Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kerajaan Jeumpa, Fakta atau Fiktif?

Pada Agustus lalu, dunia kesejarahan dikejutkan oleh pernyataan budayawan Ridwan Saidi yang mengatakan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Jeumpa, Fakta atau Fiktif?
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Umuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Umuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Pada Agustus lalu, dunia kesejarahan dikejutkan oleh pernyataan budayawan Ridwan Saidi yang mengatakan Kerajaan Sriwijaya itu fiktif! Sontak mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak, rasanya tak mungkin atau sulit dipercaya jika Kerajaan Sriwijaya dikatakan fiktif. Sejak kecil kita telah disuguhi pengetahuan tentang sejarah kebesaran Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan.

Dalam banyak penelitian, baik di dalam maupun di luar negeri, jelas-jelas dinyatakan bahwa pada abad ke-7 hingga ke-11 Masehi di Sumatra bagian selatan telah berdiri kerajaan maritim besar yang menjadi salah satu pusat pengajaran dan penyebaran agama Buddha Mahayana sekaligus tempat belajar bahasa Sansekerta.

Menurut Ridwan Saidi, dari hasil kajiannya terhadap empat prasasti, yaitu Prasasti Talang Igo, Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Bukit Kapur yang selama ini menjadi referensi kalangan arkeolog dan sejarawan tentang bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya, keempat prasasti tersebut sama sekali tidak membuktikan keberadaan kerajaan tersebut.

Kalangan peneliti, menurutnya, salah saat membaca aksara dalam prasasti. Ia tidak main-main mengkritisi perihal ini karena telah lama mempelajari prasasti-prasasti dan bahasa-bahasa kuno, bahkan telah membukukannya.

Masih menurut Ridwan Saidi, Kerajaan Sriwijaya sebenarnya hanyalah sekelompok bajak laut yang beraktivitas di perairan Nusantara https://www.cnnindonesia.com/(Youtube Macan Idealis, 25/8/2019).

Respons yang muncul pun beragam. Ada yang mengatakan, Ridwan Saidi ngawur dan asal berpendapat, serta tidak memiliki kapasitas karena bukan ahli sejarah Sumatra Selatan. Ada yang mengatakan Kerajaan Sriwijaya tidak menetap di satu tempat, melainkan berpindah-pindah. Bahkan ada yang merespons dengan cara ingin melaporkan Ridwan Saidi ke polisi. (Cnnindonesia.com, 29/8/2019)

Polemik tentang keberadan Kerajaan Sriwijaya menggugah saya membuat judul tulisan dari pernyataan Ridwan Saidi (tidak ada kaitan memang fiktif atau bukan), yang saya hubungkan dengan pertanyaan, jika demikian bagaimana dengan sejarah Kerajaan Jeumpa? Kerajaan yang diyakini banyak orang berada di Gampong (Desa) Blang Seupeung di Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Aceh. Saya dapat membayangkan jika ada orang yang mengatakan sebagaimana halnya terhadap Kerajaan Sriwijaya bahwa Kerajaan Jeumpa yang berada di Bireuen adalah kerajaan fiktif, pasti akan memunculkan polemik yang mungkin lebih keras dibandingkan dengan polemik tentang Sriwijaya.

Mengapa demikian, karena sumber rujukan dari hasil kajian tentang sejarah Kerajaan Jeumpa masih terbilang sangat sedikit sehingga banyak orang tak memiliki pegangan sumber rujukan yang lengkap, apakah itu dalam kajian arkeologi, sejarah, antropologi, ataupun geologi. Dengan mudah, orang akan tersulut emosinya.

Apa yang disampaikan Ridwan tentang Kerajaan Sriwijaya adalah sesuatu yang lumrah dalam dunia ilmu pengetahuan. Ini menjadi tidak wajar apabila orang menyikapinya dengan emosi, sampai-sampai ingin melaporkan Ridwan ke polisi segala. Ada-ada saja. Seharusnya melapor ke lembaga riset atau universitas, bukannya ke kantor polisi.

Saya pernah melakukan kajian awal tentang sejarah Kerajaan Jeumpa. Pernah juga mengajak mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pengantar Antropologi untuk kuliah lapangan di Gampong Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa. Dalam sejumlah tulisan atau pendapat, banyak yang menyebutkan, nama Bireuen awalnya adalah Jeumpa. Sebutan yang diambil dari nama Kerajaan Jeumpa. Awalnya orang sulit menyebut dengan “Champa,” akhirnya berubah menjadi “Jeumpa.” Karena dahulunya daerah ini banyak ditumbuhi pohon jeumpa, tapi sekarang sulit ditemukan. Pohon dengan bunga jeumpa (bungon jeumpa) yang terkenal akan keharuman dan khasiat kesehatannya. Bahasa Indonesianya adalah bunga cempaka (Michelia champaca).

Ada dua pendapat yang berkembang terkait sejarah awal berdirinya Kerajaan Jeumpa. Pendapat pertama, kerajaan ini berdiri pada abad ke-7 atau abad ke-8 Masehi (sama dengan era berdirinya Kerajaan Sriwijaya) yang didasarkan pada ikhtisar Radja Jeumpa karya Ibrahim Abduh yang disadur dari Hikayat Radja Jeumpa.

Jika pendapat ini didukung maka jelas (besar kemungkinan) bahwa Kerajaan Jeumpa bukanlah kerajaan bercorak Islam. Karena sebelum abad ke-13 belum ditemukan bukti yang menguatkan bahwa penduduk pribumi di Nusantara telah memeluk Islam.

Pendapat kedua mengatakan bahwa kerajaan ini berdiri pada abad ke-13 Masehi. Salah seorang yang mendukung pendapat ini adalah Abuwa Daud (Muhammad Daud M Thaib), tokoh masyarakat yang semasa hidupnya menetap di Blang Seupeung. Pendapat kedua ini menunjukkan bahwa Kerajaan Jeumpa kemungkinan telah mendapat pengaruh Islam (dalam Amiruddin Idris & Teuku Cut Mahmud Aziz, 2015).

Hal menarik diamati di Blang Seupeung adalah walaupun jarak gampong dengan pesisir laut terbilang jauh, tapi air sumur di gampong ini masih terasa asin. Jika digali sumur sering ditemukan keong-keong atau kayu yang mengeras (fosil). Gejala fosil tersebut dikarenakan pengaruh air yang masih asin. Cerita Abuwa Daud, pada waktu menggali tanah di Cot Cibrek yang berada di belakang rumahnya, pernah ia temukan pecahan mangkok keramik. Mangkok tersebut ia hadiakan kepada saya untuk bahan penelitian.

Sejarawan alumnus Universitas Leiden berpendapat, Kerajaan Jeumpa merupakan kerajaan Islam yang menjadi wilayah hegemoni dari Kerajaan Pasai. Pada makam Raja Jeumpa tidak ditemukan aksara berukir kaligrafi sebagaimana yang terdapat pada perkuburan Sultan Aceh pada umumnya. Batu nisan berukir kaligrafi diimpor dari Kota Surat (Gujarat) di India. Harganya sangat mahal sehingga yang mampu membelinya pada masa itu adalah kerajaan-kerajaan kaya dan berkuasa seperti Kerajaan Pasai (dalam Amiruddin Idris & Teuku Cut Mahmud Aziz, 2015).

Atas saran Prof Anthony Reid, saya konsultasi pada arkeolog, Prof Edmund Edwards McKinnon. Ia bersaran dilakukan pengkajian mendalam dengan mencari bukti arkeologis di sekitar makam dan lokasi yang diduga bekas Kerajaan Jeumpa. Diperlukan banyak kajian untuk menguatkan bukti sejarah bahwa Kerajaan Jeumpa memang berada di Kecamatan Jeumpa, Bireuen. Hasil kajian ini yang kemudian dipresentasikan melalui seminar (bukan asal seminar) atau konferensi dengan output dibukukan dan dijurnalkan.

Penelitian menjadi metode untuk mendapatkan kebenaran, bukan pembenaran. Filsafat ilmu mengajarkan bahwa kebenaran yang dihasilkan manusia bersifat relatif. Munculnya sosok seperti Ridwan Saidi justru harus disikapi secara bijak tanpa mengedepankan emosi. Polemik dengan saling mengkritisi dibutuhkan agar kita tidak menjadi orang yang gagal dalam memahami hakikat kebenaran dari ilmu pengetahuan, sehingga dapat terus menggunakan akal sehat untuk mau membaca dan meneliti.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved