Berita Aceh Timur
Nelayan Aceh Timur yang Meninggal di Myanmar Ternyata Mantan Kombatan GAM
“Almarhum juga mantan Kombatan GAM. Kita mohon ada perhatian dari pemerintah kepada anak dan istrinya itu," kata Muhammad Akbar.
Penulis: Seni Hendri | Editor: Mursal Ismail
“Almarhum juga mantan Kombatan GAM. Kita mohon ada perhatian dari pemerintah kepada anak dan istrinya itu," kata Muhammad Akbar.
Nelayan Aceh Timur yang Meninggal di Myanmar Ternyata Mantan Kombatan GAM
Laporan Seni Hendri | Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI – Nelayan asal Aceh Timur, Zulfadli (34) yang sudah 12 hari meninggal di Myanmar, baru tadi pagi tiba dan dimakamkan di kampung halamannya, Gampong Buket Pala, Idi Rayeuk, Aceh Timur.
Ia meninggalkan seorang istri, Rosnidar dan dua anaknya Malikul Fadli (8) kelas II SD, dan Muzawir Fadli (5).
Keuchik Buket Pala, Muhammad Akbar yang juga abang ipar almarhum menyampaikan hal ini kepada Serambinews.com, Kamis (10/10/2019).
“Almarhum juga mantan Kombatan GAM. Kita mohon ada perhatian dari pemerintah kepada anak dan istrinya itu," kata Muhammad Akbar.
Menurut Muhammad Akbar, istri almarhum itu adalah guru honor di SDN 3 Idi Rayeuk, sehingga sangat berharap bisa jadi PNS.
"Sedangkan kepada anak-anak almarhum, keluarga juga berharap ada beasiswa dari pemerintah," kata Muhammad Akbar.
Akbar mengatakan keluarga telah mengikhlaskan kepergian Zulfadli, yang merupakan takdir terbaik dari Allah SWT.
“Semoga Allah SWT menempatkan almarhum di tempat yang mulia dan terbaik di sisi Allah SWT,” doa Tgk Akbar.
Baca: Ini Kata-kata Sumpah Pimpinan Definitif DPRK Lhokseumawe Periode 2019-2014
Baca: LK Ara Lahirkan 120 Judul Buku, Sebahagian Dibeli oleh Liberary of Congress Amerika
Baca: BI Lhokseumawe Musnahkan Uang tak Layak Edar Capai Rp 529 Miliar
Seperti diberitakan sebelumnya, setelah 12 hari meninggal di Myanmar, jenazah Zulfadli (34) baru berhasil dibawa pulang ke kampung halamannya di Gampong Buket Pala, Idi Rayeuk, Aceh Timur, Kamis (10/10/2019) pagi.
Almarhum sudah dikubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) kampung itu siang tadi.
Keuchik gampong itu yang juga abang ipar almarhum, Muhammad Akbar, mengatakan jenazah almarhum yang diantar pihak Dinas Sosial Aceh dari Banda Aceh tiba di rumahnya itu Gampong Buket Pala, Kamis (10/10/2019) pagi.
“Setelah kita terima, jenazah kita shalatkan, kemudian jenazah kita kebumikan di pemakaman Gampong Buket Pala. Proses pemakaman selesai pukul 11.00 WIB," kata Akbar seraya mengatakan nanti malam sudah mulai takziah untuk almarhum.
Sebelumnya, Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial Aceh memulangkan jenazah Zulfadli yang dulunya berprofesi nelayan tepatnya nahkoda KM Troya asal Aceh Timur.
Ia ditangkap militer Myanmar, Februari 2019.
Kemudian ia meninggal dunia di Rumah Sakit Kauthaung Hospital Myanmar, 29 September 2019 pukul 22.50 waktu Myanmar.
Kemudian, jenazahnya dipulangkan ke Aceh dan tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar kemarin, Rabu (9/10/2019) sekitar pukul 21.30 WIB.
Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon, Myanmar, ikut mengantar jenazah ini hingga ke Bandara SIM.
Saat tiba di Bandara SIM Blangbintang, jenazah ini disambut pihak Pemerintah Aceh yang diwakili Kepala Dinas Sosial Aceh Alhudri.
Selain itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Anggota DPR Aceh asal Aceh Timur, Iskandar Usman Alfarlaky, Kepala Bidang Linjamsos Sya’baniar SE, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.
Kemudian, pihak Dinsos Aceh langsung membawa pulang jenazah ini ke rumah almarhum.
Saat tiba di kampung halamannya di Gampong Buket Pala, Idi Rayeuk, Aceh Timur, jenazah disambut pihak keluarga, termasuk isterinya, Rosnidar, anaknya, keuchik, dan para pelayat.
Tak hanya istri, anak, orang tua, adi8k, dan abang almarhum, sebagian pelayat pun tak mampu menahan tangis setelah melihat jenazah Zulfadli.
Isak tangis para pelayat sangat terlihat jelas, terutama para kaum ibu-ibu yang tidak sanggup menahan kesedihan atas musibah yang menimpa Rosnidar bersama keluarganya.
Apalagi orang tua almarhum serta para adik dan abang kandungnya, tangisan tak bisa mereka tahan setelah melihat jenazah Zulfadli.
Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri, MM yang diwakili stafnya, Darmaini SE, saat penyerahan jenazah ini mengatakan mengatakan sangat bersyukur, setelah menjalani proses panjang, jenazah almarhum berhasil dipulangkan sesuai keinginan pihak keluarga.
Pada kesempatan itu, Darmaini turut didampingi tim Dinas Sosial Aceh Timur.
Seperti diketahui, Zulfadli adalah nelayan yang ditahan oleh otoritas Myanmar karena ditangkap saat masuk ke wilayah teritorial negara setempat.
"Kita ketahui bersama, Zulfadli bersama 22 rekannya ditangkap oleh pemerintah Myanmar beberapa bulan lalu. Namun rekan-rekannya 22 orang sudah dibebaskan
Sedangkan Zulfadli harus menjalani proses hukum karena almarhum adalah nahkoda atau tekong yang dianggap bertanggung jawab," kata Alhudri saat penyambutan jenazah di Bandara SIM Blang Bintang sebelum diberangkatkan.
Keuchik Buket Pala, Muhammad Akbar, mengucapkan terimakasih kepada pihak Dinas Sosial Aceh serta Dinas Sosial Aceh Timur yang telah membantu proses pemulangan jenaza hingga ke kediaman almarhum.
“Semua kebaikan ini akan dibalas oleh Allah SWT,” ucapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/jenazah-nelayan-aceh-timur.jpg)