Taman Hutan Konservasi Bur Mulo Forest Park, Tempatnya Melihat Burung dan Aneka Satwa

Tanah Gayo dengan pesona keindahan alamnya telah menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan

Taman Hutan Konservasi Bur Mulo Forest Park, Tempatnya Melihat Burung dan Aneka Satwa
DOK AGUS NURIZA
Reje Hakim Bale Bujang, Misriadi (dua kiri) foto bersama Agus Nuriza (kiri) dan komunitas birdwatching (melihat burung) di lokasi Taman Hutan Bur Mulo Forest Park. 

Tanah Gayo dengan pesona keindahan alamnya telah menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan. Pengembangan objek wisata juga terus dilakukan, salah satunya yang terbaru adalah Bur Mulo Forest Park.

Di Desa Hakim Bale Bujang (HBB) Takengon, Aceh Tengah, kini wisatawan tidak hanya bisa menikmati pemandangan alam dari ketinggian di Bur Telege, tetapi juga sudah bisa menikmati objek wisata alam berbasis hutan konservasi yang dinamakan Bur Mulo Forest Park.

Objek wisata terbaru ini mulai diperkenalkan oleh pihak pengelola objek wisata HBB. Di taman hutan konservasi tersebut, pengunjung bisa melihat segala keanekaragaman hayati flora dan fauna, sehingga sangat cocok untuk wisata edukasi.

Beberapa flora dan fauna yang ada di taman hutan itu, di antaranya burung endemik Sumatera seperti Scheinder Pitta’s, Lesser shortwing, Pigeon, dan lain-lain. Juga  ada hewan seperti Thomas Leaf Monkey dan Red Giant Flying Squirrel, serta anggrek lokal yaitu Paphiopedium Bungebelangi.

"Kegiatan yang bisa dilakukan di lokasi ini adalah birdwatching (melihat burung), hewan lainnya serta tumbuhan yang hidup di sekitar wilayah," kata Reje Misriadi. Reje dalam bahasa Gayo berarti pimpinan eksekutif suatu desa.

Misriadi menyebutkan, perjalan wisata ke Tanah Gayo kini bisa dinikmati dalam satu paket berupa wisata kopi, wisata budaya, wisata gunung, danau, taman hutan berikut kekayaan flora dan faunanya, wisata petualang.

Desa HBB sebelumnya sukses membangun objek wisata Bur Telege berada persis di jantung Kota Takengon, di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut (DPL).

"Kebetulan Desa HBB berada di jantung Kota Takengon. Danau Lut Tawar yang sudah populer ini langsung bisa dinikmati dari atas ketinggian. Bur Telege, destinasi wisata perbukitan yang disulap menjadi sebuah taman  dengan nuansa kekinian," ujar Reje Misriadi.

Bagi penikmat dan pecinta kopi, Kopi Gayo pasti sudah tak asing lagi namanya yang juga sebagian berasal dari Kampung Hakim Bale Bujang. "Wisatawan diajak dan diperkenalkan dengan kopi berikut segala budayanya. Sekaligus menikmati seduhan kopinya," ujar Misriadi.

Wisata budaya, ditawarkan berbagai atraksi seni budaya  antara lain Tari Tradisional Gayo (Tari Munalo, Tari Guel, Tari Sining, dan lain-lain, budaya mungerawang upuh (kerawang Gayo) dan unsur seni budaya lainnya melalui belajar, mengenal, dan menyaksikan secara langsung seni budaya Gayo kepada para wisatawan. Pengelola wisata HBB juga menyediakan tempat tinggal dengan masyarakat setempat (stay with native), atau homestay.

Agus Nurza dari komunitas birdwatching yang ikut mendisain Bur Mulo Forest Park, menambahkan, untuk melihat burung di lokasi tersebut, sebaiknya dipilih pada  pagi hari saat matahari terbit, karena burung relatif aktif untuk bergerak dan mencari makan.

Wisatawan yang mau menikmati sensasi melihat burung, mempersiapkan peralatan kamera zoom dan teropong binokular. "Akan tetapi, kalau tidak punya peralatan, tidak masalah, pengelola menyediakan teropong yang dapat disewa wisatawan," kata Agus Nuriza.(fikar w eda)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved