Minggu, 10 Mei 2026

Berita Pidie

Peringati Hari Kesehatan Jiwa, Sekolah Sukma Bangsa Pidie Adakan Art dan Write Therapy

Mari kita menikmati hidup secara seimbang, agar kesehatan mental kita tetap terjaga," pungkasnya

Tayang:
Penulis: Muhammad Nazar | Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com
Siswa Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Kamis (10/10/2019), berfoto bersama saat memperingati hari kesehatan jiwa se-dunia di sekolah tersebut 

Mari kita menikmati hidup secara seimbang, agar kesehatan mental kita tetap terjaga," pungkasnya 

Laporan Muhammad Nazar I Pidie

SERAMBINEWS.COM, SIGLI- Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Kamis (10/10/2019), memperingati hari kesehatan jiwa se-dunia di sekolah tersebut.

Peringatan hari kesehatan se-dunia menggelar kegiatan art therapy dan write therapy dengan melibatkan siswa. 

Untuk diketahui art therapy adalah sarana bagi seseorang yang sulit mengkomunikasikan diri secara verbal.

Semetara write therapy atau terapi menulis adalah ekspresi emosional seseorang yang di dalam tulisan banyak sisi yang diungkapkan.

Baca: Tak Penuhi Janji Kampanye, Walikota Ini Diculik Warga Lalu Diikat dan Diseret dengan Truk di Jalan

Baca: Bupati Nagan Raya Silaturahmi dengan Wartawan, Ini Harapannya

Baca: Begini Kata Petani Sawit di Aceh Tamiang Soal Program Replanting

"Peringatan hari kesehatan jiwa se-dunia, guna mengajak masyarakat khususnya warga sekolah Sukma Bangsa Pidie supaya memiliki kesadaran menjaga kesehatan mental," kata Koordinator kegiatan, Izzatul Ummi, kepada Serambinews.com,  Kamis (10/10/2019).

Ia menjelaskan, kesehatan jiwa perlu dijaga, lantaran berbagai penyakit yang menyerang fisik manusia pada dasarnya dari jiwa yang tidak sehat. 

Sehingga, sebut Izza,  kegiatan art therapy dan write therapy dipilih pada peringatan hari kesehatan jiwa.  

Dua kegiatan tersebut, menurutnya, dapat dijadikan sebagai media bagi siswa dan seluruh warga sekolah untuk mengidentifikasi respon emosional serta membantu memperkuat self image. 

Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari, kepada Serambinews.com, Kamis (10/10/2019) menyebutkan, saat ini guru yang mengajar anak didiknya sering dihadapkan dengan berbagai problema yang mengakibatkan guru menjadi stres dan depresi.

Bahkan, kata Martunis, pada akhirnya mampu menurunkan kesehatan mental. Kondisi tersebut tentunya membahayakan bagi kesehatan tubuh secara umum. 

Untuk itu, perlu dipahami work-life balance.  

"Makanya, kita disarankan bekerja secara optimal. Namun,  di luar pekerjaan, kita seharusnya memiliki kehidupan sosial yang menyenangkan baik dengan rekan dan keluarga.

Mari kita menikmati hidup secara seimbang, agar kesehatan mental  kita tetap terjaga," pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved