aceh Tamiang Dinilai tak Transparan

Program replanting sawit yang sedang berjalan di Aceh Tamiang mendapat sorotan setelah dinilai tidak transparan.

Penulis: Rahmad Wiguna
Editor: Taufik Hidayat
Dok LembAHtari
Direktur LembAHtari Sayed Zainal saat bertemu petani di Jamborambong pada 25 September. Dua koperasi yang terlibat dalam program kni diminta transparan, termasuk pengelolaan dana. 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Program replanting sawit yang sedang berjalan di Aceh Tamiang mendapat sorotan setelah dinilai tidak transparan. 

Sejumlah petani selaku penerima manfaat dalam program ini mengaku tidak pernah tahu jadwal tahapan penanaman. Bahkan tidak sedikit areal tanam yang sudah dibersihkan, kini mulai ditumbuhi tanaman liar dampak dari belum diterimanya bibit dari koperasi. 

Direktur LembAHtari, Sayed Zainal menyebut ketidak-transparan ini tidak hanya pada tahapan pengerjaan, tapi juga menyangkut anggaran. 

Diketahui peremajaan tanaman sawit milik petani ini didanai dari iuran ekspor CPO yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Petani diberi bantuan Rp 25 juta untuk setiap hektare lahan yang diajukan ikut replanting melalui dua koperasi. 

"Nah dana milik petani inikan disimpan di rekening koperasi, bukan ke petani langsung. Pertanyaannya bunga dari dana ini selanjutnya disalurkan kemana," kata Sayed, Minggu (6/10/2019). 

Menurutnya harus ada kejelasan informasi apakah bunga tersebut disalurkan ke rekening petani, koperasi, kas daerah atau pihak lainnya. 

Selain itu kata dia, sebagian petani saat ini sudah ada yang selesai mengerjakan pembersihan lahan dan membuat lubang tanam. "Ini juga ada yang mengaku belum dibayar oleh koperasi. Padahal seharusnya setiap selesai satu tahap pengerjaan, langsung dicairkan anggarannya," kata Sayed. 

"Dan yang kita herankan, petani tahu kalau mereka tidak kelola uang, tapi saat pemberian kuasa ke koperasi di hadapan pihak bank, mereka tidak pernah menerima salinan selembar pun," lanjutnya. 

Sayed juga menanyakan alokasi anggaran terhadap lahan yang luasnya tidak sampai satu hektare. Jangan sampai dana yang dikeluarkan tetap Rp 25 juta, tapi yang diterima petani lebih kecil. 

Secara tegas Sayed mengaku cukup kritis mengawasi program replanting karena tidak ingin pelaksanaan di tahun pertama ini tidak memuaskan yang bisa berdampak tidak dilanjutkannya di masa mendatang. 

"Harus kita akui program ini sangat bagus, harus didukung karena membantu petani. Makanya jangan sampai pemilik dana tidak puas sehingga mengalihkannya ke daerah lain," tukas Sayed.(*)

Baca: Oleskan Pasta Gigi di Luka Bakar, Tangan Pria Ini Justru Berubah Mengerikan

Baca: Kronologi Pemuda Setubuhi Istri Kawan Sendiri, Pelaku Masuk Kamar dan Tindih Korban Dalam Gelap

Baca: Babak Pertama Berakhir, Laga PSBL Langsa dan Pereulak Raya Masih Kacamata

Baca: Aceh International Diving Festival and Championship Resmi Dibuka di Sabang, Ini Beberapa Kegiatannya

Baca: Ini Jadwal Rekrutmen CPNS 2019, Total Formasi yang Akan Dibuka Sebanyak 197.111

Baca: Untuk Pulangkan Neymar ke Camp Nou, Barcelona Pertimbangkan Ajukan Nama Griezmann ke PSG

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved